Zero Sum Game – Winners Take All


Oleh: Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

PERISTIWA penting baru saja berlalu di DKI Jakarta dan berdasarkan hasil perhitungan cepat 20 September 2012, pasangan Jokowi-Ahok unggul dalam perolehan suara atas pasangan Foke-Nara. Alhamdulillah semua berlangsung damai dan aman dan bersyukur pula, akhir dari pilgub putaran kedua ini diwarnai semangat kelegowoan dan sportifitas yang tinggi karena dari awal masing-masing telah mengambil posisi bahwa pasti akan ada yang menang dan ada yang kalah.

Sekali lagi puji Tuhan semoga setelah gubernur dan wakil gubernur terpilih secara definitif diumumkan oleh KPUD DKI, mereka berdua segera tancap gas menjalankan tugas pemerintahan dan pembangunan untuk bisa mengubah wajah DKI lebih berseri, lebih menentramkan warganya dan berbagai bentuk kekekerasan tidak akan terjadi lagi.

Peristiwa politik yang terjadi di DKI 20 September 2012 mudah-mudahan menjadi catatan bersejarah bagi kita bahwa kedewasaan berpolitik sudah nampak muncul ke permukaan sebagai tradisi politik yang pantas diteruskan.

Zero sum game – winners take all semakin terbukti tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Dalam politik praktis pun yang sekarang berjalan, meski pun Partai Demokrat memenangkan Pilpres tahun 2009 dengan perolehan suara 60 persen dan menempatkan SBY-Budiono sebagai presiden RI pada KIB 2, kemenangannya tidak bisa dikatakan dalam kondisi zero sum game – winners take all.

Pasalnya, arena pada sisi yang lain di parlemen, Partai Demokrat hanya mengantongi suara sekitar 24 persen. Karena itu, SBY mengambil keputusan politik dengan membentuk kabinet koalisi dan Setgab agar pemerintahan dapat berjalan dengan baik. Yang terjadi adalah win-win dan akhirnya secara sadar atau tidak, proses politik yang terjadi di Indonesia hingga kini adalah kemenangan kita semua, kemenangan demokrasi.

Sayangnya win win situation yang terbentuk belum berhasil menghasilkan proses politik yang sehat dan belum menghasilkan proses konsolidasi politik yang dapat membawa bangsa dan negara menjadi sebuah kekuatan yang kokoh sebagai Indonesia Raya membangun peradabannya di masa depan.

Win win-nya masih banyak diwarnai oleh semangat pragmatisme transaksional sehingga proses politik untuk membangun bangsa dan negara yang lebih terkonsolidasi secara kuat dan kokoh belum bisa terwujud hingga sekarang. Yang terjadi sandera menyandera. Akibatnya pemerintahnya tidak mempunyai keleluasaan politik dalam menjalankan tugas pemerintahan dan pembangunan.

Win win situation-nya menjadi dipelesetkan seperti yang terjadi dalam alokasi dana APBN untuk pembangunan infrastruktur di daerah, yang pelaksanaannya menimbulkan kontroversi karena terjadi moral hazzard oleh sejumlah oknum anggota DPR yang dituduh mengkorupsi anggarannya. Ke depan, sistem politik nasional harus menjadi semakin baik dan praktek politiknya harus menjadi lebih dewasa dalam cara berpikir dan bertindaknya.

Semangatnya adalah melawan kezaliman dan menegakkan kebenaran berdasarkan landasan hukum yang kuat. Berpolitik bukan untuk mencari rezeki nomplok seperti orang berjudi atau seperti menjadi makelar tanah. Berpolitik tidak pula hanya sekedar untuk meraih kekuasaan dan kemudian bisa dimainkan untuk keperluan apa saja berdasarkan kekuasaan yang berhasil diraihnya.

Dalam kehidupan yang majemuk, multikultur dan multi etnis praktek zero sum game dan winners take all jangan berharap akan bisa terjadi. Di dunia manapun kalau sistem demokrasi sudah menjadi acuan dalam berpolitiknya, maka zero sum game, winners take all dengan sendirinya sudah terkubur habis jasadnya. Kecuali di rezim politik yang otoriter diktator, bisa saja zero sum game winners take all masih bisa dihidupkan.

Sebagai warga negara, melalui TubasMedia.Com dan juga edisi cetak mingguan yang terbit setiap hari Senin dititipkan sebuah asa/pengharapan bahwa sistem politik demokratis yang sudah berhasil diwujudkan oleh bangsa dan negara ini hendaknya dikelola dengan semangat kebersamaan, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi untuk membangun peradaban Indonesia yang lebih maju dalam suasana kemajemukan.

Masing-masing harus bisa saling memuliakan agar semua warga negara Indonesia yang tinggal dari Sabang hingga Merauke bisa hidup layak, sejahtera dan makmur. Jangan pernah lagi berpikir zero sum game dan winners take all. Kalau pun realitasnya ada yang menang dalam pergulatan politik, maka sudah pasti kemenangan itu tidak akan bersifat mutlak.

Yang mutlak itu hanya kekuasaan Tuhan karena Tuhan memang penguasa alam dan seisinya. DIA dan hanya DIA Yang Maha Kuasa. DIA ada di mana-mana kapan saja dan di mana saja. Tangan Tuhan di Balik Setiap Fenomena (M Quraish Shihab). ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar