Jadikan Kekalahan Jadi Cambuk Memperbaiki Diri

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Menderita kekalahan dalam suatu pertandingan, khususnya pertandingan sepak bola,  jangan dianggap suatu kesalahan dan tak perlu disesali. Bahkan jadikan kekalahan itu sebagai cambuk untuk  memacu semangat para pemain agar lebih semangat lagi.

Sebaliknya jika menang jangan jadi sombong, pecundang, tapi harus semakin merendah dan mengenali diri kemudian masing-masing pemain semakin gigih meningkatkan kemampuan.

‘Kekalahan itu, merupakan kesempatan berharga untuk lebih mengenali diri kita,’’ kata Pembina Tunas Asa Soccer Club (TASC), Agus saat berbincang dengan tubasmedia.com usai buka puasa bersama di Jakarta, Sabtu malam.

Agus bersama pengurus dan para pelatih (coach) TASC serta siswa-siswa dari U5 sampai U14 dan para orang tua siswa menggelar acara buka puasa bersama yang disponsori Istana Baby di RM Aldan, Jakarta.

Agus menyebut TASC binaannya, kini mendidik sekitar 60 siswa dari berbagai kelompok usia. Kendati TASC spesialisasi membina pemain bola, namun dasar pembinaan tidak lepas dari pembangunan karakter.

Membangun dan membina karakter anak-anak katanya merupakan langkah yang teramat penting, khususnya upaya menjauhkan anak-anak dari kenakalan remaja dan pemuda.

Membina anak-anak kelompok U5-U14 dalam dunia sepakbola punya keunikan masing-masing. Tidak sedikit diantara siswa yang senangnya masih sebatas  main-main, maklum usianya yang masih sangat belia, sementara di lapangan hijau, semua pihak wajib tunduk pada aturan main dan harus disiplin.

‘’Nah disinilah kita mulai masukkan pembangunan karakter, tanpa ada rasa dipaksa, anak-anak secara otomatis menerima semua aturan di lapangan hijau dan kami harapkan disiplin di lapangan hijau boleh diterapkan oleh para siswa di segala tempat, di sekolah atau di rumah,’’ katanya.

Satu hal yang menurut Agus perlu disuarakan kepada para orang tua siswa adalah perlunya dukungan dan kerjasama antara orang tua dengan coach.

Orang tua siswa harus menyerahkan sepenuhnya pendidikan persepakbolaan kepada para coach dan jangan sampai dicampuri. Sebab pada akhirnya, yang tau dan paham kemampuan seorang siswa tentang sepakbola, adalah coach-nya, bukan orang tua. (sabar) 

 

 

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar