Jangan Anggap Remeh Kenaikan Harga Bawang

Oleh: Sabar Hutasoit

Ilustrasi

Ilustrasi

BELUM lagi berakhir hiruk pikuk meroketnya harga daging sapi di Indonesia yang harganya mencapai Rp 90 ribu per kilonya dan telah membuat Indonesia menjadi dikenal sebagai negara penjual daging sapi termahal di dunia, kini warga NKRI kembali dibuat bingung melejitnya harga bawang putih.

Harga bawang putih yang normalnya berada pada kisaran Rp 6.000 – Rp 10.000 per kilo, kini tembus ke angka Rp 100.000 per kilo. Amat membingungkan sebab sesuatu angka yang tidak masuk akal dan sebuah kenaikan harga yang belum pernah terjadi.

Anehnya, meroketnya harga bawang ini tidak serta merta membuat kehidupan petani bawang menjadi semakin sejahtera. Pasalnya, dengan kenaikan yang aneh itu, menyebabkan berkurangnya pembeli dan akibatnya stok bawang di gudang akan menjadi busuk. Dan jika demikian, kerugianlah yang akan dinikmati para petani.

Ada suara yang mengatakan kenaikan harga daging sapi diduga karena adanya praktek kartel dan diduga pula praktek kartel serupa terjadi di komoditas bawang membuat harga produk pertanian itu meroket. Jika sinyalemen itu benar adanya dan dapat dibuktikan secara nyata, pihak yang paling bertanggungjawab atas semua keadaan yang menyengsarakan masyarakat ini adalah Menteri Pertanian Suswono.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian gagal menjaga kestabilan harga-harga produk pertanian dan juga peternakan. Tidak jelas apa penyebabnya instansi pemerintah itu bisa gagal menjaga kenyamanan dan keamanan masyarakat.

Kenaikan harga komoditas seperti bawang putih sebenarnya yang paling menderita adalah masyarakat pemilik usaha kuliner. Mereka-mereka inilah yang kewalahan. Untuk mengikuti kenaiakn bahan baku masakan itu, mereka harus menaikkan harga barang dagangan sebagai imbas dari kenaikan harga sejumlah bahan baku tersebut.

Tapi jika dinaikkan, konsumennya pasti protes. Sebut saja misalnya pedagang bakso. Mereka harus menaikkan harga bakso senilai Rp500/porsi sebagai konsekuensi kenaikan harga daging sapi dan bawang putih. Selain itu, ia juga menaikkan harga makanan lain rata-rata Rp500/porsi.

Terutama untuk makanan yang berbau sapi harga naik Rp500/porsi. Tidak cuma bawang putih, bawang merah, cabai dan bahan baku lain juga naik. Menaikkan harga makanan bagi para pengusaha kuliner bukan langkah yang gampang akan tetapi menjadi opsi paling memusingkan. Pasalnya, pihaknya tidak bisa mengurangi penggunaan bumbu bawang putih dan bawang merah karena dapat mengurangi cita rasa makanan.

Bagi pengusaha besar, kerugian masih bisa ditutup oleh penghasilan dari kegiatan lain, namun bagi pengusaha kecil, kenaikan harga ini teramat memberatkan sehingga para pemangku kepentingan diharapkan segera turun tangan untuk member solusi terbaik.

Pemerintah sudah harus dan saatnya bertindak mengatasi polemik komoditas impor tersebut. Di satu sisi, pemerintah harus dapat membatasi barang impor yang masuk ke Indonesia. Selain itu, mereka juga harus dapat menstimulan petani agar dapat menanam komoditas bawang.

Jangan sampai kebijakan impor ini justru membanting harga komoditas dalam negeri. Sehingga petani enggan menanam bawang putih dan bawang merah. Indonesia seharusnya bisa swasembada.

Tampaknya pemerintah juga tidak boleh menganggap remeh kenaikan harga bawang yang terjadi saat ini. Pemerintah-pun sepertinya harus mau belajar dari kenaikan harga kedelai yang membuat banyak usaha gulung tikar dan membuat produsen tahu-tempe mogok berproduksi.

Janganlah sampai petani bawang juga dan dunia usaha yang terkait dengan bawang meniru langkah produsen tahu-tempe dengan mogok kerja dan mogok menanan bawang. Salah satu langkah yang harus ditempuh pemerintah adalah menghilangkan praktek kartel. ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar