Hentikan Politik Nyinyir!!!

Oleh; Sabar Hutasoit

 

NYINYIR, saat ini menjadi sikap yang populer di kalangan masyarakat, khususnya bagi mereka yang sedang ‘’terlibat’ dalam suatu perebutan. Apakah itu perebutan harta, perebutan kejuaraan, perebutan kekuasaan, dan perebutan apa saja.

Sikap yang berkonotasi negatif itu tumbuh subur, tidak lagi hanya di kalangan ibu-ibu atau masyarakat lapisan menengah ke bawah, akan tetapi merasuki pribadi papan atas. Misalkan para politisi kawakan.

Padahal, sikap nyinyir tersebut sejatinya menempel pada bagian sikap emak-emak, khususnya emak-emak tukang ngomong, emak-emak si tukang gunjing atau yang sering disebut si kaleng rombeng, atau si mulut ember.

Padahal, nyinyir itu bukan solusi. Akan tetapi alat pemantik yang bisa semakin menyulut perseteruan karena isi nyinyir angat negative dan sebenarnya tidak bia dipertanggungjawabkan. Bahasa kerennya, nyinyir itu bukan fakta hokum.

Namun kenapa nyinyir juga merasuki sikap dan perangai sebagian besar tokoh-tokoh politik zaman sekarang? yang seharusnya nyinyir itu milik emak-emak si tukang cibir?

Itulah dampak negatif politik. Demi kepentingan politik, segala cara dapat dihalalkan.  Bayangkan saat ini, pendukung capres Joko Widodo, disebut kecebong dan pendukung capres Prabowo disebut kampret.

Jujur, jukukan itu sama sekali tidak mendasar dan tidak punya alasan kenapa kedua belah pihak dijuluki nama binatang.

Isi perdebatan yang dilontarkan pendukung kedua belah pihak, juga jauh dari mendidik bahkan tidak ada mutu. Isinya lebih parah dibanding kalimat yang keluar dari mulut orang-orang pasaran yang sedang ribut di pinggir jalan atau di pasar misalnya.

Untuk itu, demi kelangsungan berbangsa dan bernegara yang bermartabat, sebaiknya para pendukung kedua capres mengubah gaya perdebatan dari isinya gak bermutu menjadi bermutu dan berdaya guna, khususnya bagi para generasi penrus.

Isilah perdebatan itu dengan ide-ide yang berilian, dengan gagasan-gagasan yang cemerlang, dengan propram-program yang mencerdaskan, bukan dengan kata-kata yang isinya negatif dan hanya mengutarakan kelemahan lawan politik.

Pasalnya, andaikan anda hanya bisa menyuarakan kelemahan-kelemahan lawan politikmu, belum tentu anda lebih hebat dari yang anda jelek-jelekkan itu.

Karena itu tawarkanlah ide-ide, program-program serta gagasan-gagasan yang mencerdaskan anak-anak bangsa. Jangan saling menjelekkan karena tidak ada unsur mendidiknya, selain hanya menyulut perseteruan yang semakin ganas.

Saatnya Indonesia menjauhkan sistem politik nyinyir karena sistem itu tidak sesuai dengan motto kebudayaan bangsa ini. Indonesia yang terkenal negara ber-Pancasila dan bermartabat, jangan dicemari oleh segelintir orang yang tak bertanggungjawab yang nota bene senang melihat Indonesia porak-poranda.

Politik nyinyir juga adalah jawaban dari ketidakmampuan para pihak menawarkan ide dan gagasan serta program-program yang bersifat mendidik sehingga ketidakmampuan itu ditutupi dengan cara melemparkan bahasa-bahasa mencibir yang lebih gampang ditemukan ketimbang mempersiapkan program. (penulis adalah seorang wartawan)

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar