Ancaman Pemanasan Global Terhadap Infrastruktur

Oleh: Efendy Tambunan

PEMBANGUNAN infrastruktur besar-besaran di sektor energi dan transportasi akhir-akhir ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing Indonesia dan menurunkan biaya logistik di dalam negeri.

Infrastruktur energi dan transportasi banyak berlokasi dekat pantai sehingga rentan terhadap ancaman dinamika air laut. Fenomena pasang surut dan kenaikan air laut setiap tahun dapat mengancam keberlangsungan semua infrastruktur dekat pantai.

Akhir-akhir ini sering terjadi pasang naik tertinggi (rob). Pasang naik ini mengakibatkan infrastruktur transportasi tergenang sehingga menganggu pergerakan moda transportasi. Selain rob, kenaikan laut rata-rata di Asia Tenggara sekitar 3,5 mm per tahun dapat mengancam semua aktivitas manusia dekat pantai.

Menurut the Intergovernmental on Climate Change (IPCC) 2001 pemanasan global akan berkontribusi secara signifikan terhadap kenaikan air laut. Di Indonesia, besarnya pasang surut dan kenaikan air laut bervariasi antara satu kawasan dengan kawasan lain.

Menurut Maritsa Faridatunnisa, dkk (2016) dalam Seminar Nasional 3rd CGISE dan FIT ISI 2016, kenaikan permukaan laut tahun 1997 – 2015 dari Multisatelit Altimetri pada stasiun pasang surut di Pantai Semarang 6,61 mm/tahun dan di stasiun Pantai Parigi 7,6 mm/tahun.

Pantai Timur Sumatera

Pantai Timur Sumatera dipilih sebagai poros maritim dunia melalui program tol laut untuk mengembangkan sektor logistik di Indonesia. Di pantai timur ini terdapat Pelabuhan Belawan, Kawasan Industri Sei Mangkei, pelabuhanbaru yaitu Pelabuhan Kuala Tanjung. Pelabuhan baru ini dikembangkan sebagai “Industrial Gateway Port” yang mengintegrasikan pelabuhan dan kawasan industri.

Pantai Cermin merupakan salah satu kawasan pantai di Pantai Timur Sumatera. Selain dilalui jaringan infrastruktur transportasi, Pantai Cermin juga merupakan salah satu destinasi wisata masyarakat Sumatera Utara.

Berdasarkan survei lapangan yang di lakukan penulis di Pantai Cermin tanggal 21 September 2016, pada saat itu terjadi pasang laut tertinggi (rob) yang menggenangi pelabuhan ikan, permukiman penduduk, railway, area pertanian dan merusak tempat wisata.

Jonson Lumbangaol, dkk (2017) dalam 2nd NIES International Forum di Bali memaparkan bahwa pasang surut air laut (pasut) di Pantai Cermin dari tanggal 6 September hingga 6 Oktober selama Bulan September 2016 sekitar 2 m.

Data Satelit Altimetry selama 23 tahun (1993-2016) menunjukkan bahwa permukaan laut (sea level rise) di Pantai Timur Sumatera naik 5 mm per tahun. Kenaikan air laut ini disebabkan oleh pemanasan global.

Berdasarkan hasil pengukuran penulis dengan tim menggunakan waterpass (water level), beda tinggi antara surut laut terendah dengan daratan rata-rata pantai hanya sekitar 20 cm. Dengan kata lain, kawasan dataran rendah Pantai Timur Sumatera akan terancam tenggelam 50 tahun ke depan.

Penghutanan kembali (reforestering) sepanjang kawasan Pantai Timur Sumatera dengan penanaman pohon bakau (mangroves) akan mengurangi dampak negatif rob dan kenaikan air laut terhadap keberadaan semua infrastruktur dekat kawasan pantai.(penulis adalah dosen tetap Program Studi Teknik Sipil, Univeristas Kristen Indonesia-UKI)

Berita Terkait

Komentar

Komentar