Indonesia Miliki Potensi Besar Kembangkan Industri Smelter Berbasis Logam

BERBASIS SMELTER – Seminar Nasional Pengembangan Industri Berbasis Smelter dan Industri Stainless Steel yang diselenggarakan di Universitas Hasanuddin, Kamis (2/3/2017) menampilkan nara sumber, Staf Khusus Menteri Perindustrian, R Sukhyar, CEO PT IMIP, Deddy Mulyadi dan Direktur Politeknik Ati Makasar, Amrin Rapi. –tubasmedia.com/ist

 

MAKASAR, (tubasmdedia.com) – Sebagai upaya memaksimalkan peningkatan nilai tambah di dalam negeri agar mampu mendongkrak kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional, Kementerian Perindustrian tengah fokus melaksanakan program hilirisasi industri berbasis sumber daya alam.

Kebijakan hilirisasi ini juga akan memperkuat daya saing dan struktur industri nasional sekaligus menumbuhkan populasinya. Upaya ini juga dapat memberikan dampak luas terhadap perekonomian nasional melalui penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa negara.

Demikian diungkapkan Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) I Gusti Putu Suryawirawan pada Seminar Nasional Pengembangan Industri Berbasis Smelter dan Stainless Steel di Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (2/3).

Hal tersebut, tambah Putu, sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, di mana pemerintah memacu program hilirisasi melalui industri pengolahan dan pemurnian atau smelter. ‘’Smelter merupakan industri padat energi dan padat modal,” katanya..

Menurutnya, pembangunan industri smelter di dalam negeri berjalan cukup baik, terutama yang berbasis logam. Sejauh ini, terdapat 32 proyek smelter logam yang tumbuh dengan perkiraan nilai investasi sebesar US$ 18 miliar, penyerapan tenaga kerja langsung sebanyak 28 ribu orang, yang pembangunannya tersebar di 22 kabupaten/kota dan 11 provinsi.

Kelanjutan dari 32 proyek tersebut menurutnya, sebanyak 20 proyek sudah 100 persen rampung, 9 proyek dalam tahap pembangunan dan 3 proyek dalam tahap perencanaan. Dari jumlah smelter tersebut, terdapat 22 industri yang telah bergabung dengan Asosiasi Perusahaan Industri Pengolahan dan Pemurnian Indonesia (AP3I) dan 75 persen telah beroperasi secara komersial.

Putu optimis, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri smelter berbasis logam karena termasuk dari 10 besar negara di dunia dengan cadangan bauksit, nikel dan tembaga yang melimpah.

“Untuk pengembangan industri berbasis mineral logam khususnya pengolahan bahan baku bijih nikel, saat ini difokuskan di kawasan timur Indonesia. Misalnya, di Kawasan Industri Morowali – Sulawesi Tengah, Kawasan Industri Bantaeng – Sulawesi Selatan dan Kawasan Industri Konawe – Sulawesi Tenggara,” jelasnya.

Kawasan Industri Morowali seluas 2.000 hektar dikelola oleh PT Indonesia Morowali Industrial Park (PT IMIP). Kawasan terintegrasi ini akan menarik investasi US$ 6 miliar atau mencapai Rp 78 triliun dengan menyerap tenaga kerja langsung sekitar 20 ribu orang dan tidak langsung sebanyak 80 ribu orang.

Kemudian, Kawasan Industri Bantaeng memiliki luas 3.000 ha yang diperkirakan akan menarik investasi US$ 5 miliar atau setara Rp 55 triliun dengan Harbour Group bertindak sebagai investor.

Sedangkan untuk Kawasan Industri Konawe, diprediksi akan menarik investasi sebanyak Rp 28 triliun. Bertindak sebagai anchor industry di kawasan ini adalah Virtue Dragon Nickel Industry, dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 18 ribu orang.

Langkah hilirisasi juga merupakan implementasi dari Undang-Undang Nomor 3 tahun 2014 tentang Perindustrian, yang pelaksanaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2015 tentang Sumber Daya Industri. Dalam peraturan tersebut, diatur mengenai pemanfaatan sumber daya alam secara efisien,ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Selanjutnya, pelarangan atau pembatasan ekspor sumber daya alam dalam rangka peningkatan nilai tambah Industri guna pendalaman dan penguatan struktur Industri dalam negeri, serta jaminan ketersediaan dan penyaluran sumber daya alam untuk Industri dalam negeri.

“Karena mengolah barang tambang tidak mudah, tetapi kita punya banyak tambang nikel. Kalau teknologinya tidak juga didukung, yang keluar bukan stainless steel, malah ternyata bisa lumpur,” ujarnya. (ril/sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar