Industri Otomotif Tingkatkan Daya Saing Hadapi Pasar Tunggal ASEAN

noegardjito

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Pada tingkat perusahaan, industri kendaraan bermotor roda empat sudah “siap” menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC) 2015, karena sejak 1 Januari 2010, kendaraan bermotor yang diimpor dalam keadaan jadi (CBU) dari negara ASEAN lainnya tidak lagi dikenai bea masuk. Dengan demikian, “praktis” sejak 2010, untuk produk otomotif, pasar tunggal ASEAN sudah terjadi.

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Noegardjito, menjawab pertanyaan tubasmedia.com, Senin (1/6/2015), mengemukan, untuk menghadapi pasar tunggal ASEAN tentu perlu ditingkatkan daya saing.

Dikatakan, beberapa masalah yang dihadapi industri otomotif saat ini. Pertama, bahan baku logam dengan spesifikasi khusus masih diimpor (misalnya automotive steel), karena belum diproduksi di Indonesia, serta beberapa “komponen tertentu”.

Kedua, infrastruktur (jalan, pelabuhan, listrik ) perlu segera ditingkatkan. Ketiga, kebijakan yang belum bersaing dengan negara ASEAN lainnya, antara lain, perlunya penyerderhanaan prosedur dan kebijakan insentif yang lebih menarik. Kelima, akhir-akhir ini lemahnya nilai tukar rupiah dan fluktuasinya juga merupakan kendala.

Mengenai kebijakan pendukung, yang masih diperlukan, menurut Noegardjito, kebijakan yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5%, situasi politik harus tetap stabil, menjaga domestic market kendaraan bermotor dapat berkembang cukup besar, sehingga dapat digunakan sebagai “based load” untuk investasi. Hal tersebut mengingat investasi di sektor industri akan masuk ke negara yang pasar domestiknya besar.

Selain itu, dibutuhkan kebijakan industri otomotif yang tidak protektif dan insentif untuk menarik investasi, peningkatan daya saing, peningkatan ekspor, peningkatan pasar domestik (2014 dan 2015 turun dibanding 2013)

Dikemukakan, untuk jenis kendaraan yang dijadikan prioritas perlu diberikan fasilitas pajak. Misalnya, untuk jenis kendaraan hemat energi dan ramah lingkungan (low carbon emission), yang merupakan trend dunia. Hal ini perlu untuk meningkatkan ekspor kendaraan bermotor. Beberapa negara tujuan ekspor telah menerapkan kebijakan pajak dengan emisi gas buang (CO2). (ender)

Berita Terkait

Komentar

Komentar