Industri Keramik Nasional Prospektif Jangka Panjang

PUKUL GONG – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi oleh Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Achmad Sigit Dwiwahjono (empat dari kanan) memukul gong sebagai tanda dibukanya Pameran Keramika 2017, disaksikan Dubes Italia untuk Indonesia Mr. Vittorio Sandalli (tiga dari kanan), Ketua ASAKI Elisa Sinaga, Wakil Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto (tiga dari kiri), Sekjen ASAKI Erlin Tanoyo (lima dari kiri) di Jakarta, 16 Maret 2017. –tubasmedia.com/ist
JAKARTA, (tubasmedia.com) – Industri keramik nasional masih cukup prospektif dalam jangka panjang seiring dengan pertumbuhan pasar domestik yang terus meningkat.

Peluang pengembangan sektor ini didukung pula adanya program pemerintah dalam meningkatkan infrastruktur serta pembangunan properti dan perumahan, yang diharapkan akan menggenjot konsumsi keramik nasional.

“Industri keramik menjadi salah satu sektor unggulan karena ditopang oleh ketersediaan bahan baku berupa sumber daya alam yang tersebar di wilayah Indonesia,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Pembukaan Pameran Keramika 2017 di Jakarta, Kamis (16/3).

Airlangga menyebutkan, kapasitas produksi terpasang ubin keramik nasional tahun 2016 sebesar 580 juta meter persegi dengan realisasi mencapai 350 juta meter persegi.

“Utilisasinya sekarang 65 persen, jadi harus ditingkatkan lagi. Kalau sudah mampu produksi 100 persen, kita bisa menjadi produsen keramik nomor empat di dunia,” tuturnya.

Dengan jumlah kapasitas produksi saat ini, sekitar 87 persen untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, dan sisanya diekspor ke negara-negara di kawasan Asia, Eropa dan Amerika. Sementara itu, produksi untuk jenis tableware mencapai 290 juta keping, sanitari sekitar 5,4 juta keping, dan genteng (rooftile) sebanyak 120 juta keping.

“Prospek industri keramik nasional juga dapat dilihat dari pemakaian konsumsi keramik di Indonesia yang masih lebih rendah dibandingkan di negara ASEAN lainnya,” ungkapnya.
Untuk itu, produsen keramik diminta melakukan diversifikasi produk dengan berbagai desain serta menggunakan motif khas Indonesia untuk meningkatkan permintaan dari konsumen.(ril/sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar