BDI Yogyakarta Terapkan Sistem Jemput Bola

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

BERI KETERANGAN – Kepala BDI Yogyakarta, Ir Iswahyuni MScE (kanan) didampingi Kepala Tata Usaha BDI, Yulian saat memberi keterangan kepada wartawan (tubasmedia.com/sabar hutasoit)

YOGYAKARTA, (TubasMedia.Com) – Balai Diklat Industri (BDI) Regional IV Yogyakarta akan menerapkan sitem ‘jemput bola’. BDI sebagai subsistem pendidikan dan pelatihan di bawah Pusdiklat Industri Kementerian Perindustrian menyadari jika pelatihan diselenggarakan di daerah-daerah, akan lebih efisien dan lebih tepat.

“Istilahnya jemput bola,” kata Kepala BDI Yogyakarta, Ir Iswahyuni MScE didampingi Kepala Tata Usaha BDI, Yulian dalam perbincangan dengan TubasMedia.Com di ruang kerjanya, Kamis pekan siang.

Dari sisi pembiayaan katanya, akan lebih ringan jika sebuah pelatihan diselenggarakan di daerah. Diberi contoh, jika dari satu daerah tercatat 40 orang yang mengikuti pelatihan, biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih ringan jika pelatih dari BDI Yogyakarta yang menghampiri daerah tersebut ketimbang ke-40 orang itu didatangkan Yogyakarta.

“Dan sistem itu sudah mulai kami terapkan. Hasilnya sangat memuaskan kedua pihak, baik pelatih maupun yang dilatih,” kata Yulian menambahkan.

Disebutkan, BDI merupakan lembaga pemerintah yang memiliki tanggung jawab besar untuk membangun bangsa melalui pendidikan dan pelatihan. Karena itu BDI Yogyakarta harus selalu eksis dalam setiap upaya pembaharuan pendidikan khususnya pendidikan dan pelatihan kepemimpinan, teknis, fungsional dan dunia usaha di sektor industri.

Menyadari posisi tersebut seluruh unsur pimpinan dan staf BDI Yogyakarta telah berkomitmen untuk menjadi lembaga diklat yang berstandar internasional, sebagaimana tertuang dalam visi BDI Yogyakarta yaitu : ”Menjadi Lembaga Diklat yang Profesional dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia Aparatur dan Dunia Usaha pada Tahun 2020“.

Menjawab pertanyaan dikatakan bahwa pihak BDI sering kesulitan untuk melakukan pelatihan di beberapa daerah. Penyebabnya, pejabat setempat sering tidak memahami dan tidak menguasai apa-apa saja kebutuhan daerah yang dipimpinnya, khususnya kepentingan dunia usaha.

Ir. Iswahyuni, M.ScE adalah pimpinan baru di BDI Yogyakarta menggantikan Drs. Abdillah Benteng, M.Pd yang acara serahterima dilakukan Kepala Pusdiklat Industri Kementerian Perindustrian Drs. Mujiyono, MM, 23 Mei 2012 sedangkan Iswahyuni sebelumnya merupakan dosen senior pada Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta.

Sementara itu, Mujiyono menyatakan BDI Yogyakarta akan dikonsentrasikan sebagai Pusdiklat industri kecil khusus kerajinan, logam dan plastik,. Tujuannnya agar penanganan sektor-sektor khusus lebih terkonsentrasi.

Dikatakan, permasalahan pembangunan industri yang dihadapi dan potensi unggulan yang dimiliki serta pembangunan industri di daerah memerlukan arah yang jelas, fokus dan berkelanjutan.

Oleh karena itu pembangunan industri di daerah dilakukan dengan pendekatan kompetensi inti industri daerah. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar