Importir Kedelai Kuasai Pasar Indonesia

Terbit 25 Juli 2012 - 14:30 WIB | Dibaca : 545 kali

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

JAKARTA, (TubasMedia.Com) – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menilai lonjakan harga kedelai di dalam negeri belakangan ini bukan hanya dipicu faktor eksternal harga kedelai dunia. Penyebab lainnya adalah permainan di dalam negeri oleh para importir kedelai yang selama ini menguasai kedelai impor.

Ketua Harian HKTI Sutrisno Iwantoro mengatakan, kenyataan ini sudah berlangsung lama dan selalu terulang. Dia mempertanyakan peran pemerintah untuk turun tangan mengatasi masalah ini.

“Impor kedelai ini ada di tangan beberapa importir, ada 5-6 importir besar. Saya kira jangan sampai kelima importir besar menguasai pasar Indonesia. Memungkinkan mereka membentuk kartel impor kedelai,” kata Sutrisno.

Seperti diketahui, para produsen tahu dan tempe yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gaptindo) berencana untuk mogok produksi selama 25-27 Juli 2012 lantaran harga kedelai melonjak dari Rp6.000 menjadi Rp 8.000/kg.

Ancaman ini membuat pemerintah cemas mengingat kedelai adalah bahan baku utama untuk membuat tahu dan tempe sebagai penganan penting di Indonesia, karena itu Kementerian Perindustrian berjanji akan mencarikan solusi.

Kenaikan harga kedelai itu sendiri dipicu beberapa negara produsen seperti AS, Brasil, Afrika, dan lain-lain terjadi musim kemarau. Ini membuat ekspektasi penurunan produksi kedelai pada September nanti sehingga mengerek harganya hingga US$ 17 per bushel, padahal sebelumnya berada di titik terendah US$ 8-US$ 12 per bushel.

Surtrisno menganggap harga kedelai di dalam negeri saat ini sudah tak wajar. Kenaikan harga ini, menurutnya, sudah identik dengan praktik kartel.”Ini bisa diperiksa KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) apabila ada dugaan kartel, kartel indikasinya ada kenaikan harga berlebihan. Ada baiknya mereka (importir) menyadari itu,” katanya.

Forum Tempe Indonesia (FTI) mencatat Indonesia masih mengimpor kedelai sedikitnya sekitar 1,4 sampai 1,6 juta ton per tahun. Kebutuhan nasional bisa mencapai 2,2 juta ton per tahun dan Indonesia hanya produksi 600 ton sampai 800 ribu ton per tahunnya.

Impor dari Malaysia

Dirjen Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian Euis Saedah mengakui,saat ini produksi kedelai dalam negeri hanya mampu mencukupi 10% dari total kebutuhan. Indonesia sangat tergantung barang impor dan hanya segelintir importirnya, sehingga harga mudah dipermainkan.”Produksi kita kecil, sedikit sekali, hanya 10%. Impor kita sangat besar sekali,” ungkap Euis.

Menurut Euis, total impor kedelai tahun lalu mencapai 1,6 juta ton, dan sebanyak 70% dari angka tersebut diserap untuk produksi tahu dan tempe, sementara 30% sisanya digunakan untuk produksi susu.”Di 2011 impor kita mencapai 1,6 Juta ton, di mana 70% terserap untuk tahu dan tempe, sisanya untuk susu, di tahun 2012 sama komposisinya,” tambahnya.

Angka itu masih tergolong kurang jika dibanding dengan kebutuhan kedelai dalam negeri yang mencapai 2,2 juta ton. “Kebutuhan nasional kita 2,2 juta ton” imbuhnya.

Euis menambahkan, nantinya perusahaan-perusahaan besar itu akan menjadi pemasok utama para IKM-IKM produsen tahu dan tempe. “Itu perusahaan besar dilakukan kontrak panjang dengan koperasi kedelai sebagai pemasok ke IKM-IKM,” jelasnya.(sabar)

Tweets

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*

HTML tags are not allowed.

Copyright © 2011-2012 TubasMedia.com - All Rights Reserved - Berita Terkini - Profil - Info Iklan - Feed Berita - Feed Komentar - Go Mobile
Facebook button Twitter button RSS button