Berbisnis dengan Memanfaatkan Teknologi Digital

BERBINCANG – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Plt. Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar berbincang-bincang dengan Rektor UPN Veteran Jakarta, Prof Dr Ir Eddy S Siradj, MSc Eng (kiri) serta Marsda TNI Dr Usra Hendra Harahap MSi (kanan) sebelum Seminar Nasional Move on Competitive Advantage Indonesian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” di Jakarta, 25 Februari 2017.-tubasmedia.com/ist
JAKARTA, (tubasmedia.com) – Indonesia perlu meningkatan daya saingnya di tengah pertarungan pasar bebas, baik tingkat regional maupun global. Salah satunya dengan memacu penumbuhan wirausaha dan pembangunan industri nasional dan langkah ini memerlukan sinergi aksi dari seluruh bangsa, termasuk kontribusi generasi muda.

“Banyaknya penduduk kita yang akan masuk usia produktif, harus disikapi dengan tersedianya iklim usaha yang sehat. Kami berharap tumbuh pengusaha muda bermunculan dalam memanfaatkan bonus demografi tersebut,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ketika memberikan keynote speech pada Seminar Nasional dengan tema Move On Competitive Advantage Indonesian yang diselenggarakan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran di Jakarta, Sabtu (25/2).

Sebagai gambaran, Indonesia diprediksi mendapatkan bonus demografi pada tahun 2020-2030. Bonus demografi adalah jumlah angkatan kerja dengan usia 15-64 tahun mencapai 70 persen. Sedangkan, 30 persen penduduknya berusia tidak produktif, yaitu usia 14 tahun ke bawah dan di atas 65 tahun.

Dalam hal ini, Menperin mengajak para mahasiswa UPN Veteran selaku generasi muda Indonesia untuk berbisnis dengan memanfaatkan teknologi digital.

“Kementerian Perindustrian telah membangun e-smart IKM untuk memfasilitasi bagi para perintis usaha. Sistem terintergasi tersebut akan memudahkan produsen dan konsumen bertransaksi dengan gadget-nya masing-masing,” paparnya.

Perlu diketahui, setiap negara membutuhkan sekitar dua persen wirausaha dari jumlah penduduknya agar perekonomiannya dapat stabil dan maju. Sementara populasi wirausaha di Indonesia, baru mencapai 1,65 persen.

Hal tersebut sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2014-2019, yaitu penumbuhan populasi industri dengan menambah sekitar 9.000 unit usaha industri berskala menengah dan besar, dengan 50 persen tumbuh di luar pulau Jawa dan tumbuhnya industri kecil sebanyak 20.000 unit usaha.

“Saat ini, sesungguhnya industri di Indonesia berada pada posisi yang unggul dan diperhitungkan di dunia,” tegas Airlangga.

Capaian ini berdasarkan data United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) tahun 2016, yang menunjukkan Indonesia berada di peringkat ke-10 atau di atas negara Inggris, Rusia, dan Meksiko.

Oleh karena itu, Kemenperin terus mendongkrak potensi industri dalam negeri. Misalnya, memperdalam struktur dan rantai nilai manufaktur melalui hilirisasi agar meningkatkan nilai tambah atas setiap sumber daya alam yang dihasilkan.

“Kami juga sedang mendorong pengembangan sepuluh industri padat karya yang berorientasi ekspor seperti industri alas kaki, industri pengolahan ikan dan rumput laut, industri furniture kayu dan rotan, serta industri kreatif,” sebutnya. (ril/sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar