Kemenperin Siap Pasok SDM Terampil

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Sumber daya manusia (SDM) yang terampil dan kompeten di bidangnya menjadi faktor penting meningkatkan produktivitas dan daya saing sektor manufaktur, selain modal dan teknologi.

Namun sayang, pemerintah khususnya kementerian dan lembaga yang menangani pendidikan, belum menyediakan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan kompetensi.

Demikian mengemuka dalam diskusi tentang pendidikan vokasi yang diselenggarakan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri (Puslitbang), Kementerian Perindustrian di Jakarta, kemarin. Hadir sebagai nara sumber, Sekjend Kemenperin, Haris Munandar dan Kepala Pusdiklat, Mujiyono.

Karena itu kata Haris, pihaknya melakukan terobosan melalui berbagai langkah dengan tujuan tersedianya tenaga kerja Indonesia yang kompeten dan siap pakai.

Kementerian Perindustrian katanya harus bisa memasok kebutuhan industri aikan tenaga kerja yang kompeten. Salah satunya melalui lulusan program pendidikan vokasi, mengingat.

“Apalagi pemerintah tengah memacu investasi di sektor industri agar dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Apabila, investasi ini terealisasi, maka diperlukan tenaga kerja untuk pembangunan dan proses produksinya,” kata Haris.

Berdasarkan instruksi Presiden Joko Widodo, katanya, pemerataan industri harus tersebar ke seluruh wilayah Indonesia, sehingga Kemenperin memfasilitasi pengembangan kawasan industri di luar pulau Jawa.

“Permasalahannya, ketika pabrik itu dibangun di remote area, karena terbatas dengan infrastruktur dan susah mendapatkan tenaga kerja kompeten,” katanya.

Dia beri contoh di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah yang kini menjadi pusat industri smelter berbasis nikel. Di awal pembangunannya sangat sulit mencari tenaga kerja dari masyarakat sekitar yang mampu mengoperasikan peralatan dan teknologi yang dibawa oleh investor Tiongkok.

“Pada proses perekrutan, masyarakat di sana lebih banyak yang cocok jadi keamanan,” ujar Haris.

Perusahaan-perusahaan tersebut akhirnya membawa pekerja ahli dari negara asalnya untuk membagi pengetahuan melalui pelatihan dan pendampingan kepada tenaga kerja lokal.

“Mereka di Indonesia hanya sementara untuk menyelesaikan masa konstruksi,” tegas Haris. Oleh karena itu, Kemenperin telah membangun Politeknik Industri Logam Morowali untuk mencetak SDM sesuai permintaan industri.

“Kami menargetkan dapat menghasilkan pekerja kompeten yang tersertifikasi sebanyak 220 ribu orang di tahun 2017. Setidaknya kami berkontribusi separuhnya dari kebutuhan industri melalui pendidikan vokasi,” jelas Haris.

Untuk mencapai sasaran dalam menciptakan SDM industri yang kompeten, terdapat empat program strategis yang sedang dijalankan Kemenperin, yakni melalui pembinaan dan pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang link and match dengan industri.

Selanjutnya, pelaksanaan Diklat 3in1 (pelatihan-sertifikasi-penempatan kerja), pemagangan industri, serta sertifikasi kompetensi. Kegiatan-kegiatan tersebut sejalan dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2015 tentang Pembangunan Sumber Daya Industri.

“Kami sudah teruji dan terbukti. Makanya kami mendapatkan tugas dari Bapak Presiden untuk menjadi role model dalam pelaksanaan pendidikan vokasi yang link and match dengan industri,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri, Mujiyono, bahwa seluruh SMK di bawah binaan Kemenperin memiliki spesialisasi, berbasis kompetensi serta link and match dengan industri. Selain itu, didukung dengan sarana dan prasarana yang lengkap dan modern.

“Misalnya, ada ruang workshop, laboratorium dan pabrik mini atau teaching factory,” ujarnya.

Saat ini, Kemenperin memiliki sembilan SMK, antara lain di Banda Aceh dengan spesialisasi pengolahan produk berbasis kelapa sawit, Bandar Lampung spesialisasi pengolahan karet dan singkong, Yogyakarta spesialisasi proses produksi minyak atsiri, Pontianak spesialisasi teknik mesin dan kimia, serta Makassar spesialisasi pengolahan kakao.

“Semua SMK kami tersertifikasi kompetensi, bahkan sudah ada yang go international,” ungkap Mujiyono.

Kemudian, terdapat sembilan Politeknik dan satu Akademi Komunitas dengan beragam spesialisasi pendidikan, di antaranya berbasis teknologi industri pangan, komponen kendaraan, kimia, produk kulit, tekstil, dan pengolahan logam.

“Di Politeknik STTT Bandung akan dibuka program S2 untuk tekstil. Tahun ini akan dibangun Politeknik khusus furniture di Kendal, Jawa tengah dan Akademi Komunitas Industri Logam di Bantaeng, Sulawesi Selatan,” imbuhnya.

Menurut Mujiyono, ke depannya, Politeknik dan Akademi Komunitas akan didirikan mendekati kawasan industri karena untuk memudahkan proses penyerapan tenaga kerjanya.

“Kami juga mengembangkan spesialisasinya sesuai kawasan industri tersebut. Misalnya, tahun 2018, Politeknik khusus minyak sawit akan dibangun di kawasan industri Dumai, Riau dan Politeknik khusus baja di kawasan industri Batulicin, Kalimantan Selatan,” sebutnya.

Lebih lanjut, Kemenperin melaksanakan program Diklat 3in1 (pelatihan-sertifikasi-penempatan kerja) di seluruh Balai Diklatnya. Periode tahun 2014-2016, jumlah lulusannya sebanyak 37.334 orang. Pada 2017, ditargetkan sebanyak 22 ribu tenaga kerja kompeten dapat disediakan melalui program diklat dengan sistem 3in1 tersebut.

Mujiyono juga menjelaskan, Kemenperin telah meluncurkan Program Pendidikan Vokasi Industri (link and match SMK dengan industri) Wilayah Provinsi Jawa Timur.

Pada tahap pertama, di peluncuran program pendidikan vokasi industri tersebut, telah dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama antara 49 perusahaan industri dengan 234 SMK di Provinsi Jawa Timur. Hingga tahun 2019, sasarannya adalah sebanyak 1.775 SMK meliputi 845.000 siswa untuk dikerjasamakan kepada 355 perusahaan industri.

Pada bulan Maret 2017, akan diluncurkan kembali program pendidikan vokasi industri untuk wilayah jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta. Ditargetkan, akan dilakukan kerja sama antara 250 SMK dengan 50 industri.(sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar