Industri Alat Pertanian Nasional Terseok-seok Dihantam Barang Impor

JAKARTA, (tuasmedia.com) – Industri alat pertanian dalam negeri skala kecil terancam gulung tikar, babak belur dihajar alat-alat pertanian asal impor.

Hal itu diungkapkan Sekjen Asosiasi Perusahaan Alat dan Mesin Pertanian Indonesia (Alsintani), Abdul Karim kepada wartawan di Jakarta kemarin.

Kondisi ini lanjut Karim, sudah berlangsung cukup lama, akan tetapi belum ada respon dari para pihak yang berwenang untuk menyelamatkan industri alat-alat pertanian nasional skala kecil dimaksud.

“Bahkan terkesan ada pembiaran barang-barang impor dimaksud membanjiri pasar dalam negeri,’’ tegasnya.

Khusus tentang pacul impor, lanjut Karim, pelaku industri pacul dalam negeri kesulitan mendapatkan bahan baku baja yang ekonomis dan berkualitas standar agar pacul-pacul tersebut diproduksi di Indonesia.

PT Krakatau Steel (KS) selaku produsen baja kata Karim tidak mampu menyediakan baja dengan harga ekonomis tapi dengan mutu standar.

KS hanya bisa dan mau memproduksi lembaran baja dengan kualitas ASA 400 yang sebenarnya tidak layak dijadikan pacul. Untuk bahan baku pacul mutu standar adalah HRC 41, tapi KS tidak menyediakannya.

Akhirnya, produsen pacul dalam negeri memberhentikan produksinya karena bahan bakunya tidak memenuhi syarat dan harganya lebih mahal dibanding pacul jadi asal impor.

Sebagai Catatan

Sebagai catatan beberapa waktu silam, untuk mengatasi persoalan impor pacul, pemerintah mempersiapkan skema penugasan kepada tiga badan usaha milik negara (BUMN) dalam memenuhi kebutuhan pacul nasional.

Tiga BUMN tersebut adalah PT Krakatau Steel, PT Boma Bisma Indra (BBI), dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI). Direktur Utama PT Krakatau Steel Sukandar (waktu itu red.) menyatakan siap untuk memproduksi bahan baku kepala pacul berupa high carbon steel dalam memenuhi kebutuhan 10 juta unit cangkul per tahun.

“Kami memproduksinya di Cilegon. Memang membutuhkan proses pengerasan yang khusus,” ujarnya.

Sukandar menambahkan, perlu sebanyak 15.000 ton high carbon steel untuk memproduksi 10 juta unit cangkul, dengan Krakatau Steel mampu memenuhinya.

Selain itu, Direktur Keuangan dan SDM PT Boma Bisma Indra (BBI), Rahman Sadikin, mengatakan, pihaknya mampu memproduksi 700.000 unit cangkul per tahun. Pabrik BBI seluas 1 hektar berlokasi di Pasuruan, Jawa Timur.

“Pacul BBI sangat terkenal dengan kepala cangkulnya, yaitu cap mata. Kualitasnya sangat bagus. Kami memiliki lisensi dari Jerman untuk memproduksinya. Jadi, kami siap mendukung kebutuhan cangkul nasional,” tuturnya.

Rahman juga mengatakan, perusahaan akan bekerja sama dengan Krakatau Steel untuk memenuhi bahan baku material cangkul yang dibutuhkan.

Direktur PT PPI Agus Andiyani mengatakan, perusahaannya siap mendukung pendistribusian pacul produksi dalam negeri ke seluruh Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri. (sabar)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar