Eksistensi Batik Terancam Punah

Oleh: Fauzi Aziz

 

BATIK telah mendunia dan dikenal sebagai karya budaya luhur bangsa Indonesia. Bisa mendunia karena batik mempunyai dua kutub nilai, yakni warisan budaya yang bersandar pada pandangan dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Bila tata nilai budaya ini tidak dijaga dan tidak menganut dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung, maka warisan budaya itu akan punah. Tapi kita beruntung batik masih berjaya hingga kini dan selalu terpampang dalam berbagai gallery.

Batik sebagai komoditas, sebagai produk budaya mampu tumbuh sebagai industri yang basis utamanya adalah ekonomi kerakyatan atau berhasil muncul sebagai the people industry.

Proses budaya dan proses ekonomi menyatu pada batik sehingga model integrasi dengan latar belakang yang berbeda ini, mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pewaris utama dalam blantika Industri Batik Nasional yang berhasil mendunia.

Ketika menjadi bagian dari ekonomi pasar, batik pada dirinya harus tunduk pada hukum pasar, yang daur hidupnya menjadi bergantung pada kekuatan pasar, yang basis utamanya adalah demand dan supply. Terkait dengan ini, eksistensinya secara ekonomi harus dilakukan proses persemaian artistik dan intelektual agar batik sebagai karya budaya dan sebagai karya seni secara demanding tetap mendapatkan tempat di hati para penggemarnya.

Keunikan batik sebagai the people industry terletak pada proses produksinya. Mekanisme kerja secara teknis yang sangat tradisional ini justru di situ nilai tambahnya menjadi berlipat ganda, tanpa harus mengganti dengan teknologi pemrosesan modern. Buktinya, satu lembar kain batik tulis, nilai jualnya bisa mencapai jutaan rupiah, padahal biaya produksinya barangkali hanya sepertiganya saja.

Mengapa demikian?  Jawabannya mudah saja, yakni batik tulis bersifat costumized. Penggemar dan penikmatnya relatif terbatas. Para pemburu batik tulis pasti golongan kelas menengah ke atas. Jawaban berikutnya karena merupakan produk costumized, para penggemar dan penikmatnya memposisikan batik tulis sebagai karya seni yang anggun dan penuh makna sehingga faktor harga relatif diabaikan.

Sementara itu, batik cap atau kombinasi cap – tulis lebih dihargai sebagai karya industri rakyat, dimana proses produksinya bisa tidak costumized, bisa  dijual dengan harga relatif rendah, tapi pasarnya bisa lebih luas. Jadi, batik yang murni bisa hidup secara kompetitif dalam sistem ekonomi pasar adalah batik cap atau kombinasi cap – tulis yang banyak dipergunakan sebagai busana dan houshold untuk kepentingan rumah tangga, perkantoran, hotel dan apartemen. Nilai  tambahnya kecil, tapi kapitalisasi pasarnya lumayan besar.

Persemaian artistik dan intelektual pada batik harus dilakukan bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat perbatikan. Persemaian ini penting dalam spektrum pandang bahwa batik sebagai karya budaya patut dirawat dan dilestarikan. Tanpa seni dan intelektual berada di barisan depan, parade pertumbuhan dan perkembangan batik sebagai bagian dari karya budaya yang harus bisa hidup dalam ekonomi pasar, maka eksistensi batik terancam punah.

Upaya persemaian ini mutlak dilakukan dan harus dikerjakan bersama antara pemerintah, masyarakat batik dan akademisi. Batik bukan sekedar transformasi input menjadi output yang bernilai pasar. Batik muncul sebagai output karena proses transformasi nilai yang basis utamanya adalah nilai budaya dan nilai ekonomi, bahkan ada unsur nilai spiritualitas dan emosionalnya.

Sebab itu, imajinasi, kreatifitas dan inovasi menjadi lahan yang harus disuburkan melalui proses persemaian yang baik, benar dan berkelanjutan agar batik tetap lestari dan makin bernilai ekonomi tinggi.  Sebab itu, masyarakat batik nasional sudah waktunya menciptakan paradigma baru dalam dunia perbatikan ini untuk menghasilkan para prekusor batik yang berkemampuan melakukan transformasi lebih jauh melalui pendekatan yang lebih komprehesif.

Desain Batik

Proses transformasi batik sebaiknya berjalan dalam satu proses pentahapan, yang dimulai dari sejak mendapatkan pengakuan Unesco sebagai warisan budaya bangsa Indonesia, kemudian menciptakan gerakan gelombang baru untuk melahirkan nilai-nilai baru batik Indonesia dengan pilar utamanya budaya dan ekonomi, kesejahteraan sosial masyarakat.

Proses evolosinya berlanjut ke tahap yang paling kita harapkan bahwa batik Indonesia akan tampil sebagai “Globalisasi Batik Indonesia” dan diikuti oleh kemunculan desain batik Indonesia yang mendunia.

Inilah esensi pentingnya persemaian artistik dan intelektual batik Indonesia di zaman globalisasi dan digitalisasi. Kalau tidak memiliki blue print semacam itu, batik sebagai the people industry akan stug in the midlle.

Tampil dalam ekonomi pasar, desain batik Indonesia harus muncul dari perpaduan warisan budaya, revolusi konsumen dan kebebasan baru yang melahirkan kelompok konsumen yang independen dan berdaya beli tinggi. Catatan paling akhir dari serangkaian tulisan ini adalah. bahwa ekonomi pasar bekerja di drive oleh faktor permintaan.

Artinya posisi tawar di sisi penawaran harus bisa menyesuaikan diri  dengan dinamika pasar. Produsen tidak bisa lagi sepenuhnya mendikte pasar, tapi para konsumennya yang pada dasarnya mampu mengarahkan kebutuhan di pasar.

Sarannya Masyarakat Batik Indonesia (MBI) harus bersatu membangun kekuatan bersama dan pemerintah pusat dan daerah menjadi pendukung utama MBI melalui progam-progam yang lebih berkualitas dan fokus. (penulis adalah pemerhati masalah sosial, ekonomi dan  industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar