Memupuk Rasa Persaudaraan Sesama Bangsa Indonesia (3)

Terbit 24 April 2013 - 17:41 WIB | Dibaca : 711 kali

Oleh: Benny Hartanto

Tulisan ketiga

ilustrasi

ilustrasi

AGAR supaya kehidupan bermasyarakat itu bisa berjalan dengan baik dan terwujudkan rasa persaudaraan, maka ada beberapa watak dan perilaku yang perlu untuk dibangun, dipupuk dan ditingkatkan mutunya pada setiap individu seperti di bawah ini.

Membuat Senang Hati dan Jangan Menyakiti Hati Orang Lain

Kita semua tahu, kalau dapat berbuat baik atau menolong kerepotan orang lain hati kita menjadi senang, demikian sebaliknya. Jadi, tidak diragukan lagi bahwa untuk melestarikan dan mempererat tali persaudaraan tiada lain dengan cara menyenangkan hati orang lain.

Salah satu cara yang paling sederhana untuk membuat hati orang lain senang adalah tersenyum dan tertawa. Tersenyum kepada orang lain yang kita jumpai bukan suatu kesukaran dan tidak menghilangan milik kita, maka tidak ada ruginya tersenyum kepada siapa saja. Tampilan muka yang manis, selain dapat membuat senang hati orang lain juga dapat menambah daya tarik roman muka sendiri.

Sebuah senyuman dapat terjadi secepat kilat, namun kenangannya mampu bertahan lama

Oleh sebab itu, lebih baik tersenyum daripada cemberut. Ada pepatah yang mengatakan, roman muka manis membuat senang orang banyak. Adapun tertawa itu mencerminkan suasana ceria. Pada umumnya, orang lebih menyukai suasana gembira dan bukannya suasana sedih.

Jika kita periang diiringi tertawa, maka teman-teman akan datang untuk ikut tertawa. Tetapi bila kita murung, maka orang lainpun akan pergi meninggalkan kita sendirian. Tertawalah, maka dunia akan tertawa bersama anda, menangislah maka anda akan menangis sendirian.

Satu sisi lain yang dapat mempengaruhi persahabatan adalah tentang kunjungan (bertamu). Orang selalu menyambut hangat tamunya. Tetapi jika tamu yang sama itu terlalu sering berkunjung dan lama tidak pulang-pulang, maka tuan rumahpun. akan merasa terganggu. Karena itu bertamulah seperlunya saja.

Tali persahabatan yang dapat melestarikan persaudaraan tiada lain adalah tindak-tanduk yang dapat menyejukkan hati dan perlakuan yang menyejukkan perasaan. Jadi, dengan membuat senang hati orang lain akan diperoleh manfaat ganda, yaitu kedua belah pihak senang dan persaudaran semakin erat.

Hindari Banyak Bicara

Orang yang banyak bicara itu sah-sah saja, asalkan berisi kebaikan dan manfaat. Tetapi orang yang banyak bicara biasanya akan kurang mendengarkan apa yang dikatakan orang lain. Sedangkan orang yang diam, akan dapat belajar banyak dari yang didengarnya. Orang yang sedikit bicaranya, berhati-hati dengan ucapannya tentu jarang berbuat kesalahan.

Jika orang banyak bicara, maka kemungkinan untuk salah tentang apa yang dikatakannya akan jauh lebih besar daripada orang bicara seperlunya saja, dan biasanya pekerjaan yang dilakukan juga tidak akan pernah selesai. Orang yang banyak bicara banyak salahnya, tetapi yang sedikit bicara banyak kerjanya. Bila terjadi pertengkaran, tidak ada gunanya memperpanjang pertengkaran. Semakin banyak dibicarakan, semakin panas suhunya. Karena itu, hentikanlah bicara, sedikit bicara, cepat selesainya.

Ada peribahasa yang mengatakan bahwa, “Harga diri seseorang ditentukan oleh perkataannya”. Maknanya adalah agar kita selalu menjaga ucapan, jangan sampai mengeluarkan kata-kata yang menjijikan atau menyakiti orang lain. Orang yang ucapannya buruk, kasar dan penuh dengan kebohongan akan dianggap sebagai orang yang bermartabat rendah.

Sebaliknya orang yang ucapannya baik, tutur katanya halus, santun, menyenangkan hati orang lain dan bisa dipercaya akan dianggap sebagai orang yang berbudi dan bermartabat tinggi. Sehingga banyak orang akan menaruh hormat dan menghargainya dengan tulus. Jadi, memang harus berhati-hati dalam berbicara, jangan terlalu ceplas-ceplos, sehingga mungkin ada orang lain yang tersinggung atau sakit hati.

Dampak lain dari ucapan kita bisa menjadi “mulut-mu harimau-mu”, artinya segala perkataan yang terlanjur kita keluarkan apabila tidak dipikirkan dahulu akan dapat merugikan diri sendiri. Kata-kata yang kita keluarkan dari mulut kita bisa dipersepsi berbeda bagi orang lain. Apalagi secara eksplisit kata-kata tersebut mengandung unsur penghinaan, pengejekan, atau mendiskreditkan orang lain yang tidak sengaja diucapkan.

Satu hal yang perlu diperhatikan, apabila berbicara lebih baik melihat orang yang diajak bicara (bukan melihat ke arah lain), usahakan agar mengingat waktu dan dapat memilih tempat dan keadaan yang tepat. Sehingga maksud pembicaraan bisa dilaksanakan dengan efektif.

Beberapa Perbuatan Penyebab Retaknya Persaudaraan:

Iri, dengki dan jail

Orang yang iri adalah orang yang merasa kurang senang melihat kelebihan orang lain (beruntung, dsb). Dengki adalah menaruh perasaan marah (benci, tidak suka) karena iri yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain. Sedangkan jail adalah suka menjahati atau mengganggu orang lain (karena iri, dengki, dsb). Padahal setiap orang memiliki nasib keberuntungan sesuai dengan perbuatannya masing-masing, sehingga tidak bisa disamakan satu dengan yang lainnya.

Orang yang berusaha menghilangkan kenikmatan dan keselamatan orang lain adalah termasuk orang yang dengki. Maka sebaiknya kita menjauhi perbuatan yang tampaknya remeh itu, tetapi besar gunanya bagi kemajuan jiwa kita. Disamping itu, jika orang ingin agar persahabatannya kekal, maka ia harus menjaga dirinya agar tidak campur tangan dalam urusan pribadi orang lain. Paling-paling kita boleh memberikan pandangan, jika ia meminta pertimbangan atas persoalan yang dihadapinya.

Untuk menghindari sifat iri hati, maka syaratnya harus tawakal dan ikhlas. Tawakal itu tidak mengingini milik orang lain dan tidak iri akan keberuntungan orang lain dan ikhlas itu tidak mempunyai keinginan sedikitpun akan kehormatan dan kemasyhuran, apalagi rasa iri serta suka mencampuri urusan orang lain. Dapat ditambahkan bahwa “tidak mengingini milik orang lain” itu juga berarti tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, misalnya: harta benda, jabatan, kekuasaan, pembagian sumbangan/bantuan, bonus/keuntungan, warisan, dll. Jadi, hal ini tidak akan mengurangi atau mengotori arti persaudaraan. ***

(bersambung…)

Tweets

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

HTML tags are not allowed.

Copyright © 2011-2012 TubasMedia.com - All Rights Reserved - Berita Terkini - Profil - Info Iklan - Feed Berita - Feed Komentar - Go Mobile
Facebook button Twitter button RSS button