Daya Saing Produk Berorientasi Ekspor, Dipacu

SEMINAR NASIONAL – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar N (keempat kiri depan) berfoto bersama dengan Ketua IKLA Roesmanhadi (keenam kiri depan), Pengamat Ekonomi Chatib Basri (keenam kiri depan), Purnomo Yusgiantoro (kelima kiri depan), serta para peserta Seminar Nasional tentang Analisis Ancaman Dalam Kehidupan Nasional Indonesia Perspektif Ketahanan Nasional di Kementerian Perindustrian, Jakarta 25 September 2017. – tubasmedia.com/ist

 

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Kementerian Perindustrian tengah memacu daya saing dan produktivitas industri nasional khususnya sektor padat karya yang berorientasi ekspor agar mampu berkompetisi di pasar internasional.

Langkah strategis yang dilakukan adalah mengusulkan skema pemberian insetif fiskal untuk sektor tersebut bisa berbasis jumlah penyerapan tenaga kerja.

“Kami sedang membahasnya dengan Kementerian Keuangan, bahwa pemberian fasilitas tax allowance bukan lagi berbasis jumlah investasi, tetapi tenaga kerja,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Seminar Nasional tentang Analisis Ancaman dalam Kehidupan Nasional Indonesia Perspektif Ketahanan Nasional di Jakarta, Senin (25/9).

Menperin meyakini, selain dapat mendorong penciptaan lapangan kerja, implementasi fasilitas fiskal perpajakan tersebut diupayakan juga untuk meningkatkan investasi di sektor industri strategis.

“Kami berharap, adanya potongan perpajakan, bisa digunakan perusahaan untuk reinvestasi,” ujarnya.

Airlangga menyebutkan, industri padat karya berorientasi ekspor yang sedang didongkrak kinerjanya, antara lain sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT), industri alas kaki, industri pengolahan ikan dan rumput laut, industri aneka (mainan anak, alat pendidikan dan olah raga, optik, alat musik), industri farmasi, kosmetik dan obat tradisional, serta industri kreatif (kerajinan, fashion, perhiasan).

Selanjutnya, industri barang jadi karet (ban kendaraan bermotor dan rethreading ban pesawat terbang), industri elektronika dan telematika (multimedia, software), industri furniture kayu dan rotan, serta industri makanan dan minuman (turunan CPO, olahan kopi, kakao).

Airlangga menambahkan, khusus industri TPT, pemerintah tengah melakukan negosiasi untuk membuat perjanjian kerja sama bilateral dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa sehingga memperluas pasar ekspor TPT lokal. Kemenperin memperkirakan ekspor industri TPT akan tumbuh rata-rata 11 persen per tahun. (ril/sabar)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar