Kejujuran Dasar Budi Pekerti Luhur

Terbit 23 Mei 2011 - 17:00 WIB | Dibaca : 1561 kali

Oleh : Iir Irfan

Ilustrasi

Ilustrasi

DALAM kehidupan bermasyarakat di mana pun, kejujuran adalah modal dasar seseorang untuk dapat diterima atau dipercaya dengan baik di lingkungannya, sebagai apa pun ia dalam masyarakatnya. Dalam cerita-cerita rakyak di belahan dunia mana pun, dalam dongeng versi apa pun, pasti diceritakan tentang kebaikan seorang satria, seorang ulama, seorang pekerja dan sebagainya karena ia tegak pada kebenaran, adil, dengan teguh melaksanakan kesanggupannya yang merupakan pengejawantahan dari sifat jujur.

Demikian pula semua ajaran yang berasal dari wahyu Ilahi mengajarkan umatnya untuk memiliki sifat jujur agar mencapai ahlak yang mulia, utama. Akan tetapi dasar sifat utama ini sulit dimiliki seseorang tanpa niat yang kuat untuk mencapainya, kecuali mereka yang telah memiliki benihnya sejak dilahirkan ke dunia.

Jujur adalah sifat yang sering diakui oleh seseorang, bahwa ia telah jujur, tetapi dalam kenyataannya ia belum jujur. Jujurlah yang tidak pernah diakui sebagai suatu yang sulit dijalankan, karena begitu seseorang mengatakan bahwa dirinya tidak jujur, maka orang pun menjauhkan diri darinya, atau tidak percaya kepadanya. Sehingga sulit untuk orang yang tidak mau mengaku, bahwa dia tidak jujur untuk memperbaiki dirinya.

Padahal begitu banyak kebohongan-kebohongan yang dibiarkan sebagai bukti ketidakjujuran. Memang ketidakjujuran adalah hal yang sulit dihindari. Akan tetapi bagaimana kita dapat menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur apabila masih suka berbohong. Bagaimana membangun masyarakat yang adil, aman, makmur dan sejahtera apabila kejujuran tidak dimiliki oleh masyarakatnya?

Jujur adalah dasar sifat agar dapat mencapai budi pekerti yang luhur. Seseorang tidak akan memiliki budi pekerti yang luhur sebelum ia memiliki kejujuran. Perlu keberanian untuk berlatih memiliki sifat jujur itu, dalam kehidupan sehari-hari kita. Apabila jujur dikatakan sulit memang kenyataannya demikian, karena apabila ada orang yang telah berbohong sekali, maka ia pun harus membuat kebohongan lain untuk menutupi kebohongan yang pertama kali tadi.

Berarti hati tidak akan jujur apabila lidah masih suka berbohong, berarti juga berbohong sama dengan tidak jujur. Memang sulit menemukan manusia berwatak mulia dan utama dengan dasar kejujuran pada masa sekarang. Akan tetapi sulit bukan berarti tidak dapat dikerjakan. Seseorang yang ingin mencapainya harus memiliki niat yang kuat, dengan niat yang kuat tidak ada sesuatu yang tidak dapat tercapai walau sulit sekali pun.

Sebenarnya yang disebut jujur adalah apabila seseorang telah bertindak sesuai dengan perkataannya. Melaksanakan apa pun yang disanggupinya dalam kehidupannya, atau ia telah bertindak sesuai dengan kenyataan yang ada. Contohnya: kenyataannya kita ini adalah manusia, hamba Tuhan. Sedangkan hamba di mana pun harus berbakti kepada Tuhan, dengan ketulusan, tanpa pamrih duniawi. Kebaktian hamba kepada Tuhan adalah tali kesadarannya sebagai hamba. Kesadaran tersebut harus diyakini dalam hati yang suci, sehingga menumbuhkan rasa percaya pada keadilan Tuhan. Kepercayaan kepada Tuhan yang utuh harus dijaga dengan taat melaksanakan semua perintah Tuhan dan menghindari semua larangan-Nya.

Penulis tinggal di Jakarta

Tweets

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

HTML tags are not allowed.

Copyright © 2011-2012 TubasMedia.com - All Rights Reserved - Berita Terkini - Profil - Info Iklan - Feed Berita - Feed Komentar - Go Mobile
Facebook button Twitter button RSS button