Kemenperin Minta Dunia Usaha Giatkan Industri Daur Ulang Plastik

BOTOL DAUR ULANG -Direktur Industri Kimia Hilir, Ditjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Taufiq Bawazier (kanan), bersama pembicara lainnya dalam “Media Workshop”, mengamati botol daur ulang yang digunakan sebagai kemasan air minum. -tubasmedia.com/sabar hutasoit

TANGERANG, (tubasmeda.com) – Pelaku industri nasional diminta untuk membuat terobosan dalam membantu menangani permasalahan sampah nasional dengan menggiatkan program daur ulang plastik untuk digunakan kembali sebagai bahan baku industri kemasan.

Hal itu diutarakan Direktur Industri Kimia Hilir, Ditjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Taufiq Bawazier dalam Media Workshop bertajuk; “Inovasi & Kontribusi Industri Menerapkan Model Pengelolaan Sampah Plastik yang Efektif untuk Menanggulangi Permasalahan Sampah di Indonesia” di Hotel Grand Zuri BSD, Tangerang, Senin (10/12).

Taufiq menjelaskan bahwa plastik-plastik bekas tersebut sejatinya bukan sampah, melainkan bahan baku industri kemasan yang masih membutuhkan proses teknologi melalui industri daur ulang. Dan untuk mengumpulkan plasik-plastik bekas dimaksud dibutuhkan tenaga pemulung.

Karena itu lanjut Taufiq, pemulung dengan industri daur ulang plastik adalah pejuang sejati yang ramah lingkungan dan ramah kemanusiaan dimana ketika mereka melakukan pekerjaannya, mereka mendapatkan penghasilan dan pekerjaan yang mereka kerjakan sekaligus membuat lingkungan menjadi bersihan. ‘’Mereka benefit nasional sekaligus penggerak devisa,’’ katanya.

Taufiq mencatat kebutuhan plastik sebagai bahan baku industri mencapai 5,6 juta ton per tahun. Sebanyak 2,3 juta ton sudah dipenuhi oleh industri plastik nasional. Lalu 1,67 juta ton dipenuhi dari impor bijih plastik virgin, sebanyak 435.000 ton dipenuhi dari impor limbah plastik Non B3.

Seperti diketahui, masalah sampah di Indonesia menjadi sorotan dunia setelah Dr Jenna Jambeck, peneliti dari University of Georgia, mentahbiskan Indonesia sebagai negara kedua yang paling banyak menyumbang sampah plastik ke laut dunia.

 

Meski masih meragukan validitas hasil riset Jambeck, Taufiq menyebut pelaku industri nasional harus bisa berkontribusi menangani permasalahan sampah di Indonesia dengan mendaur ulang sampah plastik sebagai bahan baku kemasan.

“Masalahnya, baru 1,1 juta ton plastik yang bisa dipenuhi oleh industri daur ulang,” kata Taufiq .

Sementara itu, Ketua Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) Christine Halim, menuturkan dengan semakin banyak perusahaan nasional yang melakukan kegiatan daur ulang, maka secara otomatis akan membantu mengurangi pencemaran lingkungan, menghemat energi, menghemat devisa impor plastik virgin, sekaligus memberi penghasilan untuk para pekerja sektor informal Indonesia.

Ia mencatat saat ini ada 360 perusahaan anggota ADUPI yang melibatkan 4 juta pemulung dalam menjalankan kegiatan produksinya.

“Kami ingin semakin banyak lagi industri makanan dan minuman yang memanfaatkan produk kemasan hasil daur ulang. Kalau di Indonesia saat ini sifatnya belum mandatori, baru sebatas kesukarelaan,” kata Christine.

Salah satu perusahaan yang menurut Christine sudah melakukan kegiatan daur ulang dengan baik adalah PT Tirta Investama, produsen air minum dalam kemasan merek AQUA.

Sustainable Development Director Danone Indonesia, Karyanto Wibowo, menyatakan perusahaannya siap menjadi industri minuman pengguna botol daur ulang pertama di Indonesia. Awal tahun depan, Danone-AQUA akan meluncurkan produk air mineral kemasan 1,1 liter yang botolnya 100% diproduksi dari plastik daur ulang.

Ia menuturkan botol daur ulang merupakan hasil produksi industri mitra Perusahaan di Bandung. Bahan baku flakes plastik dipasok dari enam titik pengepul binaan yang tersebar di Tangerang, Bandung, Bali, Lombok dan Kepulauan Seribu.

“Peluncuran produk air minum dalam botol plastik daur ulang awal tahun depan merupakan bentuk dari komitmen kami untuk menjaga lingkungan. Plastik seharusnya menjadi bahan baku dan tidak bertebaran di lingkungan sebagai sampah, oleh karena itu kami manfaatkan kembali,” kata Karyanto.(sabar)

 

Berita Terkait

  • Tidak Ada

Komentar

Komentar