INAplas Tolak Tuduhan, Indonesia Penyampah Plastik Terbesar Kedua di Dunia

MEMBERI KETERANGAN – Dr Jenna Jambeck sedang memberi keterangan disaksikan moderator Teddy Sianturi (kemeja putih) dan pembicara lain, Edi Rivai dari INAplas dan Dr Zainal Abidin dari ITB Bandung. –tubasmedia.com/sabar hutasoit

 

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Wakil Ketua Asosiasi Industri Olefin, Aromatik & Plastik Indonesia (INAplas), Suhat Miyarso, mendesak peneliti senior Marine Debris dan Associate Professor dari Georgia University, Amerika Serikat, Dr Jenna Jambeck mencabut tuduhannya yang mengatakan, Indonesia adalah produsen sampah nomor dua terbesar di dunia yang mengotori laut dengan sampah plastik.

Hal itu dikatakan Suhat disela-sela diskusi INAplas yang menampilkan Dr Jenna Jambeck sebagai salah satu pembicara di Jakarta kemarin.

Selain Jenna Jambeck, diskusi yang dimoderatori Direktur Industri Kimia Hilir, Teddy Sianturi ini juga menampilkan pembicara lain seperti Edi Rivai dari INAplas dan Dr Zainal Abidin dari ITB Bandung.

Sebelumnya, Dr Jenna melalui hasil penelitiannya menempatkan Indonesia sebagai penyampah plastik ke laut nomor dua di dunia dengan produksi sampah plastik sebanyak 1,2 juta ton setiap tahun.

‘’Itu tidak benar, entah dapat dari mana data-data pendukungnya

sehingga memvonnis Indonesia sebagai pembuang sampah plastik ke laut  nomor dua di dunia,’’ katanya.

Suhat sangat meragukan hasil penelitian tersebut. Pasalnya menurut dia, produksi sampah plastik di Indonesia, paling banyak 0,17 juta ton setiap tahun.

‘’Ini data akurat yang kami kumpulkan pada periode 2016 dan tidak semuanya dibuang ke laut,’’ kata Suhat.

Karena itu lanjutnya, peneliti senior dari negara Paman Sam tersebut harus segera membuat rilis baru dengan data yang akurat tentunya sehingga tidak mencemarkan nama baik Indonesia.

Ditambahkan oleh Suhat dengan disebarkannya hasil penelitian yang tidaj akurat tersebut, telah berdampak buruk terhadap dunia usaha. Pasalnya, pemerintah langsung mengambil kebijakan dengan mengenakan PPn, pajak dan cukai terhadap kemasan plastik yang akhirnya membebani dunia usaha.

Diakui oleh Suhat kalau pencemaran laut oleh sampah-sampah plastik jelas telah terjadi di Indonesia dan tidak bias dibantah. Namun katanya, angkanya tidak sebombastis yang dipublikasi dr Jenna.

Sementara itu, Teddy Sianturi mengatakan, untuk memerangi pencemaran sungai dan laut dengan sampah plastik, semua pihak harus punya kesadaran, apakah itu produsen, konsumen dan juga pihak pemerintah.

Bagaimana caranya agar plastik ini tidak menjadi beban dan tidak lagi mencemari lingkungan, melainkan membuat sampah plastik memiliki nilai tambah yang positif.

Salah satu cara katanya, perlunya diterbitkan standarisasi plastik agar berat plastik tidak melebihi standar sehingga kalaupun sampah plastik dibuang ke sungai atau laut tidak terbenam tapi mengambang sehingga tidak akan tertelan oleh ikan. (sabar)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar