Indonesia Memiliki Potensi Energi Baru Terbarukan

SURABAYA, (tubasmedia.com) – Dalam rangka meningkatkan daya saing industri nasional, Kementerian Perindustrian akan terus melakukan program-program terkait dengan efisiensi atau konservasi energy.

Kemenperin juga memperhatikan pengembangan Energy Baru Terbarukan (EBT) sebagai sumber energi, peningkatan kemampuan SDM perusahaan industri dan monitoring serta evaluasi pelaksanaannya di lapangan.

Demikian Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Hijau dan Lingkungan Hidup, Kementerian Perindustrian, Teddy Sianturi di Surabaya kemarin’

Seperti misalnya langkah perusahaan industri yang dirasa perlu terus mendorong SDM-nya untuk melakukan efisiensi dan inovasi energi dengan menerapkan mekanisme pemberian reward.

Reward dimaksud kata Teddy, untuk mendorong pengusahaan dan pemanfaatan EBT di sektor industri, diperlukan kepastian kebijakan (misalnya feed-in tariff yang menarik) dan dukungan insentif (fasilitasi pengembangan produksi peralatan penunjang pemanfaatan EBT). Jenis EBT yang sering digunakan di sektor industri adalah biomass dan biogas.

Sementara itu, Teddy menyebut bahwa beberapa industri yang potensial, seperti industri semen, industri pengolahan CPO, industri pulp & kertas dan industri gula, telah memanfaatan biomass.

Menurutnya, terdapat beberapa keuntungan bagi industri manufaktur yang memanfaatkan energi baru terbarukan yang dihasilkan sendiri. Diantaranya, menjaga kelestarian lingkungan, menggunakan sistem produksi bersih pada proses produksinya, menghemat pengeluaran dalam memenuhi kebutuhan energi, meningkatkan kompetensi SDM, meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat di sekitar industri dan kemudian dapat dikategorikan sebagai industri hijau.

Indonesia menurutnya memiliki potensi energi baru terbarukan dan konservasi yang besar dan tersebar di seluruh tanah air, namun akses energi pada beberapa wilayah masih kurang.

Industri semen telah memanfaatkan sampah sebagai bahan bakar berupa RDF (Refused Derived Fuel), juga ban bekas, lumpur minyak, serbuk kayu dan sekam padi sebagai energi alternatif. Penggunaan energi terbarukan sebesar 1-3% persen dari kebutuhan energi total industri semen.

Berdasrkan data, Teddy menyebut pada industri kelapa sawit, tandan buah kelapa sawit 100% dapat menghasilkan produk utama berupa minyak sawit (CPO) 21-23% dan minyak inti sawit (PKO). Selain itu terdapat hasil samping berupa serat atau fiber 11-12%, cangkang 5-7%, tandan kosong 20-23% dan limbah cair / Palm Oil Mill Effluent (POME) 50-60%.

Sementara pada industri gula tebu menunjukkan bahwa dari perkebunan tebu akan menghasilkan biomassa berupa daun tebu 4%, pucuk tebu 14% dan tebu 82%. (sabar)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar