Jika Emak-emak Dipolitisasi

Oleh; Sabar Hutasoit

 

SAAT musim kampanye, yang namanya suara pasti dimanfaatkan para petarung. Entah suara dari mana-pun itu, yang penting bank suara mereka bisa penuh sehingga memenuhi target untuk tampil menjadi pemenang.

Namanya saja pertarungan politik. Tidak ada yang abadi kecuali kepentingan. Artinya, untuk mendukung kepentingan itu, segala hal akan dijadikan abadi dan bila perlu menghalalkan segala cara. Yang penting berkuasa.

Sikap petarung juga tiba-tiba menjadi sayang kepada semua pihak, mulai anak kecil yang ingusan hingga kakek nenek yang sudah pikun, terlihat akan disayang. Bila perlu si petarung akan segera mengambil sapu tangan untuk membersihkan ingus si anak kecil, dengan harapan orang tua si anak akan memilih dia kelak pada Pilpres mendatang. Setelah itu akan dilupakan untuk selamanya.

Nah, saat ini tiba-tiba pula kelompok emak-emak disayang salah satu kubu yang ingin bertarung pada Pilres 2019. Bahkan kepada emak-emak sepertinya diberi panggung untuk ‘berkoar-koar’ sejatinya pemain politik.

Emak-emak itu tampaknya dipolitisasi. Disruh ngomong dengan nada politik, belum tentu yang diomongon itu sesuai data yang ada. Yang penting emak-emak yang nota bene tidak faham apa-apa tentang politik dan ekonomi, disuru cuap-cuap di depan kamera lalu di-share di media sosial.

Anehnya, yang diomongin emak-emak itu adalah permasalahan ekonomi secara nasional, bahkan merangsek pada ekonomi internasional, soal utang segala dan pinjam meminjam dengan dunia internasional yang isinya secara keseluruhan sangat negatif terhadap pemerintah sekarang. Sudah barang tentu emak-emak yang bersuara di kamera media sosial itu ada yang menyutradarai.

Hanya saja, sang sutradara itu sudah pasti mencekoki si emak-emak tadi sesuai dengan selera kubunya, hanya untuk menjelekkan rivalnya, tanpa memikirkan efeknya kepada si emak-emak yang disuru menyuarakan suara kebohongan karena tak sesuai dengan data.

Dipolitisasi

Kasihan emak-emak yang tidak tau menahu tentang politik, harus kita paksa bicara politik hanya untuk kepentingan diri kita sendiri. Perempuan milenial Indonesia saja sudah menyarakan ketidaksetujuannya mempolitisasi emak-emak yang mereka suarakan melalui gelar aksi unjuk rasa damai di depan Gedung Bawaslu, Jakarta Pusat.

Perempuan milenial Indonesia ini mendesak Bawaslu agar segera turun tangan menghentikan politisasi emak-emak di Pilpres 2019 karena dianggap tidak pantaslah menyeret-nyeret kaum emak-emak untuk ikut berorasi politik kendati hanya melalui medsos.

Biarkan kaum emak-emak hanya penikmat pesta demokrasi, tidak perlu digadang-gadang hanya untuk menyebut dengan seratus ribu rupiah, ke pasar hanya bisa membeli cabe dan bawang karena harga-harga mahal.

Padahal, itupun tidak terlalu benar.

Perempuan milenial Indonesia itu beberapa waktu lalu mendatangi Gedung Bawaslu di Jalan MH Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat. Sambil membawa spanduk dan poster, pengunjuk rasa yang keseluruhan merupakan kaum ibu-ibu ini, meneriakkan tuntutan agar Bawaslu bertindak tegas adanya praktik politik menyimpang termasuk soal urusan emak-emak.

Di tengah orasi para pengunjuk rasa juga membacakan deklarasi save emak-emak. Isi deklarasi itu di antaranya menolak pelibatan emak-emak dalam mobilisasi dan keterlibatan politik praktis pada pemilu dan pilpres 2019 mendatang.

Kaum emak-emak yang umumnya lugu, walau ada juga yang kepingin tampail di kamera, terlihat senang didatangi dari salah satu kubu capres/cawapres. Disayang, dipuji, diberi senyum dan diumbar sejuta janji-janji manis sedianya janji kampanye. Setelah itu akan dilupakan untuk selamanya. Emak-emak itu hanya dibutuhkan pada masa kampanye. (penulis seorang wartawan)

Berita Terkait

Komentar

Komentar