PT KAI Layak Diacungi Jempol

Terbit 26 Agustus 2012 - 20:47 WIB | Dibaca : 787 kali

Oleh: Fauzi Azis

Ilustrasi

KITA harus berani bersikap obyektif bahwa pelayanan yang diberikan PT Kereta Api Indonesia (KAI) jelang lebaran sampai arus balik, cukup memadai. Mulai dari pelayanan sistem tiketing sampai pengaturan perjalanan, berjalan dengan baik, efisien dan efektif.

Keterlambatan keberangkatan dan kedatangan kereta api nyaris tidak terjadi. Penumpang berdiri dan duduk di WC-pun tidak kita jumpai lagi. Alhamdulillah kecelakaan juga tidak terjadi. Pengerahan sumber daya di lingkungan perusahaan berjalan optimal dan penuh komitmen dan semangat dedikasi yang tinggi dari jajaran manajemen dan seluruh karyawannya. Sekali lagi, ini adalah realitas yang harus jujur diakui.

Bahwa disana-sini ada problem, itu adalah wajar saja dan tidak sampai menimbulkan gangguan yang berarti. Semua dapat diatasi dengan penuh saling pengertian antara petugas dan para calon penumpang. Angkutan barang juga terfasilitasi dengan baik.

Opini ini disampaikan oleh penulis sebagai pelanggan tetap penumpang KA dari Jakarta ke Semarang dan sebaliknya. Makin nyaman dan aman menggunakan jasa angkutan KA, maka peluang berwisata dengan menggunakan jasa angkutan kereta api, pasarnya sangat terbuka.

Beberapa catatan positif tersebut harus ditindak lanjuti dengan langkah yang perlu dilakukan oleh pemerintah. Hal yang mendesak adalah pembangunan rel ganda (double track) harus dilanjutkan dan selesai sesuai rencana. Sekarang sudah hampir nyambung sampai Pekalongan untuk lintas utara.

Kalau sudah final dan dinyatakan aman dilalui, maka perjalanan KA jenis apapun, kecuali KA barang dari Jakarta ke Pekalongan, sekitar 300 km lebih, bisa ditempuh dalam waktu 3,5 jam, paling lama 4 jam dengan kecepatan rata-rata 80-90 km per jam.

Sampai di Surabaya bisa ditempuh sekitar 7-8 jam dengan rata-rata kecepatan yang sama. Moda transportasi di Pulau Jawa, baik di lintas utara maupun selatan yang menjadi prioritas utama adalah layanan jasa angkutan penumpang dan barang menggunakan KA. Prioritas ini termasuk pembangunan dry port untuk bongkar muat barang.Catatan sejarah yang terekam adalah pada waktu Belanda membangun jaringan KA di lintas Surabaya, Malang, Blitar, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo dan Jember di lintasan timur selatan yang berakhir di stasiun Gubeng.

Di sekitar Gubeng dibangun pusat pergudangan untuk menyimpan barang-barang hasil pertanian dan perkebunan dari pusat-pusat produksi di kota-kota tersebtu. Di Gubeng dilakukan proses konsolidasi untuk selanjutnya diangkut ke Tanjung Perak untuk dikapalkan dan diekspor ke negara tujuan.

Ini tantangan yang harus dijawab oleh pemerintah. Artinya, tanggungjawab yang harus dilakukan tidak selesai dan berhenti di pembangunan rel ganda saja, namun harus membangun dry port dan sistem pergudangannya.

Prinsip pengembangannya harus dapat menekan biaya logistik yang optimal bagi keperluan bongkar muat barang melalui jalur KA. Di Pulau Jawa, moda angkutan penumpang dan barang, yang paling efisien adalah menggunakan angkutan kereta api, selain tentunya kapal laut untuk angkutan barang.

Kualitas public good yang makin membaik tentu akan menjadi daya tarik bagi masyarakat pengguna jasa layanan angkutan umum seperti penggunaan jasa angkutan kereta api. Begitu pula kalau jasa layanan public good seluruhnya semakin berkualitas dan efisien, maka akan semakin banyak pilihan yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk menggunakan fasilitas public good yang disediakan oleh pemerintah, termasuk pemerintah daerah.

Dari sini makin terlihat bahwa mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi, hampir mustahil tanpa didukung oleh ketersediaan infrastruktur yang memadai, baik dalam jumlah maupun kualitasnya dan juga pelayanannya. Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri 17.000 pulau besar/kecil dan baru sekitar 6.000 pulau berpenghuni, membutuhkan infrastruktur yang memadai untuk membangun keterhubungannya satu sama lain.

Moda angkutan yang diperlukan-pun bisa beragam, baik melalui jalur udara, laut dan darat. Memanajemeni NKRI tanpa membangun infrastruktur, nothing. Keberhasilan PT KAI dalam melayani angkutan kereta api, baru merupakan contoh kecil dari sebuah kesukseskan yang diraihnya. Perlu keberhasilan di bidang layanan public good yang lain.

Berat memang tugas pemerintah untuk membangun kedigdayaan Indonesia dalam dunia yang kian mengglobal. Keterhubungan seluruh pulau di Indonesia menjadi tanggungjawab yang paling berat bagi pemerintah pusat dan daerah kalau konsep NKRI akan dipertahankan yang mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa.***

Tweets

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*

HTML tags are not allowed.

Copyright © 2011-2012 TubasMedia.com - All Rights Reserved - Berita Terkini - Profil - Info Iklan - Feed Berita - Feed Komentar - Go Mobile
Facebook button Twitter button RSS button