Hati-hati, Indonesia Berpotensi Pecah Seperti Irak dan Surya

JAKARTA, (tubasmedia.com) –  Sejak Pilkada 2017 hingga sekarang mau Pemilu dan Pilpres, politik di Tanah Air terus memanas bahkan telah menggoyang eksistensi Pancasila sebagai dasar negara.

Hal itu  dikatakan Ketua Umum DPN Gerakan Nasional Peduli Anti Narkoba & Tawuran (Gepenta) Brigjen Pol (Purn), Parasian Simanungkalit di Jakarta kemarin.

“Pancasila sudah dicela oleh orang yang tidak menerima sebagai dasar NKRI walaupun diketahui bahwa Pendiri Bangsa dan Negara Indonesia adalah tokoh-tokoh Islam,” kata Parasian

Dia mengajak kita menoleh kejadian di Suriah dan Irak terkait terjadinya pemberontakan yang berdalih Khilafah. Suriah dan Irak adalah Negara berdasarkan Islam kemudian muncul kelompok fundamentalis ingin membuat dan menegakkan beberapa negara Khilafah Negara Islam. “Lha sudah negara Islam mau dibentuk Negara Khilafah Islam sehingga terjadilah perang saudara yang terbawa-bawa dan janji-janji muluk memberikan kesejahteraan rakyat, maka rakyatnya mau memberontak,” tuturnya.

‘’Sementara Indonesia adalah negara Pancasila, yang telah diukir dan didirikan oleh tokoh ulama, negarawan, pahlawan yang beragama Islam. Yang memilih Pancasila sebagai Dasar Negara, maka harus tetap dipertahankan terus,’’ sambungnya.

Setelah ditelusuri, lanjut Parasian, ternyata di Suriah ada juga slogan, stiker dan brosur #2011GantiPresiden. Karena ingin menjatuhkan Presiden Bassar Hafiz Al Asad tidak dapat dilakukan, maka kelompok yang membuat slogan itu melakukan pemberontakan. Maka luluh lantaklah kota-kota di Suriah yang juga merambah ke Iraq.

Cegah!

Oleh karena itulah, dia meminta KPU dan Bawaslu segera menghentikan kampanye #2019GantiPresiden. “Pemerintah dengan aparatnya BIN, Bais, Baintelkam, serta TNI dan Polri dan rakyat Indonesia harus secara dini mencegah terjadinya pemberontakan dalam Negeri,” pintanya.

Dia berharap, jangan sampai terlena. Harus waspada apa sudah ada kelompok yang memiliki senjata api? Kalau ada harus diungkap dari sekarang. Jangan seperti di Suriah dan Irak.

‘’Awalnya pemberontak hanya memiliki senjata ringan. Tetapi setelah pemberontakan dimulai maka negara-negara lain pun ikut memasok senjata berat untuk menggulingkan Pemerintahan,’’ jelasnya.

“Nah kalau perbuatan dan tindakan seperti ini terjadi di sini dan tidak terdeteksi secara dini oleh aparat intelijen, maka jelas sudah terlambat. Penyesalan akan tidak ada gunanya. Mengapa demikian karena di Indonesia rawan pemberontakan dan mungkin bisa terulang seperti pemberontakan PKI Muso, pemberontakan Kartosuwiryo, Kahar Muzakar, PRRI/Permesta dan G30S PKI,” katanya mewanti-wanti.

Karena itu, dia berharap Pemerintah dalam hal ini Kemendagri melakukan pembinaan wilayah. TNI melakukan pembinaan teritorial untuk menciptakan kesiapan rakyat dalam Bela Negara. Demikian juga Polri melakukan pembinaan masyarakat agar rakyat menjadi kekuatan deteksi dini terhadap adanya ajakan kelompok tertentu yang akan melakukan pemberontakan terhadap negara.

“Kemenhan dan Polri diharapkan membentuk seluruh rakyat Indonesia untuk turut dalam upaya dan usaha Pemerintah mempersiapkan kekuatan: Pertahankan NKRI dengan Perlawanan Rakyat Semesta,” tutupnya. (red)

Berita Terkait

Komentar

Komentar