Apa Yang Kaucari, Kawan?

Oleh : Ciptadi

hikmah-hidup

JUDUL tulisan di atas terinpirasi dari sebuah film beberapa puluh tahun yang lalu dengan judul: “Apa yang kaucari, Palupi?” Satu kalimat pertanyaan yang mengandung suatu makna yang dalam dan bukan sekedar suatu kalimat pertanyaan biasa.

Sesungguhnya, kadang-kadang atau bahkan sering kita berhasil mengungkapkan suatu gagasan yang dalam tidak dalam suatu susunan kalimat yang panjang lebar, melainkan hanya dalam suatu rumusan pertanyaan yang singkat dan mengena seperti itu. Barangkali para pembaca juga masih ingat akan suatu pertanyaan yang kemudian menjadi klasik, yaitu: “To be, or not to be: that is the question”, yaitu dari tragedi Hamlet karangan pujangga Shakespeare.

Hamlet adalah tokoh utama dalam tragedi itu yang selalu bersifat ragu-ragu dan pertanyaan itu ditujukan kepada dirinya sendiri, pada waktu ia harus bertindak: membalas kematian ayahnya atau diam saja. Juga pertanyaan itu menjadi sangat terkenal karena rupa-rupanya juga mampu mengungkapkan suatu pikiran yang dalam, yang menggambarkan bahwa manusia selalu berada dalam keadaan konflik pada waktu ia harus mengambil suatu keputusan yang tegas.

Manusia senantiasa bertanya, oleh karena ia ingin mencari makna dari tindakan-tindakannya sendiri. Binatang makan, manusia pun makan. Tetapi kiranya tidak ada di antara binatang yang seperti manusia yang menanyakan kepada dirinya sendiri: “Untuk apakah sebenarnya kita makan?” Binatang makan tanpa banyak berpikir, tetapi manusia mencari maknanya yang lebih jauh. Demikian sifat manusia yang karena ingin mengetahui makna dari semua yang dilakukannya dan dijumpainya, maka ia memendam pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya.

Pertanyaan pada judul tulisan ini menarik perhatian, karena ia benar-benar menunjuk pada masalah yang paling dalam yang harus dihadapi dan diselesaikan manusia. Kalau Palupi mengajukan pertanyaan seperti itu, maka sesungguhnya ia dalam keadaan gelisah dan mencari sesuatu, sehingga orang lain yang memperhatikannya terdorong untuk mengajukan pertanyaan itu kepadanya.

Kami kira yang dicari Palupi bukan kebayanya atau selopnya yang hilang, tetapi sesuatu keadaan samar-samar dan menggelisahkan yang mengeram dalam kalbunya yang dalam. Oleh karena itu, menarik sebagai suatu kasus filsafat. Apa yang terjadi pada Palupi juga dapat menimpa setiap manusia, atau merupakan ciri kemanusiaan pada umumnya seperti telah disebutkan di atas.

Apabila kegelisahan karena mencari terjadi pada kemanusiaan pada umumnya, maka kita dapat mengatakannya sebagai gejala-gejala yang terjadi di dunia ini. Di dalam hubungan ini kita biasa menamakannya sebagai suatu keadaan krisis. Krisis-krisis yang terjadi di dunia ini menggambarkan bahwa pada waktu itu sedang terjadi suatu proses mencari bentuk-bentuk kehidupan dan pegangan baru, yang dianggap lebih baik. Pada saat seperti itu biasanya terjadi goncangan-goncangan dalam masyarakat dan pada saat-saat seperti itulah waktunya untuk mengajukan pertanyaan: “Apa yang kaucari, kawan…?”

Sekali lagi, dengan rumusan yang sederhana kita dapat mengatakan bahwa pada waktu seperti itu manusia berusaha mencari norma-narma baru, pegangan-pegangan baru, patokan-patokan kehidupan baru, oleh karena yang lama dianggapnya kurang dapat memenuhi atau memuaskan dirinya. Tetapi celakanya, proses mencari dan menemukan pegangan ini adalah proses yang melakukan suatu pilihan dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan yang akan dijadikan pegangan hidup. Jadi kalau manusia tidak dapat menemukan pilihan yang tepat maka ia akan terus terhanyut dalam putaran arus mencari dan mencari!

Untuk menemukan jawaban yang tepat terhadap pertanyaan tersebut sungguh tidak mudah, karena kalau diikuti maka pertanyaan tadi mengarah pada masalah-masalah paling dalam yang dihadapi oleh manusia. Agar kita dapat memberikan jawaban yang tepat, kita dapat menguraikan pertanyaan pokok tadi ke dalam beberapa “sub pertanyaan lainnya, seperti: Dimanakah sesungguhnya posisi kita? Berasal dari mana dan mau kemanakah kita? Apakah sesungguhnya yang kita inginkan?”

Dengan menguraikan pertanyaan pokok tadi ke dalam pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut di atas maka kita berusaha untuk memberikan jawaban yang tepat terhadap pertanyaan yang pokok. Dengan jawaban yang tepat berarti kita juga telah menentukan pegangan yang tepat dalam hidup ini, sehingga berhentilah menjadi orang yang gelisah.

Sub pertanyaan pertama, adalah mengetahui posisi kita dengan tepat di dalam hidup ini, merupakan persyaratan yang utama, untuk menentukan pegangan hidup yang sempurna. Tidak hanya posisi kita terhadap benda yang ada di sekeliling kita atau terhadap sesama manusia, tetapi terutama sekali terhadap Maha Kekuasaan yang meliputi seluruh alam dan seisinya ini.

Kalau misalnya kita hanya menentukan posisi kita di dunia ini berdasarkan kepada keduniawian, maka hasilnya juga akan menggambarkan bahwa kita merupakan manusia yang terikat kepada ukuran-ukuran kebendaan. Ukuran kebendaan sesungguhnya tidak dapat dijadikan pegangan yang sempurna. Adapun posisi manusia yang paling tepat: manusia adalah hamba Tuhan, berada dalam kekuasaan Tuhan, karena manusia diciptakan Tuhan, tiada yang benar selain Allah, hanya Tuhanlah Sembahan sejati manusia.

Apabila posisi kita telah dapat ditentukan dengan tepat, yaitu sebagai hamba Tuhan yang berada dalam Mahakuasa-Nya, maka dengan mudah pula dapat dijawab pertanyaan kedua, yaitu kita berasal dari Tuhan dan seharusnyalah kita kembali kepada-Nya juga. Dengan demikian pula terjawab sekaligus pertanyaan yang pokok, yaitu: bahwa kita ingin kembali kepada asal mula hidup manusia, yaitu Tuhan, yang kalau diterjemahkan dalam ukuran dunia ini menjadi suasana “keselamatan, ketenteraman dan kemuliaan abadi.”

Demikianlah kiranya penguraian terhadap pertanyaan di atas, yang apabila kita ingin menemukan jawab yang tepat tidak bisa lain kecuali kembali pada kesadaran sebagai hamba Tuhan.***

Berita Terkait

Komentar

Komentar