Kurikulum 2013, Upaya Memperkuat Pendidikan Multikultural

Oleh: Elizabeth Rotua

ilustrasi

ilustrasi

BANYAK pro dan kontra mengenai kurikulum 2013. Tidak hanya masyarakat yang mengeluarkan pernyataan setuju ataupun tidak setuju dengan pemberlakuan kurikulum 2013. Akan tetapi dari beberapa kalangan pemerintah pun demikian.

Ada beberapa pihak yang berpendapat bahwa kurikulum 2013 merupakan upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Akan tetapi, ada juga yang berpendapat bahwa kurikulum 2013 banyak memiliki kekurangan dan belum siap untuk direalisasikan.

Menyimak isu-isu terakhir mengenai kurikulum 2013, penulis cukup tertarik atas pernyataan Menteri Pendidikan M Nuh yang berpendapat bahwa sistem kurikulum 2013 dapat memperkuat pendidikan multikultural di Indonesia. M Nuh berpendapat dengan melalui buku-buku teks penunjang pembelajaran dalam kurikulum 2013, dapat mengajarkan kepada anak-anak Indonesia bahwa Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Pasalnya di dalam buku-buku penunjang tersebut sedikitnya ada enam tokoh anak-anak yang mencerminkan keragaman agama dan etnis di Indonesia. Dan hal ini bertujuan agar anak-anak Indonesia sejak bangku sekolah terbiasa hidup dalam keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia.

Sebenarnya banyak definisi mengenai pendidikan multikultural, akan tetapi dari beberapa pendapat para ahli terdapat beberapa kesamaan yang mana intinya menjelaskan bahwa pendidikan multikultural itu mengajarkan untuk saling menghargai setiap perbedaan yang ada, menanamkan sikap-sikap toleransi, sikap saling memelihara, saling pengertian dan sikap saling terbuka dalam keragaman etnik, ras, kultural dan agama.

Selain itu, di dalam pendidikan multikultural juga menggunakan konsep yang terdapat pada semboyan negara kita yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap bersatu. Negara Indonesia yang memiliki berbagai suku, ras, agama, bahasa dan kebudayaan seharusnya bisa saling menghargai satu sama lain. Dan terjalin perdamaian antar rakyat Indonesia. Oleh karena itulah, diharapkan melalui pendidikan multikultural rakyat Indonesia bisa lebih menghargai keanekaragaman negara Indonesia.

Akan tetapi, sesungguhnya bila kita ingin melaksanakan pendidikan multikultural, sebaiknya kita tidak hanya bergantung terhadap sistem kurikulum saja karena sebenarnya pendidikan multikultural sudah dilaksanakan sejak zaman dahulu. Dimana dahulu kala orang-orang biasanya menggunakan sastra sebagai alat untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka tentang keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia.

Ada banyak ragam sastra yang berkembang di Indonesia, mulai dari yang berbentuk audio (sastra lisan; lagu, dongeng, cerita rakyat, pantun, pribahasa dll), visual (sastra tulis; puisi, cerpen, novel, naskah drama, dll), sampai yang berbentuk audio visual (gabungan antara sastra lisan dan sastra tulis; opera, film, pementasan drama, dll) dan oleh karena itulah sastra biasa dijadikan alat untuk menyampaikan pendidikan multikultural.

Selain itu dalam penerapan pendidikan multikultural, hendaknya tidak hanya membicarakan soal media ataupun sistem kurikulum. Akan tetapi, yang terpenting dalam pendidikan multikultural adalah seorang pendidik yang tidak hanya dituntut untuk bisa menguasai dan mampu secara profesional mengajarkan materi pelajaran.

Namun lebih dari itu, seorang pendidik juga harus mampu menanamkan nilai-nilai inti dari pendidikan multikultural seperti demokrasi, humanisme, dan pluralisme atau menanamkan nilai-nilai keberagamaan yang inklusif pada siswa.

Pendidikan Indonesia sangat membutuhkan para pendidik yang memang mempunyai karakter pendidik yang sejati. Dimana para pendidik itu bekerja memang untuk mentransfer ilmu (baik ilmu secara teoritis ataupun praktik), serta nilai-nilai moril. Dan bukannya menjadikan profesi pendidik hanya sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Pendidik yang dimaksud disini bukan hanya guru yang menjadi model di dalam kelas, akan tetapi semua pihak yang terlibat didalam kegiatan persekolahan.

Apabila kurikulum 2013 dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan multikultural Indonesia, hendaknya pemerintah tidak hanya memusatkan perhatian pada pelaksanaan kegiatannya saja.

Akan tetapi para pendidik pun seharusnya diberi pelatihan khusus untuk membangun karakter pendidik yang sejati, dan bukan hanya dituntut untuk dapat mengajar yang professional tanpa adanya pelatihan yang menunjang kemampuan para pendidik.

Dengan demikian, dalam pelaksanaan pendidikan multikultural hendaknya tidaklah hanya menitikberatkan kepada sistem kurikulumnya saja, akan tetapi juga kepada seluruh komponen pendukung dalam pendidikan tersebut. Dan yang terpenting adalah didalam pendidikan itu harus ada pendidik yang memiliki karakter sebagai pendidik.

Karena sesungguhnya tidak akan pernah ada pendidikan yang baik tanpa adanya pendidik yang baik. Dengan pendidikan multikultural, diharapkan adanya kelenturan mental bangsa dalam menghadapi benturan konflik social sehingga persatuan bangsa tidak mudah patah dan retak. Jelas terlihat pentingnya pendidikan multikultural bagi bangsa Indonesia, yaitu untuk menjaga keutuhan, persatuan, serta kesatuan bangsa.***

Penulis adalah mahasiswi Universitas Negeri Jakarta

Baca Juga

Komentar

Komentar