Pengusaha Tenun Sutra Kekurangan Benang Sutra

Terbit 30 April 2011 - 08:04 WIB | Dibaca : 2337 kali

Laporan : Redaksi

Ilustrasi

Fauzi Azis

WAJO, (Tubas) – Pengusaha kain tenun sutra di Wajo, Sulawesi Selatan tidak dapat berproduksi maksimal karena kekurangan bahan baku benang sutra. Sedikitnya 75 persen benang sutra harus diimpor dari Cina dan hanya 25 persen yang dapat dipasok dari dalam negeri.

Demikian sejumlah pelaku industri kain tenun sutra kepada Staf Ahli Menteri Perindustrian bidang Pemasaran dan P3DN Menteri Perindustrian, Fauzi Azis yang datang bersama rombongan melakukan kunjungan kerja di sejumlah sentra industri kain tenun sutra di Wajo, Sulawesi Selatan, Jumat.

Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan merupakan pusat industri tenun kain sutra di mana produknya dipasarkan ke seluruh pasar dalam negeri dan juga mengisi sejumlah pasar mancanegara. Terdapat 5.000 unit pengusaha kecil yang mengoperasikan alat tenun bukan mesin (ATBM) di daerah yang mereka sebut Desa Sutra.

Minimnya pasokan benang sutra menurut para pengusaha disebabkan sulitnya mendapatkan bibit ulat sutra untuk diternakkan. Bibit ulat sutra (kokon) sudah sejak lama sulit diperoleh sehingga peternak kokon tidak bisa memproduksi benang sutra dalam jumlah besar. Bahkan kebutuhan sentra Wajo pun tidak dapat lagi dipenuhi.

Ketua Silk Solution Centre (SSC) Wajo, Kurnia menyatakan pihaknya terpaksa impor telur ulat sutra dari Cina untuk diternakkan karena pihak Departemen Kehutanan tidak lagi menyediakan ulat sutra.

Sementara itu, Fauzi Azis menyatakan pemerintah sudah seharusnya memberikan perhatian serius terhadap kelangsungan hidup masyarakat Desa Sutra tersebut. Pasalnya, sutra sudah menjadi jalan hidup warga Wajo dan telah berhasil mempertahankan wilayah itu menjadi penghela pertumbuhan ekonomi kerakyatan.

Harus disadari kata Fauzi, kain sutra yang dihasilkan penenun sutra itu adalah produk yang bersifat costumerize dan memenuhi selera konsumen kelas menengah ke atas. Untuk bisa tetap tampil prima dan tetap eksis, kepada pelaku industri tenun sutra katanya, pemerintah harus memberikan perhatian serius khusus menyangkut mutu dan desain.

Pola-pola pembinaan yang terkelola seperti misalnya advokasi dan edukasi lanjut Fauzi harus diberikan pihak-pihak yang bertanggungjawab akan masa depan industri. Salah satu strategi meningkatkan keberadaan para penenun kain sutra adalah perlunya dipisahkan penanganan produksi dengan pemasaran.

Sebaiknya kata Fauzi, penenun sutra tersebut konsentrasi sepenuhnya terhadap mutu produksi dan jangan terlibat lagi menangani masalah pemasaran. “Biarlah pemasaran ditangagni orang-orang profesional dan mutu ditanggungjawabi penenun yang tentunya tetap dalam pengawasan pemerintah,” katanya. (sabar)

Tweets

Komentar Anda

  1. :!: saya tertarik sekali dengan usaha ulat sutraSaya bisa tinggal di pedesaan, dengan udara sejuk, dan berpenghasilan tinggi. Hehe

  2. Keterpaduan lintas sektor yg terkait sangat diperlukan dlm penyelesaian masalah ini terutama dlm penyedian telur ulat sutera yg berkualitas dan tersertifikasi lembaga yg berwenang. Mantap

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*

HTML tags are not allowed.

Copyright © 2011-2012 TubasMedia.com - All Rights Reserved - Berita Terkini - Profil - Info Iklan - Feed Berita - Feed Komentar - Go Mobile
Facebook button Twitter button RSS button