Kemenperin Pacu Litbang IKM Berbasis Karet di Muara Enim

CENDERAMATA - Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Haris Munandar menerima cenderamata dari Bupati Muara Enim Muzakir Sai Sohar seusai penandatanganan MoU tentang Penelitian dan Pengembangan serta Penerapan Teknologi Industri Hilir di Muara Enim, Sumatera Selatan, 20 Oktober 2016. (tubasmedia.com/ist)

CENDERAMATA – Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Haris Munandar menerima cenderamata dari Bupati Muara Enim Muzakir Sai Sohar seusai penandatanganan MoU tentang Penelitian dan Pengembangan serta Penerapan Teknologi Industri Hilir di Muara Enim, Sumatera Selatan, 20 Oktober 2016. (tubasmedia.com/ist)

MUARA ENIM, (tubasmedia.com) – Kementerian Perindustrian memacu kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) pada industri kecil dan menengah (IKM) berbasis produk karet sebagai salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan petani karet di dalam negeri, seperti di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Langkah ini juga menjadi tantangan bagi pemangku kepentingan terkait khususnya pemerintah daerah dalam upaya penerapan teknologi, peningkatan produktivitas, dan penciptaan inovasi.

“Oleh karena itu, diperlukan kesepakatan yang sinergis dan komitmen kuat antara Bupati Muara Enim dengan Kemenperin untuk mengawali kerja sama penumbuhan IKM berbasis produk karet,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Haris Munandar di Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (20/10).

Untuk mewujudkannya, kesepakatan dituangkan dalam penandatanganan MoU tentang Penelitian dan Pengembangan serta Penerapan Teknologi Industri Hilir antara Kepala BPPI Kemenperin Haris Munandar dengan Bupati Muara Enim Muzakir Sai Sohar. “MoU ini sebagai payung utama perjanjian kerja sama yang lebih detail dan bersifat teknis dengan seluruh Balai Besar maupun Baristand di bawah naungan BPPI Kemenperin, khususnya dengan Baristand Industri Palembang,” ujar Haris.

Langkah nyata dalam Nota Kesepahaman tersebut, Baristand Industri Palembang berperan sebagai penyedia teknologi dan inovasi yang memberikan konsultansi kepada calon IKM tentang teknologi proses pembuatan barang karet baik melalui transfer teknologi, setting up mesin produksi vulkanisat karet maupun barang karet lainnya, serta melaksanakan pelatihan proses produksi untuk pemenuhan barang karet sesuai mutu Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Baristand Industri Palembang juga akan siap membantu untuk merintis jejaring kelembagaan dalam upaya penciptaan wirausaha mandiri dan teknik pemasaran yang bekerjasama dengan dinas terkait lainnya di Kabupaten Muara Enim,” tutur Haris.

Selama ini, lanjut Haris, Baristand Industri Palembang merupakan satu-satunya balai penelitian dan pengembangan (litbang) di wilayah Sumatera Selatan dan sekitarnya yang mempunyai kegiatan utama litbang di bidang teknologi proses produksi barang karet.

“Beberapa hasil litbangyasa dari Baristand Industri Palembang, diantaranya karet otomotif, aspal berkaret, karet untuk bahan bangunan, karet untuk alat kesehatan, ban vulkanisir dan lain-lain,” ungkapnya. Prototipe produk-produk tersebut terbukti mempunyai kualitas produk yang sesuai SNI dengan biaya produksi yang bersaing.

Bahkan, Baristand Industri Palembang juga sudah melakukan kontrak kerja sama dengan beberapa perusahaan, lembaga litbang lain, perguruan tinggi, maupun pemerintah daerah lain untuk bersinergi dalam penumbuh kembangan IKM berbasis karet alam maupun pelaksanaan kegiatan litbang di bidang teknologi proses produksi barang karet.

“Misalnya kerja sama dengan perusahaan alat-alat kesehatan, solid tyre, crumb rubber, Universitas Sriwijaya, Politeknik Jambi, Dinas Perindustrian Perdagangan beberapa Kabupaten, Dinas Perkebunan beberapa Kabupaten, Perguruan Tinggi Swasta yang lain dan juga Lembaga Litbang Daerah maupun kementerian lainnya,” sebut Haris.

Peningkatan Konsumsi Karet

Dapat disampaikan, dalam upaya peningkatan konsumsi karet alam dalam negeri, Kemenperin mendorong kemampuan industri nasional dalam menyerap karet alam. Pasalnya, konsumsi karet alam yang saat ini sebesar 580 ribu ton per tahun masih berpotensi untuk ditingkatkan.

Langkah yang perlu dilakukan untuk mendukung penyerapan karet alam, antara lain melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi eskpor barang karet serta menciptakan cabang-cabang industri baru seperti industri ban pesawat dan vulkanisir pesawat terbang yang berpotensi menyerap karet alam dan menghasilkan devisa nasional.

Selain itu, program peningkatan konsumsi karet alam dalam negeri perlu diiringi dengan sustainability dan pengembangan industri existing. Salah satunya adalah industri ban, sebagai sektor yang menyerap 45 persen atau sekitar 270 ribu ton dari total konsumsi karet alam dalam negeri. Saat ini, produk ban merupakan salah satu komoditi andalan ekspor dengan 70 persen total produksi diperuntukkan bagi pasar ekspor dan nilai ekspor mencapai USD 1,5 miliar per tahun.

Pada kesempatan yang sama, Muzakir mengatakan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani karet seperti mendongkrak produktivitas lahan karet melalui revitalisasi kebun, intensifikasi atau rehabilitasi tanaman, maupun peminjaman modal untuk pembibitan karet. “Peningkatan produktivitas kebun sangat penting, akan tetapi dirasakan tidak berdampak ekonomi yang signifikan secara langsung oleh petani,” tuturnya.

Untuk itu, menurut Muzakir, perlu adanya intervensi teknologi di level petani karet yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidupnya. “Saat ini, intervensi teknologi pada level petani kebun bukan lagi pengembangan dan peningkatan produktivitas lahan dengan klon tanaman baru, akan tetapi harus difokuskan pada inovasi penciptaan wirausaha mandiri yang berbasis lateks kebun maupun karet alam,” ujarnya.

Muzakir menjelaskan, Muara Enim merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan dengan luas daerah sekitar 7,300.50 km2.  Saat ini, Kabupaten Muara Enim menyumbang produk perkebunan utama yaitu kopi, karet dan kelapa sawit untuk wilayah Sumatera Selatan dengan luas areal perkebunan hampir 198.355 Ha.

Hasil produksi karet di perkebunan Kabupaten Muara Enim mencapai sekitar 180,000 ton/tahun, sementara untuk Provinsi Sumatera Selatan adalah 1,2 juta ton. Komoditi karet sebagian besar diusahakan oleh perkebunan rakyat atau 90 persen dari luas lahan perkebunan dengan hasil produksi berupa bahan olah karet, lump mangkok, sit angin, slab tebal dan slab tipis. (ril/sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar