Fenomena dan Dinamika Ekonomi Sebagai Siklus

Oleh: Fauzi Aziz

DEWASA ini kita selalu cemas mengikuti perkembangan ekonomi dan bisnis di arena global akibat kelesuan ekonomi. Padahal, kelesuan atau pelambatan ekonomi sebenarnya bisa dikatakan sebagai fenomena dan dinamika ekonomi yang biasa. Bukan hal yang luar biasa, karena terkait dengan siklus ekonomi.

Booming atau lesu adalah fenomena dan dinamika ekonomi/bisnis semata. Karena itu, tidak bisa dikatakan sebagai peristiwa ekonomi yang luar biasa. Booming ekonomi, kalau sampai buble, pasti meledak dan menimbulkan “bencana” ekonomi yang bisa berakibat timbulnya krisis atau depresi.

Sebab itu, ketika ekonomi memanas harus didinginkan melalui penggunaan instrumen moneter dan fiskal. Jika booming, buble dan akhirnya meledak, itu pasti karena deteksi dini tidak jalan. Atau terjadi mismatch dalam pengelolaan ekonomi atau bisnis.

Sebaliknya jika ekonomi lesu atau ada pelambatan pertumbuhan, dilihat dari sebab musababnya secara umum diakibatkan oleh faktor salah urus juga, sehingga sebagai remedy-nya, pemerintah akan memberikan stimulus ekonomi melalui pelonggaran moneter maupun fiskal agar kegiatan ekonomi menggeliat kembali.

Jadi, fenomena dan dinamika ekonomi yang muncul dan berkembang dalam satu siklus, pertanda kegiatan dan proses ekonomi di masyarakat hidup dan jalan sesuai hukum pasar.

Sebab itu berkembang mekanisme risk management dan prudential policy untuk menjaga fundamental ekonomi dan membentengi diri dari pengaruh eksternal yang bisa merugikan ekonomi domestik.

Dalam satu entitas ekonomi yang misalnya tingkat participation index-nya makin besar dalam global value chain, maka ketika lokomotif ekonominya tumbuh mengesankan, maka gerbong-gerbong ekonominya yang bergerak dalam satu rangkaian proses akan menikmati manfaatnya. Tapi bila lokomotif penggeraknya mogok, akan terkena akibatnya, yakni ikut mogok juga.

Kita mengenal tiga lokomotif besar yang horse power-nya sangat besar. Mereka adalah AS, Uni Eropa dan Tiongkok. Ketika lokomotif AS dan Uni Eropa mogok, gerbong pengikutnya jadi “korban” karena ekonominya tidak bisa ditarik.

Kini lokomotifnya hanya tinggal satu, yakni Tiongkok yang ekonominya masih bisa tumbuh 6,7% pada tahun 2016. Celakanya, lokomotif Tiongkok ini terimbas oleh mogoknya lokomotif AS dan UE sehingga total pertumbuhan ekonomi global merosot dan hanya mampu tumbuh jauh di bawah 4%.

AS saja, tahun 2016 hanya tumbuh 1,9%. Global value chain adalah penting sebagai konsekwensi dari berkembangnya integrasi ekonomi secara global. Sharing economy of growth yang lahir dari berkembangnya global value chain memang itulah fenomena dan dinamikanya.

Selalu memerlukan lokomotif ekonomi yang horse power-nya besar agar pusat-pusat produksi di berbagai belahan dunia bisa bekerja pada skala produksi yang optimal.

Dampak dari macetnya lokomotif AS dan Uni Eropa, sistem perdagangan multilateral melambat. Fenomena dan dinamika ini telah berakibat, sidang WTO putaran Doha, mandeg. Karena itu, kegiatan ekonomi kawasan menjadi hidup, meskipun belum mampu menciptakan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi karena ekonomi kawasan juga bergantung pada pertumbuhan ekonomi global.

Pun kegiatan ekonomi dan bisnis yang berlangsung secara bilateral tak memimiliki daya ungkit yang besar untuk menghela pertumbuhan ekonomi masing-masing negara yang bermitra.

Jadi, bila kita mencermati dengan seksama mengenai fenomena dan dinamika ekonomi dewasa ini, antara lain dapat dicatat, saat ini hal yang kita hadapi adalah pelambatan pertumbuhan. Pilihannya harus bangkit karena banyak biaya sosial dan biaya lingkungan yang harus dipikul.

Itulah mengapa kerjasama ekonomi yang saling memberi manfaat harus dijaga dan dipelihara bersama karena semua negara pihak memerlukan kebutuhan yang sama, yakni ekonominya tumbuh dan rakyatnya bisa hidup layak agar mempunyai kekuatan daya beli.

Sharing of growth menjadi penting, baik dalam rangka kerjasama ekonomi multilateral, regional maupun kerjasama ekonomi bilateral. Ketiga sistem ini sama pentingnya. Yang beda hanya kapitalisasi pasarnya.

Fenomena dan dinamika baru yang kini muncul adalah soal lahirnya konsep tentang pertumbuhan yang berkelanjutan dan berkeadilan karena dunia sekarang tidak hanya menghadapi masalah pertumbuhan lambat, tetapi telah melahirkan kesenjangan global.

Bukan hanya itu. Pertumbuhan ekonomi tinggi juga telah memunculkan masalah global warming dan climate change. Kesenjangan dan kerusakan lingkungan harus dibiayai untuk penyelamatan bumi. Berarti ekonomi harus tumbuh. Apakah harus tinggi? Idialnya begitu.

Pasalnya, kalau pertumbuhan ekonomi sebagian diperhitungkan dengan beban biaya sosial dan lingkungan. maka pertumbuhan tinggi harus diupayakan supaya bisa membayar biaya-biaya tersebut, maupun untuk melunasi hutang.

Sebab itu, para ahli ekonomi dunia membuat prediksi bahwa ekonomi Asia dengan Tiongkok dan India sebagai kekuatan lokomotif penggeraknya, secara idial harus bisa mempertahankan pertumbuhan rata-rata 5-7% dimasa mendatang agar ada perbaikan standar hidup warganya.(penulis adalah pengamat masalah sosial, ekonomi dan industri)

Berita Terkait

Komentar

Komentar