IKM di Tegal, Terpuruk

TALANG, (tubasmedia.com) – Sejumlah Industri Kecil Menengah (IKM) di Kabupaten Tegal kian terpuruk, akibat imbas pasar bebas. Omset yang sebelumnya mencapai Rp300 juta per bulan, kini hanya Rp150 juta.

“Turunnya sangat drastis, sekitar 50 persen,” kata Arifin, salah seorang pengusaha IKM di RT 3 RW 1 Desa Kebasen Kecamatan Talang Kabupaten Tegal saat dikunjungi Tim Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), belum lama ini.

Dia yang memproduksi komponen alat pemadam kebakaran (damkar) dan peralatan Pertamina sejak 1998 itu, pernah meraih puncak kejayaan tahun 2008 dan 2009. Kala itu, dia mampu meraih omset sedikitnya Rp300 sebulan.

Namun, menginjak tahun 2010 hingga sekarang, produksinya kian menurun. Jumlah karyawan yang saat itu mencapai 30 orang, kini hanya tersisa 10 orang.

“Kondisi itu setelah adanya produk dari Jepang dan Amerika yang masuk ke Indonesia,” jelasnya.

Padahal menurutnya, harga produk dari Jepang lebih mahal dibanding dengan produk dari Indonesia. Jika Indonesia harganya hanya Rp5 juta, buatan Jepang mencapai Rp30 juta. Namun, konsumen cenderung memilih produk Jepang.

“Saya tidak tahu alasannya kenapa. Padahal produk kami juga bagus dan berkualitas,” ungkapnya.

Ketua KPPU Syarkawi Rauf mengaku akan mendorong agar industri besar dan kecil di Indonesia tumbuh bersama. Caranya, dengan e-katalog yang berisi produk-produk industri dalam negeri.

“Kita akan mendorong para IKM supaya masuk dalam e-katalog. Jadi tidak hanya dari industri besar saja yang masuk e-katalog,” ujarnya.

Untuk masuk ke dalam e-katalog, IKM harus memenuhi persyaratan. Utamanya, produk yang dihasilkan harus berstandar SNI. “Syarat-syarat itu harus dipenuhi,” katanya. (red)

Berita Terkait

Komentar

Komentar