Dunia Sudah “Terbelah”

Oleh: Fauzi Aziz

TERNYATA secara de facto globalisasi dan digitalisasi seperti yang dikatakan para penggiatnya,yakni dunia telah menjadi flat, tidak sepenuhnya benar. Pada realitasnya justru yang terjadi adalah dunia telah “terbelah” dalam dua dimensi, yaitu dunia nyata dan dunia maya.

Dunia nyata adalah tempat dimana bumi dipijak dan berpenghidupan dan dunia maya adalah tempat kita berinteraksi secara digital dan viral tanpa ada sekat sama sekali dalam prosesnya.

Manusia harus menerima kenyataan ini bahwa secara pisik ia hidup di dunia nyata dan secara verbal dan sosial bisa hidup di dunia maya. Dua dunia ini sama-sama mengasyikkan jika dinikmati secara konstruktif dan positif.

Pasalnya, secara sosial ekonomi dan budaya, manusia bisa saling berkomunikasi secara bebas, saling bisa membaca, dapat saling bekerjasama, bertransaksi dan bekerja bersama dalam satu tim kreatif menghasilkan karya-karya besar dan agung untuk kesejahteraan bersama.

Dalam dunia nyata, efisiensi rasanya amat sulit diwujudkan. Namun dalam dunia maya, efisiensi secara relatif sangat mudah dicapai sehingga total cost kehidupan manusia di dunia nyata dapat tereduksi dalam jumlah/nilai yang sangat signifikan.

Inilah karya peradaban di abad 21, dimana kita bisa menikmati kehidupan dalam dunia yang terbelah akibat perkembangan teknologi informasi. Seiring dengan itu, secara ekonomi muncul sumber pertumbuhan baru akibat berkembangnya kegiatan ekonomi/bisnis digital.

Tahun 2016, bidang usaha sektor informasi dan komunikasi laju pertumbuhannya sangat fantastik mencapai 8,87%, hampir mengejar laju pertumbuhan jasa keuangan dan asuransi yang mencapai 8,90% (tertinggi) di antara seluruh bidang usaha yang ada di Indonesia.

Indeks Tendensi Bisnis pada triwulan-I/2017 untuk bidang usaha informasi dan komunikasi mencapai 108,26. Artinya perkembangannya cukup optimistis untuk ditekuni sebagai bidang usaha yang relatif baru tumbuh.

Secara kejiwaan, ketentraman dan persahabatan menjadi terganggu dan secara ekonomi banyak merasa terancam sumber penghidupannya akibat merebaknya kapitalismme yang semakin tak terkendali yang sudah masuk ke pedesaan.

Contoh nyata adalah banyaknya lahan produktif di pedesaan dibeli para pemodal di perkotaan dengan alasan investasi yang realitasnya lahan dianggurkan begitu saja tanpa diolah.

Beban masalah masyarakat semakin kompleks ketika di dunia maya banyak diviral informasi hoax yang membingunkan sehingga berpotensi melahirkan konflik sosial. Kenikmatan hidup di dunia maya yang tak terkendali dan cenderung semakin liar dan brutal sampai melampaui batas nilai kemartabatan dan keadaban, telah memperkeruh dan memprovokasi kehidupan di dunia nyata.

Negeri ini seperti tercabik-cabik dan seperti berada di atas api dalam sekam, ketika para elit bangsa tak kuasa melakukan advokasi dan edukasi sehingga akhirnya lebih memilih tindakan yang sifatnya represif daripada preventif.

Upaya semacam ini dapat dikatakan tidak sepenuhnya produk tif, malah cenderung berpotensi bersifat kontra produktif, meskipun penguasa bisa berlindung atas nama penegakan hukum.

Memahami fenomena semacam itu, persoalan paling berat dihadapi oleh bangsa ini yang kini hidup di dunia nyata dan dunia maya bukan masalah ekonomi. Tetapi bobot tertingginya justru menghadapi masalah sosial yang amat berat.

Sistem sosial bangsa ini beragam. Kemudian diviral secara tidak bertanggungjawab di dunia maya dengan hoax, sehingga makin merusak sistem sosial yang selama ini gagal dirawat dengan baik oleh sistem politik dan hukum yang ada selama ini.

Bangsa Indonesia yang secara peradaban sudah hidup di dunia nyata dan dunia maya memerlukan advokasi dan edukasi, baik di lingkungan keluarga, masyarakat dan bangsa. Pendekatan secara inklusif yang humanis semakin diperlukan untuk bisa menyelesaikan berbagai masalah sosial yang ada. (penulis aalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar