Industri Pertrokimia Penuhi Bahan Baku Otomotif

DENGAR PENJELASAN – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama (dari kanan) Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Achmad Sigit Dwiwahjono, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono, Presiden Direktur PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. Erwin Ciputra, Presiden Direktut PT TMMIN Masahiro Nonami serta Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) I Gusti Putu Suryawirawan mendengarkan penjelasan mengenai mesin cetak untuk polypropylene yang akan digunakan pada pembuatan komponen kendaraan ketika meninjau proses produksi PT Sugity di Bekasi, Jawa Barat, 9 Februari 217.-tubasmedia.com/ist
BEKASI, (tubasmedia.com) – Industri petrokimia dalam negeri melakukan terobosan baru dengan memenuhi kebutuhan bahan baku pembuatan komponen industri otomotif.

Dalam hal ini, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) mulai memasok resin polypropylene impact copolymer untuk PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) yang akan diaplikasikan pada mobil Toyota Vios dan Yaris.

“Hal ini sejalan dengan langkah Kementerian Perindustrian untuk memperdalam struktur industri nasional agar rantai nilai dari sektor hulu sampai hilir semakin kuat sehingga dapat mengurangi ketergantungan bahan baku impor,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Peluncuran Produk Material Lokal Polypropylene Impact Copolymer untuk Mendukung Industri Otomotif Nasional di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/1).

Menurut Menperin, kerja sama antara TMMIN dengan CAP ini akan mendorong pertumbuhan industri komponen kendaraan di dalam negeri.

“Secara nasional, saat ini terdapat sekitar 1.500 perusahaan komponen otomotif di Indonesia yang terbagi dalam tier 1 sampai 3,” ujarnya. Selain itu dapat menjadi wahana transfer teknologi dan pengembangan sumber daya manusia di sektor otomotif.

Airlangga menjelaskan, industri otomotif nasional saat ini mampu memenuhi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang berbasis bahan baku lokal sekitar 60 persen.

“Kami akan dorong terus hingga 90 persen pada tahun 2018-2019 dengan basis bahan baku plastik dan baja,” ungkapnya menambahkan untuk kendaraan jenis low cost and green car (LCGC) telah mencapai TKDN sebanyak 80-90 persen.
Melalui kesempatan tersebut, Airlangga juga menyampaikan apresiasi kepada kedua perusahaan atas komitmennya untuk meningkatkan penggunaan kandungan dalam negeri, menjadikan Indonesia sebagai basis produksi serta memberdayakan mitra lokal dalam kegiatan produksinya sehingga akan menopang pertumbuhan industri nasional.

“Dengan didukung beberapa kebijakan pemerintah dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif, kerja sama ini menjadi momentum penting untuk memaksimalkan kinerja industri kita terutama di sektor otomotif sekaligus guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional,” paparnya. (ril/sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar