Globalisasi Liberalisasi dan Perdagangan Bebas Hanya Modus

Oleh: Fauzi Aziz

 

KITA tidak perlu njlimet memikirkan tentang pentingnya ekspor. Semua pihak juga sangat faham tentang pentingnya ekspor bagi kepentingan ekonomi semua negara di dunia. Teori tentang ekspor sudah terlalu banyak kita pelajari dan telah dipraktekkan oleh siapa saja yang menjadi pelaku ekspor.

Ekspor tidak lebih dari praktek perdagangan biasa antar negara. Ada barang, ada rupa, ada harga, berunding dan kemudian deal. Kapan dikirim, pakai moda apa dikirimnya, mau bayar pakai mata uang apa dan kapan tiba. Setelah itu beli lagi atau tidak, itu urusan belakangan.

Di lapangan ada ilmu yang menarik dalam hubungan dagang secara konvensional, yaitu ‘’ooh ini dia pelanggan setia yang selalu membeli barang saya dalam kondisi pasar sepi atau ramai’’.

Sebagai pemasok tentu patut memberikan penghargaan tinggi kepada pelanggan yang memberikan kepercayaan. Kita tahu bahwa dagang adalah bisnis kepercayaan, apalagi dalam hubungan dagang antar negara menjaga hubungan baik dan kepercayaan adalah penting. Tidak perlu ngukir langitlah, bicara soal hubungan multilateral dan hubungan regional segala. Hubungan dagang antar negara dari dulu hingga kini yang ada adalah hubungan bilateral.

Makin banyak hubungan bilateral terjalin berarti makin banyak barang dagangan yang bisa laku dijual. Multilateral dan regional itu apa sih? Kedua sistem tersebut tidak lebih dari forum kongkow-kongkow saja, bicara soal politik dagang tentang ekspor-impor.

Kedua sistem ini yang sesungguhnya malah membuat perdagangan dunia lambat karena terlalu banyak yang mau diurus dan kadang-kala ekspektasinya berlebihan. Karena yang banyak dibicarakan adalah soal politik dagang, maka berarti bicara tentang kepentingan dagang. Karena bicara kepentingan, maka terjadilah konflik kepentingan. Karena ada konflik kepentingan, maka perlu perundingan.

Manakala perundingannya macet, berarti secara multilateral dan regional, kegiatan perdagangan dunia ikut terganggu dan akhirnya terjadi pelambatan perdagangan dunia yang berdampak terhadap pelambatan ekonomi.

Perundingan Doha mandeg  karena konflik kepentingan yang tak bisa diselesaikan oleh WTO. Terlalu banyak aturan dan terlalu mau ikut campur urusan dagang antar negara, malah jadi masalah. Sudahlah, beri kesempatan pada semua negara untuk mengurus rumah tangganya masing-masing, jangan terlalu banyak dicampuri urusannya, yang begini boleh yang begitu tidak boleh, ternyata semuanya itu adalah bicara kepentingan.

Hukum besinya adalah kepentingan yang mau diurus banyak, akan menghasilkan konflik kepentingan yang juga makin banyak. Dari sekeranjang konflik kepentingan yang bisa diselesaikan tidak lebih dari 20%, sisanya yang 80% adalah pending matters yang tak pernah dapat diselesaikan.

Mengapa hanya sedikit yang bisa diselesaikan. Penulis menjawab bahwa  pekerjaan di dunia ini paling susah dan rumit adalah mengurus kepentingan. Apa yang terjadi? Enak saja lembaga internasional seperti WTO hanya mengatakan putaran Doha macet dan lembaga internasional lain seperti IMF dan WB menimpali bahwa ekonomi dunia menghadapi ketidakpastian. Ini namanya lempar batu sembunyi tangan.

Terkait dengan apa yang penulis sampaikan itu, bahwa dunia sejatinya lebih memilih praktek dagang antar negara secara bilateral. Perjanjian dagang bisa disusun dan disepakati negara yang saling bermitra. Tunduk pada azas saling memberi manfaat bagi kepentingan ekonomi masing-masing negara.

Bertiup Kencang

Soal hubungan dagang bilateral adalah soal periuk nasi masing-masing. Ada masalah dapat segera diselesaikan secara bilateral. Kalau neraca dagangnya timpang, ajak berunding dan tak perlu ngajak perang dagang. Inilah prinsip dasar cooperation yang harus ditegakkan dalam setiap kerjasama ekonomi antar negara.

Globalisasi liberalisasi dan perdagangan bebas adalah hanya modus dalam praktek ekonomi politik dan politik ekonomi global. Kini angin bilateralisasi bertiup kencang dan angin multilateralisasi dan regionalisasi lamban tapi pasti akan mengalami mati suri karena tidak pernah menghasilkan solusi terbaik dalam hubungan ekonomi internasional, akhirnya lempar handuk dengan mengatakan bahwa dunia dilanda ketidak pastian.

Bandul bilateralisasi sudah terayun makin kencang. Indonesia yang sudah bertekad meningkatkan ekspor barang dan jasa harus mengambil momen itu. Kita lakukan door to door. Kita datangi Donald Trump, kita datangi Xi Jiping, kita datangi pemimpin dunia yang lain untuk melakukan hubungan dagang dengan Indonesia.

The marketing of Nation kita lakukan dengan strategi door to door. Misinya tergeted, barang dan jasa apa saja yang akan kita jual ke AS, Kanada, Jerman, China, India. Jepang, Korsel, Arab Saudi, Afrika Selatan, Irak, Iran, Mesir, Rusia. dan sejumlah negara lain di dunia. Datang untuk berunding, membuat kontrak dan para dubes dan konjen ditunjuk sebagai agen penjualan barang dan jasa yang harus dijual di negara yang bersangkutan.

Minimal setahun dua kali membuat laporan dalam bentuk neraca dagang dan neraca transaksi berjalan. Inilah konsep korporitisasi birokrasi atau enterpreneur goverment yang perlu dijalankan dalam rangka menjalankan misi The Marketing of Nation yang ujung tombaknya menjadi tanggungjawab penuh para dubes dan konjen kita di luar negeri sebagai para striker yang haus mencetak gol. (penulis adalah pemerhati ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar