Drone Sebagai Moda Transportasi Logistik Masa Depan di Indonesia

Oleh: Ir Efendy Tambunan, Lic.rer.reg.

 

INDONESIA memiliki sekitar 17.000 pulau dan kurang lebih 260 juta penduduk yang menyebar dari Sabang sampai Merauke dan dari Pulau Miangas hingga ke Pulau Rote. Ditinjau dari aspek logistik, distribusi barang-barang ke daerah pedalaman dan pulau-pulau terluar mengalami banyak hambatan  karena keterbatasan infrastruktur transportasi.

Hingga saat ini, akses transportasi ke pulau-pulau terluar dan pedalaman sangat buruk. Dampaknya adalah biaya angkut logistik menjadi mahal yang menyebabkan disparitas harga komoditas pertanian dan produk industri di kota-kota dan  pulau-pulau terluar.

Bagaimana mengupayakan harga komoditas pertanian dan produk industri tidak jauh berbeda di kota-kota dan pedalaman serta pulau-pulau terluar?  Hal ini menjadi tantangan berat bagi pemerintah dan pelaku bisnis.

Untuk mengurangi disparitas harga barang, dibutuhkan rantai pasok logistik yang efisien. Kendala besarnya adalah bagaimana membuat rantai pasok barang yang efisien kalau infrastruktur logistik buruk, SDM lemah dan permintaan barang tidak memenuhi skala ekonomis.

Drone atau pesawat nirawak merupakan salah satu solusi untuk mengatasi masalah angkutan barang di daratan atau antarpulau  akibat buruknyra infrastruktur transportasi. Kelebihan drone sebagai alat angkut barang adalah fleksibilitasnya dan ketidaktergantungan pada ketersediaan infrastruktur transportasi. Kelemahannya adalah daya angkut dan jelajahnya masih terbatas.

Percepat Pengembangan

Terhubungnya desa-desa di pedalaman dan pulau-pulau terluar melalui jaringan pengantaran drone dapat memampukan warga desa berpartisipasi dalam ekonomi global. Selain itu, kehadiran drone diharapkan dapat mempercepat pengembangan ekonomi Indonesia berbasis pulau dan mengurangi waktu terbuang dan mahalnya biaya pengiriman.

Drone adalah masa depan alat angkut pengiriman barang tetapi drone masih mengalami banyak kendala seperti masalah safety. Walau drone masih bermasalah dengan safety tetapi drone dapat beroperasi dalam cuaca yang ekstrim dan berbiaya efektif dengan tonase berat. Bahkan dalam kondisi darurat, drone dapat diandalkan untuk mengangkut  obat obatan dan pangan.

Indonesia sebagai kawasan cincin api (ring of fire) yang sering dilanda gempa dan mengakibatkan rusaknya prasarana infrastruktur transportasi. Dalam situasi ini drone bisa diandalkan untuk mengangkut bantuan pangan dan obat obatan yang tidak dapat dikirim tepat waktu  melalui transportasi darat karena rusaknya infrastruktur transportasi.

Perkembangan teknologi drone terkini memungkinkan drone dapat mengangkut barang berat (1,5 ton) dengan jangkuan terbang jauh (300 km) dan kecepatan hingga 200 km/jam.  Kedepan, drone dapat melayani transportasi logistik antarpulau dan bergunung dan cocok dengan kondisi Indonesia sebagai negara maritim.

Perkembangan teknologi drone sebagai alat angkut barang sangat pesat karena didorong oleh parahnya kemacetan lalu lintas di wilayah perkotaan, bencana alam sering terjadi yang membutuhkan bantuan obat-obatan dan pangan yang harus segera dikirim dan buruknya infrastruktur transportasi di wilayah pedesaan. Walaupun perkembangan teknologi drone cukup pesat, masih terdapat banyak kendala, antara lain:

Public acceptance (privacy and security):

Hingga saat ini, drone masih belum diterima sepenuhnya oleh masyarakat karena masalah privasi dan keamanan. Masalah-masalah tersebut, antara lain:

Drone mempunyai kemampuan mengumpulkan, menyimpan dan membuka informasi personal

Drone dapat memasuki area pribadi atau area terbatas

Drone dapat merekam atau melukai orang lain

Drone dapat menyerbu privasi (mengintai dan merekam tanpa persetujuan)

Drone dapat mengganggu alam (contoh: menabrak burung terbang).

Regulation

Seperti rambu-rambu lalu lintas, drone juga harus mempunyai rambu-rambu udara, antara lain:

Menggunakan pagar alam (geo-fencing) pada infrastruktur transportasinya

Merancang lintasan untuk drone atau drone “highways”

Merancang suatu drone dengan visual atau meniru suara binatang

Peraturan keamanan (regulatory clearance).

Technology (battery life, security, standard)

Pada saat ini, drone mempunyai tantangan teknologi yang mambatasi daya angkut dan jelajahnya yang disebabkan oleh:

Daya tahan batere (lithium, electrical generator)

Berat Drone

Pergerakan drone di udara harus diatur dan didukung sedemikian untuk mengeliminir dampak negatif terhadap manusia, lingkungan dan juga menambah daya jelajahnya. Upaya yang dilakukan antara lain:

Tinggi terbang drone dibatasi hanya 200 m diatas permukaan laut

Harus mempunyai lisensi, sertifikasi, dan servis berkala.

Drone dapat isi ulang batere di landasan tetap.

Bagaimana pengaruh cuaca terhadap kinerja drone

Cuaca adalah faktor yang sangat berpengaruh terhadap kinerja drone. Artinya ketika menerbangkan drone, faktor cuaca harus dipertimbangkan. Disini ada beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja drone.

Hujan

Drone tidak di ijinkan terbang ketika hujan.

Angin

Ketika terjadi angin kencang, drone sulit mempertahankan posisinya, akibatnya drone sulit bermanuver dan waktu terbangnya menjadi lebih singkat.

Angin kencang mengakibatkan drone terbang kearah lain dan motor bekerja lebih keras untuk melakukan stabilisasi.

Tidak di ijinkan terbang ketika kecepatan angin melebihi kecepatan drone.

Dari pengalaman para praktisi di sektor drone, 50% faktor cuaca mempengaruhi kinerja drone dan membuat drone bekerja lebih keras.

Dengan segala kelebihan dan kelemahannya, drone tidak hanya digunakan sebagai alat angkut makanan dan obat-obatan ketika terjadi bencana alam  tetapi juga sangat cocok untuk alat angkut yang dapat menjangkau  desa-desa terpencil, wilayah bergunung dan pulau-pulau terluar. (penulis adalah dosen tetap Teknik Sipil Universitas Kristen Indonesia)

 

Berita Terkait

  • Tidak Ada

Komentar

Komentar