Eat-Eat-Eat Anytime and Anywhere

Oleh: Fauzi Aziz

KEBUTUHAN kita paling dasar adalah makan dan minum. Tidak makan akan kelaparan. Tidak minum, pasti haus dan dahaga serta boleh jadi bisa dehidrasi.

Kehidupan kosmopolitan seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan Bali yang sudah 24 jam kehidupan masyarakatnya, nyaris tidak ada yang bebas dari urusan makan dan minum sehingga pusat kuliner bermunculan di mana-mana.

Anytime and anywhere kita bisa hunting makanan dan minuman kesukaan kita. Soal habis itu, ada yang harus minum lipitor 10 mg, pencegah kolesterol dan obat pencegah asam urat, itu tidak jadi soal.
Pokoknya makan uenaak.

Semakin ramai manakala libur akhir pekan dan libur panjang seperti liburan anak sekolah, lebaran idul fitri, serta natal dan tahun baru tiba, sebegitu banyak manusia berburu makanan dan minuman. Dan aktivitas ini berkait dengan kegiatan wisata kuliner.

Dampaknya bagi perekonomian dapat dilihat makin menjamurnya hotel minimalis dengan rate yang terjangkau dan padatnya penumpang pesawat dengan harga promo dan Low Cost Carrier (LCC), serta angkutan KA yang makin nyaman dan bus antar propinsi yang makin menyenangkan bagi para wisdom/wisman.

Kita bisa bayangkan jasa transportasi tumbuh 7,74% dan jasa akomodasi dan makan minum tumbuh 4,94% pada tahun 2016. Laju pertumbuhan yang tinggi juga dinikmati pertumbuhan produksi makanan dan minuman skala mikro dan kecil yang mencapai 7,52% (industri makanan) dan 11,66% (industri minuman).

Ini pertanda kegiatan wisata kuliner berkorelasi positip dengan perkembangan produksi makanan dan minuman skala mikro dan kecil di seluruh Indonesia. Jangan lupa bahwa di saat banyak pengunjung melakukan wisata kuliner, mereka juga melakukan wisata belanja.

Dan ini juga berdampak positip bagi perkembangan produksi industri mikro kecil penghasil produk tekstil dan pakaian jadi yang masing-masing tumbuh 9,71% dan 6,99%. Begitu pula yang menghasilkan barang dari kulit dan alas kaki tumbuh 5,22%.

Produk kuliner Indonesia kini telah mendapatkan tempat di hati para penggemarnya. Lagi-lagi penikmatnya adalah golongan menengah yang kini jumlahnya mencapai 60% dari keseluruhan populasi penduduk. Makanan dan minuman Indonesia dengan beribu jenis dan cita rasa yang merupakan warisan budaya, sudah mampu mengimbangi makanan dan minuman impor yang tumbuh di negeri ini dengan model kerjasama frunchise.

Ini sangat membanggakan. Ekonomi kerakyatan berbasis kuliner mampu keluar dari dapur rumahan. Kini berkembang menjadi industri yang mulai dikelola dengan baik dan bersih. Ciri makanan minuman yang enak adalah menjadi kunjungan banyak orang meskipun nun jauh dari rumahnya.

Yang penting ngejos dan hasrat terpenuhi. Awalnya ekonomi kuliner muncul sebagai akibat krisis ekonomi seperti banyak dikatakan oleh para pengamat. Karena terkena PHK, mereka alih status menjadi pengusaha kuliner. Surprise-nya kini ekonomi kuliner berhasil menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah.

Oleh sebab itu, pemda tidak mempersulit usaha mereka. Mereka adalah para pembayar pajak daerah yang loyal. Pemerintah bukan tukang bongkar lapak mereka, tapi harus berperan sebagai pembuka dan pemberi jalan bagi pengembangan usaha mereka.
Pemerintah harus berdamai dengan mereka dan lebih bijaksana melayani mereka. Tapi harus tetap diberikan catatan bahwa usaha kuliner lebih sering dipersulit oleh kelangkaan bahan-bahan yang mereka butuhkan. Dulu minyak goreng yang sering susah dicari dan harganya naik tanpa sebab yang jelas. Kini cabe, bawang, garam, daging sering mengalami kelangkaan di pasar akibat harga naik setinggi langit.

Kesannya ada permainan pedagang untuk melakukan aksi profit taking, meskipun masih ada yang bisa membela diri karena alasan cuaca. Pemerintah belum bisa sepenuhnya menjamin stabilitas pasokan dan harga bahan pangan, sehingga industri kuliner berbasis ekonomi kerakyatan ini sering menghadapi tekanan.

Namun posisinya cenderung lebih baik karena naiknya harga bahan pangan tidak bersifat elastis terhadap penyediaan kuliner. Bisa demikian karena kebutuhan makan minum sanat primer. Apalagi bagi golongan kelas menengah tak pernah peduli dengan situasi itu. Yang penting makan enak.

Kuliner Indonesia tidak pernah menyumbang. Yang lebih besar menyumbang inflasi justru bahan-bahan yang diperlukan akibat pasokannya tidak stabil, sehingga harganya naik. Bila Kredit Usaha Rakyat (KUR), bunganya bisa 5-6% per tahun dengan akses yang mudah dan cepat diperoleh, ini bisa menjadi stimulus yang baik bagi pengembangan usaha kuliner dan usaha lain terkait.

Maka dari itu, kita makin tahu ketika ekonomi berbasis konsumsi ini menjadi mesin pertumbuhan, efeknya juga cukup nendang bagi pertumbuhan ekonomi kerakyatan apakah berbasis kuliner atau yang lain. Termasuk hilir mudiknya kelas menengah Indonesia yang terjadi dari kota ke kota telah membuat penggunaan jasa akomodasi dan transportasi darat, udara dan laut meningkat.

Kita tahu, konsumen kelas menengah, umumnya memiliki pendapatan menganggur (discreionary income) cukup memadai. Rule of thumb-nya, kira-kira sepertiga dari pendapatan mereka. Jadi kita tidak perlu kaget dengan fenomena ekonomi berbasis konsumsi ini. Anomalinya adalah terhadap produksi yang berskala mikro dan kecil efeknya sangat nendang dilihat growth of business mereka.

Tapi belum mampu mendongkrak pertumbuhan sektor produksi skala sedang-besar, sehingga pertumbuhan industri pengolahan tertahan pada posisi 4,29%. Ekonomi berbasis Eat-Eat-Eat Anytime and Anywhere dipersilahkan tumbuh dengan baik. Jaga kualitasnya, perbaiki syarat higienitasnya karena apapun yang dikerjakan sekarang oleh para pelaku usahanya tak terlepas dari produk dan layanan yang mereka berikan kepada pelanggannya.(penulis adalah pengamat ekonomi, sosial dan kemasyarakatan)

Berita Terkait

Komentar

Komentar