Ironis, Jakarta Kekurangan Bahan Baku Air Bersih

Terbit 17 Desember 2012 - 10:00 WIB | Dibaca : 1581 kali

Oleh: Anthon P.Sinaga

Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA yang sering dilanda banjir air bah, ternyata kekurangan air baku untuk diproses menjadi air bersih. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) milik Pemda DKI Jakarta yang disubkontrakkan ke dua perusahaan asing, yakni PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) dan PT Aetra Air Jakarta (Aetra), baru-baru ini mengeluhkan kekurangan air baku, padahal ada 13 sungai besar dan 76 anak-anak sungai yang mengalir melintasi kota Jakarta. Memang, ironis, kalau Jakarta kekurangan air baku.

Disebutkan, bertahun-tahun Provinsi DKI Jakarta untuk pengadaan air bersih, amat bergantung pada daerah sekitarnya. Yakni sumber air baku dari Bendungan Juanda (Jatiluhur) Purwakarta, dan air baku dari sumber air curah dari Tangerang. Bahkan, Pemprov DKI Jakarta pernah berwacana membuat pipa raksasa dari Jatiluhur ke Jakarta, khusus menyedot air baku untuk diproses menjadi air bersih. Padahal, setiap tahun Jakarta kebanjiran air hujan. Kalau wacana ini terjadi, betapa besarnya biaya untuk pembangunan pipa raksasa dari Purwakarta – Jakarta tersebut dan dampak buruknya juga terhadap lingkungan yang dilalui, serta fungsi utama irigasi Bendungan Juanda untuk persawahan di Jawa Barat menjadi berkurang.

Sekiranya air yang mengalir di 13 sungai besar dan 76 anak sungai di Jakarta dapat dimanfaatkan untuk bahan baku air bersih, keluhan seperti ini tidak akan pernah terjadi. Sayangnya, sungai-sungai di Jakarta memang tidak terpelihara dan masih bebas digunakan sebagai tempat pembuangan sampah terpanjang, serta debit airnya juga belum bisa terjaga tetap stabil. Untuk itulah perlu kerja keras menjaga kebersihan sungai-sungai serta kerja sama manajemen sungai antara Pemerintah Pusat, Pemprov DKI Jakarta dan Pemerintah Daerah di bagian hulu maupun daerah yang dilalui oleh aliran sungai-sungai tersebut.

Palyja, salah satu mitra PDAM Jaya, memang sudah memanfaatkan air sungai (Kali) Krukut di Cilandak, sebagai bahan baku yang diproses menjadi air bersih sejak 1998 dengan produksi sebanyak 400 liter per detik. Selain dari Kali Krukut, Palyja juga memanfaatkan air baku dari sungai buatan Cengkareng Drain dengan produksi air bersih 120 liter per detik.

Menurut Meyritha Maryanie, Coorporate Communications and Social Responsibilities Head, Palyja, sumber utama air baku Palyja, adalah dari Bendungan Juanda Jatiluhur sebanyak 5.600 liter per detik. Selebihnya Palyja membeli air curah dari Tangerang sebanyak 2.500 – 2.800 liter per detik. Saat ini total produksi air bersih Palyja 8.300 hingga 8.400 liter per detik. Padahal jumlah pelanggan terus bertambah dari semula 200.000 pelanggan, sekarang menjadi 414.000 pelanggan. Sehingga, banyak permintaan pelanggan tidak bisa terpenuhi, karena terbatasnya air baku.

Pemanfaatan 13 Sungai

Selain pemanfaatan Kali Krukut, Direktur Utama PD PAM Jaya, Sri Widayanto Kaderi, mengatakan, pihaknya juga berencana memanfaatkan Kali Pesanggrahan untuk menambah bahan baku air bersih. Sebenarnya, selain kedua sungai besar ini, masih ada 11 sungai besar lainnya, seperti Kali Ciliwung, Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran dll yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku air bersih. Sebagai ibu kota negara, sebenarnya Pemerintah Pusat (berbagai Kementerian terkait) dan Pemerintah-pemerintah Daerah, hendaknya bersama-sama bertanggung jawab dalam hal pengadaan air bersih, dengan menyediakan bahan air baku yang cukup.

Memang untuk jangka panjang sudah direncanakan proyek bendungan air laut Jakarta (giant sea wall) yang akan membendung air laut di utara Jakarta. Proyek bendung raksasa senilai Rp150 triliun ini, selain dipakai untuk jarigan jalan sepanjang tepi laut Jakarta, juga dapat menampung cadangan air dari 13 sungai-sungai yang bermuara di utara Jakarta yang kelak menjadi sumber air baku untuk diproses menjadi air bersih.

Namun, sebelum proyek raksasa jangka panjang itu terlaksana, proyek jangka dekat dan menengah sudah bisa dilakukan segera, dengan mengefektifkan pembersihan 13 sungai-sungai yang ada, serta menormalisasi lebar dan dalam sungai-sungai tersebut untuk menambah volume daya tampungnya. Sehingga, sepanjang sungai dan anak sungai yang ada, memungkinkan dibuat sejumlah in take bahan air baku, untuk dialirkan ke pusat pengolahan air PAM, guna menambah produksi air bersih. ***

Tweets

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

HTML tags are not allowed.

Copyright © 2011-2012 TubasMedia.com - All Rights Reserved - Berita Terkini - Profil - Info Iklan - Feed Berita - Feed Komentar - Go Mobile
Facebook button Twitter button RSS button