Harus Dipaksa, Transfer Teknologi Hanya ada di Buku

161014-usaha4

JAKARTA, (tubasmedia.com) – “Transfer teknologi itu cuma ada di buku, yang kita lakukan adalah memaksa alih teknologi. Caranya macam-macam, salah satunya melalui aturan tingkat kandungan dalam negeri,” tegas Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Darmadi di Jakarta, Selasa (14/10).

Menurut Budi, industri elektronik merupakan sektor yang sangat cepat mengalami pembaruan teknologi. Setiap dua atau tiga tahun produsen elektronik melakukan pengembangan teknologi produk guna menghasilkan barang yang lebih canggih. Trend tersebut perlu dibarengi peraturan yang bisa mendorong alih teknologi dari produsen asing kepada industri nasional.

Siklus pembaruan teknologi sangat cepat karena para produsen rajin meng-upgrade produknya. Setiap produsen harus meninggalkan produk low-end technology dan beralih ke high-end technology. Contohnya adalah LG. Sejak pertengahan tahun 2013, LG Indonesia resmi meninggalkan era produksi televisi layar cembung. Harga produk TV jadul ini meroket sedangkan trend harga televisi LCD semakin murah. Hasilnya, margin keuntungan dari penjualan televisi layar cembung ini tidak lagi ekonomis.

Pemerintah harus membuat kebijakan yang sesuai dengan trend industri. Budi juga mengatakan regulasi yang diterapkan harus dapat memaksa terjadinya alih teknologi ke dalam negeri. Contoh sederhananya adalah dengan memaksa melalui regulasi untuk menggunakan instrumen konten lokal.

Fokus manufaktur produk elektronik berbeda dengan industri otomotif di mana tujuan utamanya untuk memperkuat penguasaan pangsa di pasar domestik. Hal ini disebabkan serapan produk elektronik di luar negeri lebih banyak ketimbang di Indonesia. Penjualan produk elektronik konsumsi seperti TV, AC, dan kulkas di dalam negeri adalah USD 3,5 miliar per tahun sedangkan untuk transaksi ekspor angkanya lebih dari dua kali lipat yaitu USD 7,5 miliar. Selama ini, produk elektronik buatan Indonesia memiliki pangsa pasar utama di Eropa, Amerika, dan ASEAN. (sis)

Berita Terkait

Komentar

Komentar