Industri Jadi Prioritas Pembangunan dan Pemerataan Ekonomi

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Pemerintah menetapkan industri pengolahan terutama non-migas menjadi salah satu sektor prioritas yang tengah dipacu pengembangannya sebagai penggerak pembangunan dan pemerataan ekonomi nasional.

Kontribusi industri selama ini mampu membawa efek berganda terhadap penyerapan tenaga kerja, peningkatan nilai tambah, dan penerimaan devisa.

“Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian terus fokus mendorong pertumbuhan industri dalam negeri melalui kebijakan strategis berdasarkan arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2015-2019,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai menghadiri pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) 2017 di Jakarta, Rabu (26/4).

Arah tersebut meliputi peningkatan daya saing dan produktivitas industri, penumbuhan populasi industri, serta pengembangan perwilayahan industri di luar pulau Jawa. Langkah ini akan didukung beberapa program, di antaranya penguatan kompetensi sumber daya manusia, yang menjadi pilar penting dalam kebijakan pemerataan ekonomi.

“Kami telah menyiapkan pendidikan vokasi yang link and match antara industri dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK),” ujar Airlangga.

Pada 21 April 2017, Kemenperin menggandeng sebanyak 117 perusahaan untuk menandatangani perjanjian kerja sama dengan 389 SMK dalam upaya menjalankan program pendidikan vokasi industri di wilayah Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta.

“Kami akan lakukan lagi secara bertahap di beberapa wilayah lainnya dalam upaya mencapai target satu juta tenaga kerja tersertifikasi hingga tahun 2019,” ucapnya.

Menperin juga menegaskan, pihaknya sedang giat mengajak pelaku industri agar menambah investasi di Indonesia. Hal ini seiring dengan komitmen pemerintah untuk mempermudah perizinan investasi dan memberikan insentif fiskal bagi yang berekspansi. “Sektor yang tengah didorong adalah industri padat karya berorientasi ekspor,” tuturnya.

Kemenperin mencatat, rencana investasi sampai tahun 2020 dari sektor industri mencakup 97 proyek dengan nilai sebesar Rp567,31 triliun dan diperkirakan menyerap tenaga kerja sebanyak 555.528 orang baik tenaga kerja langsung maupun tidak langsung.

Airlangga optimistis, Indonesia masih menjadi negara tujuan utama untuk investasi dan basis produksi bagi pelaku industri. Apalagi, berdasarkan data UNIDO, Indonesia termasuk dalam 10 besar negara manufaktur di dunia yang memberikan nilai tambah cukup besar dari sektor manufaktur. Capaian ini mampu melampaui negara industri lainnya seperti Inggris, Rusia dan Kanada. (sabar)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar