Karya Pemimpin Jeblok, Mundurlah…

Oleh: Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

BERPOLITIK pada dasarnya untuk meraih kekuasaan. Tidak usah ragu dengan persoalan kekuasaan karena secara konstitusi dan berdasarkan hukum dan perundang-undangan, hak warga untuk berpolitik dijamin penuh.

Saat seorang warga negara terpilih menjadi presiden/wakil presiden, gubernur/wakil gubernur, bupati/ wakil bupati, walikota/wakil walikota dan menjadi anggota legislatif, maka di pundaknyalah melekat sebuah kekuasaan politik dan sekaligus berbagai kewenangan administratif untuk menyelenggarakan tugas dan tanggungjawabnya.

Melekat dua hal pada saat bersamaan, yakni kekuasaan dan kewenangan (power and authority). Di pundaknyalah melekat tanggung jawab kenegaraan dan kepemerintahan. Dan yang utama dari semuanya itu juga hanya mengandung dua unsur tugas dan tanggung jawab, yaitu kepemimpinan (leadership) dan kepengelolaan (managerial).

Pada dasarnya dua faktor ini yang di sepanjang melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara yang dilihat oleh publik sebagai ukuran keberhasilannya. Kalau jeblok, hasilnya di kedua faktor itu, maka jangan coba-coba menutup mata dan telinga atas penilaian yang dilakukan oleh publik tentang kepemimpinan si pemimpin tersebut.

Hasilnya jeblok? Berarti anda semua harus siap dikritik, dihujat, bahkan harus siap kalau sampai diminta turun dari jabatan dan kalau perlu mengundurkan diri. Radar dan sistem navigasi anda harus peka menangkap sinyal positif dan negatif tentang berbagai situasi yang terjadi di masyarakat. Ini yang paling utama.

Tentu tidak bisa dinafikkan juga bahwa radar dan sistem navigasi yang dibangun, sensitif terhadap dinamika politik di dalam dan diluar negeri yang bisa pula mempengaruhi kinerja kepemimpinannya.

Sinyal negatif harus bisa direspon cepat dan masalah yang timbul harus bisa disegerakan untuk ditanggulangi dan jangan sampai menimbulkan masalah yang baru. Fungsi dan kemampuan managerial semakin sangat prima dibutuhkan agar semua persoalan publik dapat ditanggulangi pada saat dan momen yang tepat.

Sumber daya organisasi harus dipastikan bahwa semuanya berfungsi dan siap dioperasionalkan secara efisien dan efektif untuk secara aktif  mengeksekusi seluruh kebijakan dan progam kerja yang sudah digariskan, serta memberikan pelayanan terbaik kepada publik.

Input, proses dan output harus dapat dipastikan akan menghasilkan outcome dan dampak yang memberi manfaat besar bagi kesejahteraan rakyat. Inilah kekuasaan yang dibarengi dengan segudang prestasi dan kerja nyata yang diharapkan oleh publik kepada para pemimpinnya dan para manajernya di lingkungan pemerintahan maupun di jajaran legislatif.

Proses komunikasi publik harus berjalan bebas hambatan dan dalam suasana cair penuh dengan keterbukaan yang bertanggungjawab dan bisa dipertanggungjawabkan.Menjalankan komunikasi publik dengan cara seperti itu hakekatnya para pemimpin berhasil melaksanakan tugas kepemimpinan dan kepengelolaannya dengan efektif.

Jebakan Maut

Jebakan maut dan gangguan yang bisa menghambat sampai terjadi semacam kegagalan dan dituding tidak berprestasi adalah di zona input, proses dan output. Wilayah ini bisa disebut sebagai “Zona Rawan Kecelakaan” karena segala macam bentuk KKN, bisa terjadi di zona tersebut.

Progam hanya dijalankan dalam suasana business as usual dan berpotensi menggugah terjadi moral hazard. Progamnya sendiri sebenarnya bagus dan kalau dijalankan dengan tata kelola yang baik, pasti akan memberikan manfaat kepada rakyat dan memberikan kepuasan publik.

Tapi karena salah kelola dan para pemimpinnya terjebak ikut bermain-main api di Zona Rawan Kecelakaan tadi, maka akibatnya progam-progam yang baik tadi tidak menghasilkan output yang berkualitas apalagi bermanfaat.

Oleh sebab itu, Tunas Bangsa sebagai media nasional cukup intens menyoroti soal peran kepemimpinan dan kepengelolaan di dalam lingkungan pemerintahan, dengan satu harapan, yaitu agar siapa pun yang mendapat amanah memimpin negara, memimpin lembaga tinggi negara dan memimpin daerah di propinsi/kabupaten/kota/kecamatan/desa, berorientasilah kepada kerja, karya dan prestasi setelah memperoleh kekuasaan dan kewenangan.

Publik hanya mengharapkan itu. Setelah menjadi pejabat publik, tugas kepemimpinan yang harus dijalankan adalah mengabdi kepada kepentingan publik dan bukan lagi kepentingan politik pramagtis sempit. Utamakan selamat dan mulia menjadi pejabat publik yang harus tulus dan ikhlas menjadi pelayan publik. Warnai dengan berbagai aneka ragam karya dan prestasi sebagai legacy para pemimpin dan sekaligus manfaat nyata bagi masyarakat, bangsa dan negara. Rakyat menunggu itu. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar