Pengeluaran Rumah Tangga


Oleh: Fauzi Azis

Ilustrasi

Ilustrasi

DALAM beberapa tahun terakhir, pengeluaran konsumsi rumah tangga selalu menjadi primadona pertumbuhan ekonomi nasional. Tahun 2011 yang lalu, ekonomi nasional tumbuh 6,5 persen dan 50 persen lebih disumbang oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga.

Kita tahu tahun lalu, total PDB nasional dalam angka nominal berjumlah sekitar Rp 7.427 triliun. Bayangkan kalau 50 persen lebih disumbang oleh pengeluaran belanja konsumsi rumah tangga, maka nilainya sekitar tiga triliun rupiah lebih. Jumlah yang tidak sedikit tentunya dan hingga akhir 2014, rasanya pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan tetap disumbang oleh pertumbuhan pengeluaran belanja konsumsi rumah tangga.

Pada triwulan 1-2012, pertumbuhan ekonomi mencapai 6,3 persen dan dari itu pengeluaran belanja konsumsi rumah tangga tumbuh 4,9 persen. Dari sudut pandang ekonomi makro, biasanya para ekonom atau para pengambil kebijakan tidak terlalu hapy jika pertumbuhan ekonomi lebih banyak didominasi oleh sumbangan dari pengeluaran konsumsi rumah tangga.

Alasannya pertumbuhan ekonomi yang dihela pengeluaran konsumsi rumah tangga tidak menghasilkan efek pengganda dalam kegiatan ekonomi, penyerapan tenaga kerja dan lain-lain. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa yang lebih baik jika pertumbuhan ekonomi itu disumbang oleh pertumbuhan investasi dan ekspor, baru didukung oleh penhgeluaran belanja konsunsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

Sudut pandang ekonomi seperti itu benar saja adanya. Memang teorinya yang kita pelajari dalam ilmu ekonomi mengajarkan seperti itu. Tapi teori hanya sekedar teori. Kenyataannya berbicara lain. Pengeluaran konsumsi rumah tangga menjadi begitu besar dalam dinamika ekonomi adalah hal yang wajar dan itu pertanda dinamika kehidupan masyarakat bergerak secara alamiah.

Pergerakan ini terjadi memang sudah menjadi kodratnya. Masyarakat perlu hidup dan untuk itu perlu makan, minum, membeli pakaian dan kebutuhan lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, mau tidak mau masyarakat harus menyisihkan sebagian pendapatannya untuk membelanjakan apa yang menjadi kebutuhannya.

Dengan penalaran seperti ini, maka berarti hampir tidak mungkin masyarakat bisa berbelanja tanpa ada penghasilan sekecil apapun yang mereka dapatkan. Pendapatan tersebut pasti diperoleh karena masyarakat beraktifitas dalam berbagai profesi. Makanya jangan heran kalau pasar, mal, pelabuhan udara, laut, terminal bus dan stasiun KA selalu ramai dan hiruk pikuk melaksanakan aktifitasnya masing-masing untuk berbagai keperluan.

Dinamika ini tentu positif dan harusnya patut diberikan apresiasi atas keberhasilan para bapak/ibu dan anak-anaknya sebagai sebuah rumah tanggga yang setiap tahun selalu menyumbang bagi pertumbuhan ekonomi negaranya. Tidaklah salah kalau kemudian para pekerja, guru dan para medis selalu menuntut perbaikan penghasilan karena memang mereka membutuhkannya agar kebutuhan hidupnya sehari-hari dapat tercukupi secara wajar. Pengeluaran konsumsi rumah tangga terus tumbuh berarti kegiatan ekonomi rakyat dan kegiatan ekonomi rumah tangga juga bertumbuh dan hampir tidak ada campur tangan sedikitpun dari pemerintah termasuk pemda.

Direcokin malah sering atas nama keamanan dan ketertiban. Pertumbuhan ekonomi yang dalam satu dasawarsa selalu dihela oleh pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga, maka hal ini sebuah pertanda bahwa masyarakat rumah tangga telah mampu mengelola kehidupannya tanpa bergantung pada pihak lain.

Mereka mampu berbelanja pasti punya penghasilan dan penghasilan itu mereka dapatkan dengan berbagai cara (yang halal pastinya), baik membuka warung makan, warung rokok, jualan pecel, ngojek, jualan pecel, tukang pijat dan sebagainya. Pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga di setiap tahun adalah sebuah realita dan sukses yang diraih oleh para konsumen rumah tangga.

Apapun alasannya realitas tersebut adalah sebuah aset dan sumber kekuatan, minimal sumber kekuatan daya beli. Pertanyaan yang harus dijawab oleh para pembuat kebijakan publik adalah, sumber kekuatan itu mau diapakan? Yang baik adalah diarahkan, dikelola dan diberikan penghargaan agar pengeluaran belanja konsumsi rumah tangga menjadi motor penggerak tumbuhnya kegiatan investasi yang sebagian diantaranya harus dilakukan oleh masyarakat kita sendiri, baru kemudian kita libatkan investor asing.

Jadi investasi asing, kita posisikan sebagai pelengkap. Kalau semuanya kegiatan ekonomi diserahkan asing, apalah artinya negara yang berdaulat dan rakyat yang berdaulat sesuai amanat UUD 1945. Dalam konteks ini, semua kegiatan ekonomi yang bisa menghasilkan pertumbuhan seyogyanya diperlakukan sama.

Kegiatan investasi mendapat akses kemudahan, kegiatan ekspor juga demikian. Maka seharusnya masyarakat para pencipta daya beli mendapatkan akses kemudahan yang sama sehingga masyarakat termotivasi untuk terus berkontribusi dalam pembangunan ekonomi bangsa. Masyarakat para kreator dan inovator dan bahkan para inventor harus didukung penuh aktivitasnya oleh pemerintah, jangan dilihat dengan mata sebelah.

Mereka juga bagian dari masyarakat pencipta daya beli di rumah tangganya.Ini adalah sebuah pandangan yang mungkin nyeleneh karena mendewakan pengeluaran konsumsi rumah tangga sebagai mesin penggerak pertumbuhan ekonomi, sementara para ahli ekonomi mendewakan investasi dan ekspor sebagai penggeraknya.

Alasan pembenarnya sederhana saja bahwa kalau rumah tangga di masyarakat itu mampu berbelanja, maka berarti masyarakat rumah tangga tersebut berkemampuan menciptakan penghasilan. Penghasilan tercipta karena masyarakat rumah tangga mampu beraktifitas sendiri di berbagai bidang, termasuk bidang ekonomi produktif.

Kegiatan di ekonomi produktif hampir pasti mereka melibatkan orang lain dari rumah tangga lain untuk bekerja agar sama-sama berdaya beli dan kemudian sebagian dari daya belinya dibelanjakan untuk keperluan hidupnya sehari hari. Dengan logika seperti ini, maka kegiatan ekonomi rakyatlah yang perlu dibesarkan dalam kerangka pembangunan ekonomi nasional secara keseluruhan. Kebijakan dan progam semacam ini yang bisa mengentaskan kemiskinan dan pengangguran sekaligus pencipta daya beli rakyat. ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar