Globalisasi Tetap Tersekat-sekat

Oleh: Fauzi Aziz

 

BERAPA kali kita sudah membahas globalisasi. Namun tidak membuat perubahan apa-apa dalam pergaulan antar bangsa. Betapa tidak. Buktinya warga dunia masih asyik berperang, saling berusaha bahwa wilayah X-Y-Z adalah kekuasaan saya.

Buktinya kita masih mengkapling-kapling lautan daratan dan udara. Kita tetap memiliki batas-batas negara secara de facto dan de jure secara pisik. Bangsa maju bukan karena globalisasi tadi. Tapi karena bangsa bersangkutan berhasil membangun peradabannya dan sukses menjadi bangsa pembelajar. Akhirnya tampil menjadi bangsa yang unggul.

Teknologi informasi berkembang seperti sekarang akibat kemajuan di bidang sains dan teknologi dan hasil dari proses pembelajaran tiada henti. Teknologi informasi adalah tool untuk mempermudah akses informasi dan komunikasi.

Hanya ini yang kita nikmati sehingga kita bisa berdiplomasi secara nirkabel, dapat berbisnis secara online dan sebagainya. Hal yang demikian tidak bisa diklaim begitu saja sebagai produk globalisasi. Tapi teknologi informasi hadir dan bersemi dalam kehidupan seratus persen murni karya peradaban.

Lantas bagaimana muncul fenomena globalisasi ini. Mari kita jawab bersama berdasarkan akal sehat. Pertama, globalisasi adalah “karya politik” yang membonceng karya peradaban berupa teknologi informasi.

Mengapa karya politik? Hal ini muncul karena Barat ingin memaksakan kehendaknya agar demokrasi liberal menjadi satu-satunya doktrin politik liberal yang harus dijalankan semua negara di dunia.

Dunia akan dibuat datar (flat) atas dasar konsep peta geopolitik global sehingga jangan heran kalau kemudian jargon globalisasi selalu diupayakan untuk disetarakan dengan demokratisasi dan digitalisasi.

Kedua, dengan globalisasi dan bangsa-bangsa di dunia distigma oleh cara pikir yang mengatakan, dunia tak lagi mengenal batas-batas. Atau kita sering mendengar istilah, dunia tanpa batas lagi, adalah manipulasi politik global yang dikembangkan Barat supaya kekuatan hegemoninya leluasa masuk wilayah negara lain sambil mengekspor demokrasi liberal ke negara yang menjadi target.

Setelah berhasil mendemokrasikan negara bersangkutan, Barat tak ambil pusing dengan kondisi politik di dalam negeri yang mengimpor demokrasi Barat yang liberal dan bebas. Makin keos dan tak terkendali serta menimbulkan ketegangan sosial di dalam negeri, mereka masuk bukan melakukan pembenahan, tapi masuk melakukan kolonisasi dan invasi politik dan ekonomi.

Anda mungkin belum lupa ketika sering dikatakan bahwa telah terjadi pergeseran dari Barat ke Timur. Tiongkok yang dikenal sebagai bangsa pembelajar ikut memanfaatkan momentum itu dengan menjalankan strategi One Belt One Road (OBOR).

Dengan strategi ini jika anda membaca konsepnya adalah tidak lebih dari upaya mengokohkan eksistensi Tiongkok di Asia sebagai kekuatan ekonomi baru di masa mendatang. Salah satu bentuk implementasi OBOR tersebut, Tiongkok membentuk Asia Infrastructure Invesment Bank (AIIB) yang menyediakan dana pembangunan infrastruktur untuk menciptakan konektivitas darat dan laut di Asia.

Semua aktivitas ini akan langsung dikontrol dari Head Quarternya di Beijing. Tiongkok ibaratnya memposisikan diri sebagai Holding Company perusahaan raksasa ekonomi dan bisnis Asia. Negara-negara di Asia yang dimasukkan dalam jaringan OBOR adalah ibarat Strategic Business Unit (SBU).

Globalisasi dan demokratisasi adalah “proyek politik” yang terbungkus rapi dalam balutan hegemoni politik dan ekonomi. Sedangkan teknologi informasi karya peradaban murni yang membuat manusia sedunia menggunakan instrumen teknologi informasi sebagai alat bertukar informasi dan komunikasi secara real time.

Karya ini dikapitalisasi sebagai isu politik global sehingga warga dunia dihipnotis dengan dunia tanpa batas.

Jadi, dunia tetap seperti apa adanya. Tersekat-sekat dalam kedaulatan politik, kedaulatan ekonomi, kedaulatan budaya dan kedaulatan teritorial darat, laut maupun udara. Dalam konteks ownership, semuanya tetap dimiliki dan dikusai semua negara yang berdaulat, seperti Indonesia.

Sebab itu, jangan mudah terkecoh oleh isu-isu gombalisasi yang berselimut di balik globalisasi. Gunakan teknologi informatika untuk hal-hal yang sifatnya konstruktif, produktif. Tidak dipergunakan untuk hal yang sifatnya konsumtif, destruktif. Pakailah teknologi informasi menjadi media pembelajaran yang efisien dan dialog peradaban dengan warga dunia yang lain.

Bangsa pembelajar adalah kunci sukses menjadi bangsa unggul. Bangsa HOAX adalah hanya menghantarkan bangsa ini menggali liang kuburnya sendiri karena kita gagal menjadi bangsa peradaban yang berbudaya luhur dan agung.

Dalam perang proksi, tidak dikenal siapa kawan dan siapa lawan. Karena musuh mengendalikan non state actors. Indonesia yang lemah dan terpecah-pecah dalam faksi-faksi politik dan kebangsaan menjadi medan yang empuk para pihak yang menjalankan perang proksi di Indonesia. (penulis adalah pemerhati masalah sosial, ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar