Hidup Berdampingan Secara Damai

Oleh: Fauzi Aziz

JUDUL tulisan ini sangat konstruktif dan bernas. Betapa tidak? Karena damai adalah dambaan kita dalam kehidupan apapun dan dalam kondisi bagaimanapun. Bayangkan ketika kita berdampingan, tapi tak pernah damai, apalah artinya hidup ini. Emangnya ada dalam suasana berdampingan, tapi tak berdamai.

Boleh jadi ada. Banyak barangkali jumlahnya karena manusia sangat pandai berpura-pura sehingga hati kita suka terusik dan akhirnya goyang. Jjangan-jangan memang benar, berdampingan sekedar memuaskan banyak pihak, padahal sejatinya sedang tidak berdamai diantara yang berdampingan

Ketawa ketiwi, cipika-cipiki dan sebagainya, tapi sebenarnya artifisial belaka. Oleh sebab itu, kalimat pamungkas “Hidup Berdampingan Secara Damai” terumuskan dengan amat sempurna sebagai obat bius penangkal sakit karena melihat realita tak selamanya manusia bisa berdamai, meskipun berasal dari ras, suku yang sama.

Apalagi antar bangsa. Kita lihat di sela-sela pemberitaan selalu muncul kabar tentang peperangan, konflik terjadi di berbagai belahan dunia. Damai itu indah diujarkan. Hidup berdampingan secara damai adalah sebuah kemuliaan meskipun tidak serta merta menjadi niscaya karena manusia suka terbelah pikiran dan sikapnya dalam keseharian melihat kenyataan.

Sebab itu, ajaran tentang damai, perdamaian, tentang pentingnya hidup berdampingan secara damai adalah sebuah doktrin bijaksana untuk memuliakan kehidupan umat manusia dimanapun, agar satu sama lain berinteraksi secara damai bersifat never ending.

Darimanapun sumber ajaran tersebut, kemanusiaan manusia memang perlu diasah dan diasuh agar bisa menciptakan perdamaian sekecil apapun wujudnya. Apalagi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara maupun dalam skala hubungan antar negara.

Oleh sebab itu, mengedukasi diri, menyadarkan diri akan pentingnya hidup berdampingan secara damai adalah proses pembelajaran paling paripurna di antara sekian banyak proses pembelajaran yang kita lewati.

Tidak ada lagi peperangan dan tidak ada lagi kepura-puraan, saling sikut kiri-kanan berebut jabatan, kekayaan dan kekuasaan, karena peran manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi sudah dicabut kembali mandatnya karena memang tugas sudah berakhir.

Yang tersisa hanyalah laporan pertanggungjawaban kepada Tuhan atas segala tindakannya ketika diberi mandat mengurus bumi. Yang pasti tidak bisa dimanipulasi dan di-window dressing karena sistem akuntasi Tuhan adalah paling benar, clear and clean dan tidak ada hak jawab karena semuanya bersifat final dan mengikat pada diri setiap manusia.

Akhirnya, kita menemukan sebuah jawaban, bahwa hidup berdampingan secara damai banyak manfaatnya daripada mudlaratnya. Siapa saja yang selalu mengajarkan tentang pentingnya hidup berdampingan secara damai di dunia ini semoga saja pahalanya berlimpah, termasuk para juru damai setiap ada perselesihan, konflik,dan peperangan dalam skala apapun dan dimanapun mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpahala.

Indonesia sebagai negara besar yang berkeragaman suku, ras dan agama, sudah sepatutnya harus bisa hidup berdampingan secara damai dengan nilai ketulusan dan kejujuran yang cair, tidak artifisial sehingga kita selamat dunia dan akhirat.

Tapi jika sebaliknya, kehancuran tak terelakkan lagi. Indonesia akan dikatakan bukan tempat pembelajaran yang baik bagi pengelolaan keberagaman karena tak pandai mengurus dirinya menciptakan kehidupan yang bisa selalu hidup berdampingan secara damai.
Manusia bisa menjadi pencipta perdamaian di dunia ini, namun dapat pula menjadi perusak perdamaian karena egonya, karena nafsunya. Salam untuk negeriku, salam untuk para pemimpin Indonesia dan dunia yang cinta damai. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi).

Berita Terkait

Komentar

Komentar