Belajar dari Konflik Jepang-China Soal Pulau

Terbit 27 September 2012 - 14:38 WIB | Dibaca : 1030 kali

Oleh: Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

KEDUA bangsa kulit kuning di Asia Timur, saat ini sedang berebut dan berselisih menyangkut gugusan pulau di Kepulauan Senkaku atau Diaoyu. Lebih seru lagi, Taiwan ikut nimbrung, yang juga merasa negaranya ikut memiilki wilayah itu.

Kalau pulau itu hanya sekadar tempat jin buang anak atau belantara yang kering-kerontang mungkin tidak akan terjadi perebutan. Tapi, konon kepulauan yang Jepang namai Senkaku dan China sebut Diaoyu, menyimpan gas yang depositnya besar dan perairannya kaya akan ikan. Maka, peristiwa tersebut ujung-ujungnya menyangkut soal kedaulatan energi dan pangan.

Sampai hari ini belum ada tanda-tanda konflik itu akan dapat segera diakhiri, meskipun perundingan tingkat tinggi sudah dilakukan oleh kedua negara, Jepang dan China. Dilihat dari geopolitik dan geoekonomi, konflik itu luar biasa, karena kedua negara adalah leader ekonomi di Asia, bahkan dunia. Dua-duanya juga terimbas dampak krisis utang di zona euro dan krisis fiskal di AS.

Yang secara nyata sudah terjadi, antara lain, Jepang telah menutup pabrik otomotifnya di China, dan sampai kapan tidak jelas. Begitu pula waktu digelar Japan Open beberapa minggu yang lalu, pebulutangkis China tidak mengirimkan atletnya. Meskipun China tidak datang, namun atlet bulutangkis Indonesia tak satu pun yang mendapat gelar juara. Simon, di single putra, kalah pada perempat final dan Liliana Natsir dan Rizal kalah di final pada ganda campuran. Kupikir, kata orang Medan, kita akan menggondol sejumlah gelar juara di event tersebut, eh ternyata semuanya tengkurap dan pulang tak bawa apa-apa.

Negara kita sebenarnya tak jauh beda dari China dan Jepang. Kita juga berkonflik dengan Malaysia soal Pulau Sepadan dan Ligitan. Tapi, tidak seseru seperti konfliknya Jepang dan China, karena Indonesia pakai jalur diplomasi. Sesama pengemudi bus kota tidak boleh saling mendahului, maka Sepadan dan Ligitan secara tulus dan ikhlas diserahkan menjadi milik Malaysia, karena dari awal pulau itu dirawat oleh Malaysia. Timor Timur juga direlakan menjadi terpisah dari NKRI dan menjadi negara merdeka dengan nama Timor Leste.

Semoga tidak ada yang lain lagi. Perlu dicatat wahai saudaraku, sebangsa dan setanah air, bahwa negeri ini memiliki sekitar 17.000 pulau besar dan pulau kecil. Yang berpenghuni dan dihuni oleh manusia hanya sekitar 6.000 pulau. Berarti masih tersisa 11.000 pulau yang tidak berpenghuni. Mengenali nama-nama pulau yang berpenghuni saja susah. Kalau Anda coba bertanya kepada Menteri Kelautan dan Perikanan tentang nama ke-6.000 pulau itu, yakinlah beliau pasti tidak tahu. Ampun lagi kalau ditanya nama pulau yang 11.000 tak berpenghuni pasti kita semua tidak tahu.

Apa isinya, juga kita tidak tahu. Tapi, percayalah pasti isinya tidak akan jauh dari kandungan bahan pangan dan energi. Suatu hari bisa saja tiba-tiba menjadi rebutan negara lain yang lagi mencari-cari lahan dalam bentangan yang luas sebagai sumber pangan dan energi masa depan.

Konsep “Sewa-Beli”

Meskipun sudah dibantah secara resmi oleh pemerintah, isu soal jual pulau sempat mencuat ke publik. Jawaban yang muncul, kalau tidak salah boleh jadi kalau hanya disewa untuk membangun resor.

Bagaimana Bang, kalau posisi perjanjiannya dibuat dengan konsep “sewa-beli”? Ah, mengada-ada saja pertanyaan Anda ini, emangnya negara ini makelar tanah. Bisa jadi Bang, karena sikap kita ini suka menggampangkan, suka instan berpikirnya, yang penting fulus. Tak ada fulus mampus. He, he, kurang ajar kalian. Betul Bang, apalagi kita ini suka ada yang hobi selingkuh, main di belakang layar dan di bawah tangan, tahu-tahu lahan kita sudah dipatok dan dikuasai pihak lain.

Ini terjadi di depan mata kita Bang, bukan di 11.000 pulau yang tak berpenghuni. Nah, kalau sudah seperti ini dan melihat konflik Jepang-China soal Senkaku atau Diaoyu, tentu ada hikmah dan pelajaran yang harus dapat kita petik.

Pertama, Indonesia sebagai negara kepulauan yang terbingkai dalam NKRI harus kita rawat untuk kemaslahatan bersama.

Kedua, dengan alasan apa pun, tidak satu pihak pun di negeri ini yang berhak menguasainya karena bumi, air dan yang ada di di dalamnya adalah aset bangsa dan diolah untuk kepentingan bangsa Indonesia guna membangun kesejahteraan dan kemakmuran kita semua.

Ketiga, sistem keamanan dan pertahanan semesta harus diberdayakan dan diperkuat untuk menjaga dan melindungi seluruh kepulauan kita dari Sabang sampai Merauke.

Keempat, berapa pun luasnya, negara harus mengupayakan agar batas-batas wilayah kepulauan kita harus jelas dan kepemilikannya dari awal sudah dideklarasikan berdasarkan hukum nasional sebagai hak milik mutlak negara Indonesia. Ibaratnya harus ada sertifikat hak milik dan di antara kita tidak boleh saling memperebutkan demi dan atas nama apa pun. Perilaku kanibal harus dicegah dan kalau sampai terjadi harus ditindak agar tidak menimbulkan konflik internal.

Kelima, setiap bentuk ancaman dan gangguan harus dicermati dengan kewaspadaan tinggi. Sistem deteksi dini harus berfungsi prima dan tidak dibiarkan bila ditemukan gejala terjadinya pelanggaran.

Keenam, seluruh bangsa Indonesia harus dibangun semangatnya bahwa Indonesia adalah milik kita semua. Tempat di mana kita lahir dan dibesarkan.Tempat di mana kita harus bekerja keras dan bekerja sama erat membangun Indonesia Raya untuk kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Kita tidak boleh menjadi bangsa yang lemah dan menjadi bangsa yang dengan gampangnya “melacurkan diri” hanya karena sesuap nasi, kemudian dengan sadar menjual tanah-air.

Ketujuh, sikap nasional kita harus tegas, ketika ancaman dan gangguan sudah benar-benar datang dan terjadi di depan mata, seperti yang ditunjukkan oleh Jepang dan China, meskipun akhirnya akan bisa selesai di meja perundingan. Kita tidak boleh lagi berdiplomasi dengan semboyan, “sesama sopir bus kota tidak boleh saling mendahului”. Nanti wibawa kita bisa rontok dan kita dianggap lembek dan mudah diatur. ***

Tweets

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

HTML tags are not allowed.

Copyright © 2011-2012 TubasMedia.com - All Rights Reserved - Berita Terkini - Profil - Info Iklan - Feed Berita - Feed Komentar - Go Mobile
Facebook button Twitter button RSS button