2019 Mengganti Presiden atau Memilih Presiden?

Oleh: Sabar Hutasoit

 

MENGGANTI pemimpin atau pimpinan sebuah lembaga, baik itu lembaga negara, swasta atau apa saja, adalah hal yang sangat wajar. Apalagi bila sudah tiba saatnya pergantian pimpinan tersebut. Tidak ada yang salah. Ganti saja kalau memang itu keinginannya.

Hanya saja pergantian pimpinan dimaksud harus dilaksanakan sesuai aturan yang berlaku atau melalui proses yang sudah disepekati sebelumnya.

Jadi tidak dibenarkan oleh siapapun, apalagi oleh undang-undang  jika pergantian pimpinan iu dilakukan secara semena-mena. Untuk diketahui, atas perintah undang-undang, pada Pilpres 2019, rakyat Indonesia ditugaskan untuk memilih dan bukan untuk mengganti presiden. Biarlah nanti pilihan rakyat itu yang menentukan siapa yang layak menjadi pemimpin nasional di negeri kita ini.

Nah yang terjadi saat ini, dalam kaitan menuju pesta demokrasi pemilihan presiden (Pilpres) 2019, jauh-jauh hari sudah muncul slogan-slogan bertuliskan #2019GantiPresiden.

Tidak hanya slogan yang diterbitkan, akan tetapi sejumlah kader partai dan yang memperkenalkan dirinya sebagai aktifis, mencoba melakukan aksi dengan mengedepankan tagar tadi.

Dalam aksi tersebut, yang mereka suarakan hanya niat perang, niat mengganti, niat berseteru dan lainnya, tanpa ada satu katapun yang bermuatan perdamaian. Semua seruan itu hanya berisikan perang.

Karena itu kembali ke awal tulisan ini bahwa mengganti pimpinan itu sangat wajar, yah gantilah sesuai aturan.

Yang paling menarik mungkin jika para calon presiden itu ingin menanng pada pemilihan presiden nanti, sebaiknya mereka melakukan adu ide, adu argumentasi, adu program dan berdebat di panggung debat disaksikan oleh dua ratusan juta rakyat Indonesia.

Jika program dan ide serta gagasan yang ditawarkan kandidat itu mengena di hati rakyat selaku konstituen, si calon tersebut  sudah dapat dipastikan akan dipilih rakyat.

OK, kalau demikian, kedua kandidat presiden Indonesia untuk periode 2019-2024, mempersiapkan diri menjual gagasan, ide, kebijakan dan program yang berilian kepada masyarakat.

Seruan Perang

Hindarilah seruan-seruan permusuhan, seruan perang apalagi jika mengutip ayat-ayat kitab suci. Ini sangat berbahaya, politik dicampur aduk dengan agama melalui kutipan ayat-ayat.

Juga akan jauh lebih aman dan nyaman jika para pendukung kedua kandidat itu menghindari adu mulut, menghindari penghinaan apalagi menghina agama.

Pertanyaan kita, kenapa para kandidat beserta pendukungnya tidak adu argumentasi atau ide saja di atas panggung agar pesta demokrasi itu benar-benar dinikmati masyarakat.

Jika para pendukung atau tim sukses kedua capres itu bertarung di atas panggung, rakyat akan bisa menentukan siapa yang layak jadi presiden. Juga dialog di panggung tersebut akan menjadi bahan pelajaran politik bagi semua rakyat Indonesia.

Tapi jika keinginan mengganti presiden dilakukan seperti yang kita saksikan akhir-akhir ini, menjadi tidak benar kalau Pilpres itu disebut pesta demokrasi.

Tidak kelihatan, sedikit-pun nuansa demokrasi yang sejuk, nyaman dan aman. Kesannya adalah perang, bermusuhan dan saling menjelekkan. Malah masyarakat Indonesia sudah semakin was-was, kapan nih meledak. (penulis adalah seorang wartawan)

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar