Kemenperin Susun Kurikulum Demi Mencetak SDM Industri Kompetitif

SEMARANG, (tubasmedia.com) – Kementerian Perindustrian terus memacu ketersediaan dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) sektor industri. Langkah strategis yang telah dilakukan, salah satunya adalah pelaksanaan pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri.

“Sebagai tindak lanjut dari program pendidikan vokasi tersebut, beberapa program dan kegiatan yang telah kami laksanakan, di antaranya adalah penyelarasan kurikulum dan silabus di SMK sesuai dengan kebutuhan industri,” kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (16/7).

Menurut Eko, dari hasil penyelarasan kurikulum tersebut, Kemenperin bersama stakeholders telah selesai menyusun materi pembelajaran tambahan sebanyak 34 kompetensi keahlian bidang industri bagi siswa SMK.

“Hasilnya ini sudah kami sampaikan kepada Kemendikbud, Dinas Pendidikan Provinsi terkait dan SMK yang bersangkutan,” tuturnya.

Hingga saat ini, Kemenperin telah menggandeng 855 industri dan 2.612 SMK dalam program pendidikan vokasi yang mengusung konsep link and match. Dari hasil ini, sebanyak 4.997 perjanjian kerja sama telah ditandatangni antara pihak industri dan SMK. Satu perusahaan bisa membina lebih dari satu SMK.

Dalam mendukung program itu, sepanjang tahun 2018, Kemenperin telah melakukan kerja sama dengan Institute of Technical Education (ITE) Singapura dalam rangka menyelenggarakan pelatihan untuk kepala SMK dan guru produktif bidang teknik permesinan, teknik instalasi pemanfaatan tenaga listrik dan otomasi industri yang diikuti sebanyak 100 peserta.

“Kemenperin juga bekerjasama dengan Formosa Training Center Taiwan untuk menyelenggarakan pelatihan guru produktif bidang machine tools sebanyak 100 orang, kemudian pelatihan teknis guru produktif sebanyak 508 orang dan magang guru di Industri sebanyak 1.233 orang,” paparnya.

Selain itu, Kemenperin telah melakukan pelatihan pedagogik bagi instruktur dari industri yang akan mengajar di SMK. Program yang disebut silver expert ini bekerjasama dengan KADIN Indonesia dan IHK (KADIN) Trier Jerman untuk 20 orang peserta dan diberikan sertifikasi internasional. (ril/sabar)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar