Bermain Partai Wajib Punya Uang Banyak…

Oleh: Sabar Hutasoit

TIDAK bisa dipungkiri bahwa biaya politik cukup tinggi. Karena itu setiap individu yang ingin terlibat bermain di panggung politik, kalau bukan orang  kaya, paling tidak harus siap menyediakan fulus yang tidak sedikit nilainya.

Dengan kata lain, orang yang sudah terjun ke panggung politik apalagi  siap mencalonkan diri sebagai anggota legislatif, sudah dapat dipastikan, kantongnya sudah penuh berisikan rupiah.

Bukannya tidak punya alasan kenapa biaya politik itu cukup mahal, khususnya bagi para calon legislatif (caleg). Mana ada makan siang yang gratis, begitu selalu terdengar di kalangan politisi.

Memang benar. Seorang caleg yang ingin memperkenalkan dirinya kepada konstituen, dia harus siap terbang dari kediamannya ke daerah pemilihan dan tidak mungkin dirinya melenggang kangkung, akan tetapi harus ada ‘’oleh-oleh’’ atau buah tangan.

Itupun bukan sekali dua kali pertemuan. Tapi berkali-kali. Belum lagi segala atribut, spanduk, kaos, topi dan yang lainnya. Pokoknya, setiap caleg melangkah menemui konstituen, tidak boleh tangan kosong.

Itu baru untuk kepentingan konstituen. Kepentingan partai yang menjadi kendaraan politiknya? Emang bisa gratis. Wou, entar dulu kawan. Ada hitung-hitungannya. Apalagi untuk merebut urutan. Ini ada harganya. Tentu penawar tertinggilah yang ‘’layak’’ ditempatkan menduduki nomor jadi.

Padahal, penawar tertinggi itu belum tentu caleg bermutu. Tapi karena dia yang memiliki kantung tebal, dialah yang dilayakkan dan diharapkan terpilih menjadi anggota dewan yang terhormat, Kenapa ? Agar mesin partai bisa terus berputar.

Emangnya partai ada mesinnya?  “Ada kawan, mesinnya turbo lagi yang nota bene biaya operasinya tinggi”.

Caleg Abal-abal

Kalau demikian, caleg yang berpendidikan dan bermutu tapi kantungnya tidak setebal caleg abal-abal, dikemanakan? “Yah terpaksa dengan sangat menyesal, nasibnya hanya sebatas caleg alias tidak terpilih”.

Nah, berdasarkan data-data singkat diatas, tidak mungkin ada petinggi partai merekrut caleg miskin. Pasalnya, kalau calegnya miskisn, darimana nanti sumber pembiayaan operasional mesin partai yang sangat tinggi itu.

Karena demikian adanya, masalah yang terjadi dan terus kita hadapi sangat kompleks dan inilah penyebabnya kenapa banyak anggota legislatif yang tidak berbobot dan sering mengecewakan rakyat. Karena memang yang diutamakan bukan caleg pintar, tapi caleg yang kaya walau bobotnya abal-abal.

Oleh karena itu, hingga kini menolak caleg yang bekas koruptor masih perdebatan hangat. Kalau ditolak, sayang sekali uangnya tidak mengucur membiaya mesin politik, tapi kalau diikutsertakan, kapan korupsi di tubuh legislatif akan sirna ?

Artinya, bekas koruptor itu disinyalir masih banyak uang simpanan hasil korupsinya yang bisa digelontorkan mendanai politik dan untuk mengembalikannya, bisa-bisa korupsi lagi dengan menggunakan kekuasaan yang melekat pada dirinya sebagai anggota dewan yang terhormat. (penulis adalah seorang wartawan)

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar