JK: Ibadah Kuat, Akidah Kuat, Hubungan Antarmanusia Melemah

BENGKULU, (tubasmedia.com) – Wakil Presiden Jusuf Kalla memberikan otokritik terhadap Muslim saat memberikan pidato dalam penutupan Tanwir Muhammadiyah di Gedung Balai Raya Semarak Bengkulu, Minggu (17/2/19).

“Agama kita telah menjadi bagian dari pada sesuatu hal yang banyak menurunkan kebaikan. Tapi juga tentu pengaruh agama banyak juga terjadi masalah-masalah yang besar,” ujar Kalla.

Kalla mengatakan, dari 55 negara yang berpenduduk mayoritas Islam di dunia, sebanyak 15 negara diantaranya terjadi konflik. Kalau dahulu konflik untuk kemerdekaan, sekarang konfliknya antarsesama umat. Kalla memberi contoh konflik di Suriah antara pemerintah dengan rakyatnya, Saudi Arabia dengan Yaman, Afghanistan dengan Afghanistan, Libya dengan rakyatnya, Nigeria antara pemerintah dengan rakyatnya, atau Iran dan Irak pada beberapa tahuan silam.

Kalla bersyukur hal-hal seperti itu telah banyak berkurang di Indonesia. “Saya tidak katakan habis karena di beberapa tempat masih terjadi seperti di Papua,” ujarnya.

Selain soal konflik di negara Islam, Kalla juga menyebut umat Islam masih lemah dalam menerapkan tata nilai Islam. Sebaliknya, tata nilai Islam telah dipraktikkan oleh negara-negara non-Islam seperti soal kejujuran, kebersihan, kedisiplinan dan ketertiban.

Kalla merujuk hasil penelitian Prof Scheherazdes S Rehman dan Prof Hosen Askari dari George Washington University dalam penelitian itu. Ia mengatakan, nilai-nilai Islam—bukan ibadah atau akidah—justru dipraktikkan oleh negara-negara seperti New Zealand, Norwegia, Swedia, atau Jepang.

Semua negara berpenduduk mayoritas muslim seperti Malaysia, Arab Saudi, atau Indonesia, justru kalah jauh peringkatnya dengan negara-negara tersebut.

“Indonesia jauh berada di belakang. Negara yang penduduk Islam yang terdekat, yang terbaik, menurut ukuran itu Malaysia nomor 33. Saudi Arabia nomor 44 walaupun dia memberlakukan hukum Islam yang keras. Indonesia nomor 144 Jauh sekali,” ujarnya.

Menurut JK, umat Islam itu sudah luar biasa dalam akidah dan ibadahnya, namun masih lemah dalam hubungan antarsesama. “Masjid-masjid (di Indonesia) yang jumlahnya hampir sejuta itu penuh. Habluminallah kuat. Ibadah kuat, akidah kuat. Yang melemah adalah hubungan antarmanusia. Karena itu kita butuh pencerahan,” ujar Kalla. Karena itu, menurut Kalla, tema Tanwir Muhammadiyah “Beragama yang Mencerahkan”, sangat relevan. Di akhir pidatonya, Kalla menabuh dol alat musik khas Bengkulu sebagai simbol ditutupnya kegiatan tanwir Muhammadiyah di Bengkulu. (red)

Berita Terkait

Komentar

Komentar