Tinggi, Kasus Kematian Bayi dalam Kandungan


Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

TASIKMALAYA, (TubasMedia.Com) – Angka kematian bayi dalam kandungan mau pun saat dilahirkan di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, masih tinggi mencapai 147 kasus kematian. Dari jumlah itu, 98 kasus merupakan kematian bayi dalam kandungan dan 49 kasus pada proses melahirkan.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tasikmalaya menyebutkan, dari setiap Puskesmas dari Januari hingga akhir tahun 2012, penyebab kematian bayi akibat faktor ekonomi, ibu mau pun bayi kurang gizi, sehingga membuat Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan penyumbatan saluran nafas hingga infeksi (Afiksia).

Menurut Dinkes, faktor ekonomi masyakat serta kurangnya mutu dan gizi kesehatan ibu merupakan penyebab banyaknya bayi gagal lahir. Ibu hamil rata-rata enggan untuk memeriksakan kandungannya, karena terbentur biaya berobat, padahal hal ini sangat penting guna kesehatan kandungan dan kelancaran proses melahirkan.

Kepala Bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kota Tasik, H. Suherman kepada tubasmedia.com, pekan lalu mengatakan angka kematian bayi di Kota Tasikmalaya meningkat dari tahun ke tahun.

Kegagalan medis, kata Suherman karena sejumlah faktor di antaranya terlambatnya penanganan, terlambat merujuk dan terlambat dilayani spesialis. Kelancaran proses melahirkan ini perlu ditopang dengan tenaga medis, khususnya para bidan yang berada di Puskesmas. Usia paling ideal dan produktif ibu hamil, yakni 20 tahun hingga 35 tahun, termasuk kesiagaan dari tenaga medis sebagai faktor memperlancar proses kelahiran. Selain itu, sangat perlu kesadaran ibu untuk memeriksakan kandungannya. “Disamping pasokan gizi yang cukup, tentunya mesti periksa kesehatan kandungan para ibu dan saat melahirkan ditangani oleh tenaga medis,” jelas Suherman.

Namun kenyataannya, tambah Suherman, masih ditemukan para ibu yang melakukan proses bersalin melalui paraji (dukun beranak). Hal ini diakuinya sebagai kepercayaan kultur masyarakat terhadap para paraji. Untuk itu salah satu program Dinkes, merangkul paraji sebagai mitra bidan. “Mereka juga merupakan mitra kita, agar proses melahirkan berjalan normal,” kata Suherman. (dadang)

Berita Terkait

Komentar

Komentar