At Home

Oleh: Fauzi Aziz

LONG weekend seperti setiap Sabtu dan Minggu adalah hari-hari menyenangkan bagi siapapun. Kita bisa beraktivitas apa saja sesuka hati. Yang penting tetap membawa berkah dan manfaat bagi kehidupan.

Ketika kita beraktifitas, datang ke satu tempat, hal yang terpikir oleh kita adalah semoga tempat ini aman dan nyaman untuk keperluan apa saja. Apakah sekedar berwisata, berinvestasi atau apapun. Kita selalu memerlukan satu keyakinan bahwa disitu kita akan mendapatkan rasa aman dan nyaman seperti ketika kita melakukan perjalanan jauh naik pesawat atau kapal laut tidak ada satu titikpun gangguan.

Ketika tiba di tempat tujuan dan tuan rumah yang menjemput kita menanyakan bagaimana perjalanan, spontan jawaban menyenangkan yang akan muncul. Perjalanan berlangsung penuh suka cita, aman dan nyaman.

Perasaan yang sama tentu diharapkan ketika tamu sudah masuk ke daratan, tempat tamu-tamu tinggal. Jaminan keamanan dan kenyamanan telah membuat manusia dari manapun asalnya betah berada di tempat tujuan. Aman berarti jasmani dan rohaninya terlindungi. Nyaman berarti perasaan kita tidak stres, was-was atau galau, trust dan confidence-nya merasa tidak terganggu.

Aman dan nyaman menjadi daya tarik utama bagi siapapun untuk saling berkunjung. Tetapi bila sebaliknya, mereka pasti akan segera pergi karena muak dan meresahkan. Mereka tak mendapatkan apa yang dicari, kecuali hanya ketidakpastian dan kegaduhan.

Mereka merasa tidak mendapatkan berkah dan manfaat ketika datang ke satu tempat yang dituju karena tidak ada jaminan keamanan maupun kenyamanan. Ketika faktor keamanan dan kenyamanan berada dalam lingkungan ekonomi, kedua faktor tersebut merupakan pembentuk daya saing paling hakiki. Faktor-faktor yang lain hanya pelengkap.

Kepergian mereka itu bukan karena bosan atau stres tetapi mereka pergi untuk kembali membawa rombongan lebih besar lagi untuk mendapatkan berkah dan manfaat ketika berinvestasi di kampung kita yang ijo royo-royo, gemah ripah dan toto tentrem karto raharjo.

Sebagai kosmolitan, pasti hiruk pikuk. Macet disana-sini adalah hal yang biasa. Tapi ketika rasa aman dan nyaman tetap didapatkan, mereka akan betah, merasa at home. Kedatangan Raja Salman dengan 1500 rombongannya ke Indonesia (1 – 9 Maret 2017) sebuah pertanda, mereka memandang negeri ini tempat yang cocok untuk menambah berkah dan melakukan aktifitas yang bermanfaat bagi Arab Saudi dan Indonesia.

Semoga sebentar lagi Raja-raja lain dari Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Qatar dan lain-lain datang ke Indonesia dengan maksud dan tujuan serupa.

Sadar atau tidak, sebenarnya fenomena ekonomi yang kian tumbuh sudah mulai mengarah dan bergeser ke doktrin yang lebih humanis, yakni happiness economy yang bisa mendatangkan kepuasan material juga kepuasan sosial, spiritual dan emosional.

Happiness economy yang menyatu dalam satu sistem ekonomi baru, antara lain melahirkan satu pandangan ekonomi seperti dilontarkan Muhammad Yunus dengan konsepnya yang diperkenalkan dengan istilah “sistem kapitalisme baru yang memihak kaum miskin”.

Happiness economy bersifat demanding karena manusia membutuhkan keseimbangan hidup. Rasa aman dan nyaman menjadi salah satu bentuknya. Di New York tempat triliun dolar AS berputar, kita masih bisa menikmati Central Park, merupakan taman hutan yang rindang dan luas di tengah kota New York tempat warga AS dan dunia bisa bersantai setiap akhir pekan.

Kita juga senang datang ke Singapura, karena di negeri ini kita mendapatkan keamanan dan kenyamanan. Di Singapura yang paling menyenangkan adalah jalan-jalan santai di sepanjang Orchard Road yang rapi dan rindang dengan udara yang bersih dan segar, apalagi sehabis hujan turun.

Lee Kuan Yew arsiteknya. Dengan keyakinannya mengatakan lanskap kota yang carut marut dan hutan beton akan merusak jiwa manusia. Kita memerlukan penghijauan alam untuk menyegarkan jiwa kita. Inilah dasar-dasar happiness economy dibangun. Indonesia sebagai negara kepulauan tentu memiliki potensi untuk membangun happiness economy karena kita adalah bangsa yang berbudaya dan berjiwa gotong royong.

Kita mengharapkan kepada pemerintah dan seluruh komponen masyarakat dapat mewujudkan Indonesia yang aman dan nyaman untuk berkegiatan apa saja di negeri ini. Pandangan ini sederhana. Tidak rumit.

Prinsipnya kita harus menjadi tuan rumah yang baik menerima siapa saja yang akan mencari berkah dan manfaat di Indonesia. Welcome to Indonesia dalam semangat yang sama membangun happiness economy untuk kebahagian bersama, diantara negara yang melakukan kemitraan.

Kita ciptakan zona aman dan nyaman agar investor, wisatawan yang datang berinvestasi dan melancong di 17 ribu pulau mendapatkan berkah dan manfaat sehingga mereka tidak buru-buru meninggalkan negeri ini gara-gara bosan karena suasananya gersang dan tidak bersahabat.

Kita berharap mereka yang datang ke Indonesia tidak sekedar gambling melakukan casino capitalism dan sekedar berspekulasi mencari peruntungan sesaat, habis itu kabur. Keamanan dan kenyamanan yang kita ciptakan adalah untuk menciptakan happiness economy, bukan untuk gambling dan spekulasi.

Se moga Indonesia menjadi lahan yang subur untuk berinvestasi dan berwisata yang memberikan rasa aman dan nyaman kepada para pihak seperti Raja Salman dan rombongan. Dengan demikian kita bisa menggunakan pendekatan menjadi tuan rumah yang baik untuk meningkatkan portofolio bangsa ini, baik secara politik, ekonomi dan budaya karena attitude dan behaviour kita sebagai bangsa yang bermartabat dan beradab. (penulis adalah pemerhati sosial, ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar