Bangun Satu Unit Kapal BBG Sama Dengan Bangun 4 Kapal Biasa

026768200_1415684560-FOTO

BANDUNG, (tubasmedia.com) – Daripada membangun kapal baru yang menggunakan bahan bakar gas bumi, lebih baik mendorong dunia usaha untuk membangun industri komponen kapal di dalam negeri. Pasalnya, hingga kini Indonesia mengimpor sekitar 65 persen komponen kapal sementara membangun kapal dengan bahan bakar gas, investasinya amat besar.

Demikian Penasehat Ikatan Perusahan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Tjahjono Rusdianto dalam diskusi bertema “Membedah Harga Gas untuk Industri” yang digelar Forum Wartawan Industri (Forwin)) di Bandung, Jumat. Pelaku industri galangan kapal lanjutnya belum siap melakukan konversi pemakaian bahan bakar minyak (BBM) ke gas bumi karena konversi tersebut membutuhkan investasi besar.

“Kalau pemerintah menginginkan adanya konversi konstruksi kapalnya harus dibehani dulu, selain itu akan membutuhkan investasi yang lebih besar lagi karena fasilitas pembangunannya lebih lengkap,” ujarnya.

Tjahjono menjelaskan, pengertian konversi BBM ke gas bumi yang diminta pemerintah masih belum dijelaskan secara rinci, mulai dari pengaturan mesin, tipe gas yang dipakai, dan infrasturktur suplai gas. Hal yang perlu diperhatikan adalan infrastruktur gas di dalam negeri yang selama ini masih belum mumpuni.

“Misalnya untuk engine kita cukup tambah konversinya saja atau diubah mesinnya,” kata Tjahjono. Selain itu, pemerintah juga perlu memikirkan gas supply infrastruktur, yakni tempat pengisian bahan bakar gas.

Tjahjono mengatakan, selama ini apabila kapal ingin mengisi bensin yakni melalui bunker. Artinya, jika konversi bahan bakar gas ini dilaksanakan, maka perlu ada kapal pengangkut gas yang berfungsi sebagai bunker.

Hal yang tak kalah penting yakni perlu ada analisis pasar dan nilai ekonomisnya. Menurut Tjahjono, memang dengan menggunakan gas bumi dapat menghemat bahan bakar. Namun mesin dengan bahan bakar gas harganya bisa tujuh kali lipat lebih mahal ketimbang mesin kapal yang berbahan bakar diesel.

“Kesimpulannya ada tiga hal yang perlu dilakukan untuk konversi ke gas, yaitu perlu teknologi tinggi, safety, dan investasi mahal,” kata Tjahjono.

Disebutkan bahwa sebenarnya, industri galangan kapal nasional mendukung program konversi BBM ke BBG (gas), sayangnya harga gas masih tinggi. Penggunaan mesin berbahan bakar gas di perkapalan, sangat mungkin terjadi. Sejauh ini, sudah ada beberapa kapal di sejumlah negara yang mengadopsi mesin berbahan bakar gas.

“Ya itu mungkin digunakan. Kami sebagai industri tentu siap, kami kan membuat, tergantung permintaan klien kami,” katanya.

Namun, dia pesimis dengan permintaan pembangunan kapal berbahan bakar gas di Indonesia. Pasalnya, dana yang diperlukan untuk membangun kapal berbahan bakar gas, jauh lebih mahal ketimbang kapal BBM.

“Ya karena dapat saya katakan masih mahal. Investasinya bisa tiga sampai empat kali lipat dari kapal biasa,” ujar Tjahjono. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar