Kemenperin Bikin Alat Pantau Kualitas Udara dan Pengolah Air Limbah Industri

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Kementerian Perindustrian fokus pada kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) yang aplikatif untuk mendukung peningkatan produktivitas dan daya saing sektor industri. Salah satu temuan risetnya adalah teknologi pemantauan kualitas udara secara real-time (Real Time Emission Monitoring) dan pemantauan air secara terus menerus melalui ozonasi katalitik.

Inovasi ini merupakan hasil kerja Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI) Semarang.

“BBTPPI Semarang sebagai salah satu unit teknis di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin terus melakukan inovasi litbang untuk mendukung implementasi industri 4.0 dengan tetap mengacu kepada visi menjadi pusat unggulan untuk litbang teknologi dan layanan teknis di bidang industri hijau,” kata Kepala BPPI Kemenperin Ngakan Timur Antara di Jakarta, Rabu (31/7).

Ngakan menegaskan, upaya yang dilakukan BBTPPI Semarang sejalan dengan program prioritas Making Indonesia 4.0, yang salah satu poinnya adalah mengakomodasi standar-standar keberlanjutan.

“Misalnya memastikan pelaku usaha di era industri 4.0 berwawasan industri hijau,” tuturnya.

Menurut Kepala BPPI, industri hijau adalah sebuah konsep yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh pelaku usaha, yaitu dalam proses produksinya menerapkan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan.

“Jadi, salah satu esensi dari industri 4.0 adalah industri yang ramah lingkungan dan sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs),” tegasnya.

Ngakan mengapresiasi hasil riset BBTPPI Semarang yang dapat dimanfaatkan untuk mengelola limbah cair dan gas yang dikeluarkan oleh industri. Alat tersebut dibuat untuk mengurangi pencemaran lingkungan.

“Jadi, Ini bisa meminimalkan hasil samping dari industri, terutama dalam penggunaan air. Karena industri tertentu sangat berkaitan erat dengan air limbah yang dihasilkan, maka air yang keluar harus memenuhi baku mutu lingkungan,” paparnya.

Ngakan pun berharap, air bersih yang dihasilkan dari pengolahan ozonasi katalitik bisa dimanfaatkan kembali oleh industri yang menghasilkannya. (sabar)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar